Pada zaman dahulu kala ada seekor burung pipit yang bernama si Tinggi Hati. Si Tinggi Hati tidak menyadari bahwa ia dilahirkan oleh induknya berupa sebutir telur. Demikian pula kakak-kakak dan adiknya yang semua berjumlah lima. Si Tinggi Hati tidak menyadari betapa kedua orang tuanya itu menderita sejak mengandung, melahirkan, mengerami hingga mencarikannya makan. Tahunya hanyalah ia hidup dan ingin memenuhi nafsunya sendiri.

Induknya merasa prihatin dan sedih mengetahui tingkah laku anaknya yang satu ini. Tidak seperti anak anaknya yang lain, setiap pagi memuji kebesaran Tuhan, rajin mencari makan, selalu menurut nasihat orang tuanya, suka beramal dan tidak congkak. Si Tinggi Hati memang anak keterlaluan.

Pada setiap pagi sebelum matahari terbit, si Tinggi Hati marah-marah mendengar kelima saudaranya bernyanyi atau mengaji memuliakan asma Allah. Ia lebih suka tidur mendengkur hingga bangun kesiangan.

Di saat saudara-saudaranya terbang ikut rombongan untuk mencari makan, si Tinggi Hati hanya tinggal diam di sarang. Ia Iebih senang bermalas-malas sambil bersolek mengelus sayap dan bulu-bulunya yang mulai tumbuh indah.

Pada waktu induknya datang, Ia pura-pura menangis kelaparan dan minta makan. Induknya memberi nasihat agar si Tinggi Hati segera belajar terbang. Namun, si Tinggi Hati tidak mau menurut nasihat orang tuanya itu. Bahkan, semua pelajaran yang baik dan induknya tidak pernah digubris. Si Tinggi Hati juga tidak suka beramal. Ia sangat kikir, bahkan suka merebut makanan milik orang lain.

Setelah ia mulai terbang, ia suka menghina saudara saudaranya dan teman-teman Iainnya.

“Akulah burung pipit yang paling cepat terbangnya!” kicau si Tinggi Hati sambil mengepak-ngepakkan sayapnya.

“Anakku… seharusnya engkau bersyukur kepada Tuhan apabila engkau diberi kepandaian terbang paling tinggi dan paling cepat. Jangan sombong, Anakku. ” kata induknya dengan lemah lembut.

“Aku pandai terbang karena hasil latihanku yang keras, ibu. Badanku kuat dan bulu-buluku bagus berkat usahaku yang ulet, kerja keras, dan pandai mencari makan!” bantah si Tinggi Hati.

“Tapi itu semua pemberian Tuhan, nak.” kata Ibunya menasehati.

“Ah, Ibu!” potong si Tinggi Hati. “Kiranya Ibu hanya berolok-olok padaku agar aku ikut mengaji setiap pagi!”

Induk burung pipit semakin sedih mendengar jawaban anaknya yang selalu membantah nasihat orang tua itu. Semakin sedih induknya jika melihat bahwa si Tinggi Hati suka bersolek dan suka pamer kepada para tetangganya akan bulu-bulunya yang indah itu.

Pada suatu hari si Tinggi Hati berkicau mencela sepasang burung pipit tetangganya yang sedang sibuk membuat sarang di sela sisir-sisir pisang yang masih muda.

“Mengapa engkau membuat sarang di sela sisir-sisir buah pisang yang masih muda? Buahnya kecil-kecil sehingga ruangannya sempit dan pengap!” demikian cela si Tinggi Hati kepada tetangganya itu.

“Dengan ramah tetangganya itu menjawab, Aku hanya menurut nasihat Ayah dan lbuku. Katanya, siapa yang menurut nasihat orang tua akan hidup selamat, aman, dan tenteram.”

“Kau memang tolol!” kata si Tinggi Hati. “Semua tetangga di sini memang tolol semua! Mana mungkin rumah sempit dan pengap dapat membawa keselamatan, keamanan, dan ketenteraman?”

“Biarlah!” Jika kamu tidak suka melihat kami, lebih baik pergi sajalah!” kata tetangga itu kepadanya.

“Lihat saja nanti!” Jika aku akan membuat rumah, tentu kupilih tempat yang nyaman. Akan kucari tandan pisang yang tua, buahnya besar-besar sehingga ruangan di sela sisir-sisirnya cukup luas. Tentu nyaman!”

Demikianlah, pada suatu saat si Tinggi Hati mulai berpasangan, dan kemudian istrinya hendak bertelur, dicarinya tempat sesuai selera.

Berhari-hari, setiap waktu senggang setelah selesai mencari makan, ia terbang ke sana kemari bersama istrinya mencari tandan pisang tua yang besar-besar.

“Anakku… menurut nasihat orang-orang tua sejak nenek moyang kita, jika hendak membuat sarang, jangan memilih tempat pada tandan pisang yang tua. Pilihlah tandan pisang yang masih muda, bir sempit asalkan aman.” kata induknya mengingatkan.

“Ah, Kuno!” bantah si Tinggi Hati. “Sebagal orang pandai, pendapat semacam itu harus dirombak!”

“Anakku, kata induknya lagi. “Setelah engkau berumah tangga dan setelah istrimu bertelur kemudian menetas, didiklah anak-anakmu kelak agar menjadi makhluk yang saleh. Pertama-tama, ajarilah ia mengaji untuk memuliakan nama Tuhan. Kedua, harus rajin mencari makan. Ketiga, selalu menurut nasihat orang tua. Keempat, suka beramal. Kemudian yang kelima, janganlah congkak.”

Setelah sarangnya jadi, si Tinggi Hati semakin sombong terhadap para tetangganya.

“Lihatlah!” kata si Tinggi Hati kepada setiap tetangga yang berkunjung menjenguk anak-anaknya.  “Lihat! Rumahku besar, indah, dan nyaman. Istriku cantik dan anak-anakku banyak! Semua itu berkat kepandaianku, kekuatanku, keuletanku, dan kemampuanku.”

Seekor burung pipit sahabatnya mengingatkan, “Hai si Tinggi Hati ! Jangan sombong! Semua yang ada pada kita adalah pemberian Tuhan.”

“Lagi-lagi kamu itu menunjukkan ketololanmu.” kata si Tinggi hati. “Kamu tidak berbeda dengan para tetangga yang tolol itu! Maka dan itu hidupmu melarat dan selalu kekurangan.”

“Oh, sahabatku. Sebenarnya kaya dan miskin itu terletak pada bagaimana kita berusaha. Kita sebagai makhluk ciptaan-Nya hanya wajib berusaha dan berdoa, hasil usaha Tuhan yang akan menentukan.”

“Tidak!” bantah si Tinggi Hati. “Bagi saya, nasib itu terletak dan hasil jerih payah kita sendiri. Siapa yang pandai pasti akan kaya, sedangkan yang tolol akan melarat.”

“Aku tidak sependapat dengan kata-katamu itu, sahabatku.” kata teman si Tinggi Hati. “Menurutku, meskipun pandai, jika Tuhan tidak memberkati, engkau pasti bernasib buruk dan jatuh miskin.”

Lalu temannya menambahkan lagi, “Sebaliknya, meskipun tolol, asalkan mendapat berkah Allah, tentu bernasib baik dan bisa kaya.”

“Kau ini menyebalkan sekali!” bentak si Tinggi Hati. Daripada kita berbantah, lebih baik pergilah kau dan sini!”

Mendengar kata-kata kasar semacam itu, teman si Tinggi Hati segera terbang menjumpai teman-temannya. Ia kemudian menceritakan kesombongan si Tinggi Hati yang keterlaluan itu.

Baru dua minggu berselang, pemilik pohon pisang tempat si Tinggi Hati bersarang itu datang membawa parang.

“Hmmm… pisangku yang ini sudah ada yang masak.” kata hati pemilik pohon pisang itu. “Kutebang saja pohon pisang ini, lumayan buat kenduri minggu depan.”

Si pemilik pohon pisang itu segera menebang batang pohon pisang tanpa memperdulikan jerit dan tangis anak si Tinggi Hati yang masih kecil-kecil itu.

Itulah sebabnya maka sampai sekarang tidak ada burung pipit yang mau membuat sarang pada tandan pisang yang sudah tua.

~~~~~~~~~~

Meskipun kisah ini hanyalah khayalan, namun ada baiknya kita dapat memetik nasihat dalam cerita ini. Jadi, orang harus mengutamakan ibadah, rajin berusaha atau bekerja mencari nafkah, tidak boleh membantah nasihat orang tua, suka beramal, dan tidak sombong.

Ingatlah sombong adalah pakaian Tuhan. Manusia tidak berhak untuk sombong. Teringat kembali kisah tentang Iblis yang diusir oleh Allah dari surga dan harus mendapatkan vonis neraka karena berlaku sombong. Karena sombong mendekatkan kita kepada neraka.

About these ads