You are currently browsing the tag archive for the ‘Turki’ tag.

Video di bawah ini saya dapatkan dari kawan saya Ikbal Akib. Video yang berisikan rekaman seorang gadis kecil lucu yang baru berumur 3 tahun yang sudah hafal sebagian isi Qur’an, bahkan juga tehnik membaca panjang-pendeknya. Balita lucu ini berasal dari Turki (bisa dilihat dari bahasanya) dan tentunya orang Turki memakai bahasa Turki bukan bahasa Arab. Karena itulah sungguh menakjubkan apabila ada seorang balita yang dapat menghafalnya dengan sangat baik.

Baca entri selengkapnya »

Kepahlawanan 9 orang pejuang kemanusiaan Mavi Marmara yang gugur mungkin tidak dirasakan oleh rakyat di Indonesia. Mungkin video panas Ariel lebih menarik ketimbang kisah perjuangan mereka. Di Turki sendiri kisah-kisah mereka banyak diceritakan kembali oleh orang-orang tua kepada anaknya, agar suatu hari anak mereka selalu mengingat perjuangan mereka demi mengantarkan ribuan ton makanan, obat-obatan, sandang, buku pelajaran, dan insinyur-insinyur yang akan membantu GAZA membangun kembali tempat tinggal dan kehidupan mereka.

Rasakanlah Anda duduk sejenak di sebuah bangku panjang di depan dapur kabin penumpang dek 3 kapal Mavi Marmara. Tadinya arahnya ke Gaza, saat itu dipaksa ke arah Ashdod. Tentara komando Israel sudah menguasai kapal. Serangan brutal baru saja selesai. Penjajahan kecil baru saja dimulai.

Di depan Anda, terbujur empat sosok jenazah. Tidak semua Anda kenal nama dan pribadinya. Tapi selama berhari-hari Anda bersama mereka. Solat bersama, berdoa bersama, makan bersama, bekerja bersama, menuju ke arah yang sama, dengan niat yang sama, mencari ridha Allah saja.

Baca entri selengkapnya »

Berikut beritanya saya kutip dari Republika :

Di gereja di Amerika Serikat, saat ini ada tren baru, yaitu menampilkan orang-orang yang keluar dari Islam (murtad) untuk memberi kesaksian bahwa benar Islam adalah agama perang. Umumnya, para murtad ini mengaku mereka adalah jebolan dari berbagai kamp-kamp jihad yang melatih mereka menjadi teroris andal.

Namun belakangan, klaim itu terpatahkan. Terutama sejak jati diri Ergun Mehmet Caner, pimpinan Liberty Baptist Theological Seminary terkuak. Selama ini, Caner selalu menggembar-gemborkan dirinya sebagai “Contoh nyata bagaimana kuasa Yesus menyelamatkan seorang yang dibesarkan sebagai seorang calon jihadist ke jalan yang benar.” Belakangan, kedok Caner terbuka bahwa dia tak pernah sama sekali bersentuhan dengan kamp-kamp semacam itu dan dia menjadi Kristen sejak remaja, jauh sebelum peristiwa Serangan 11 September 2001, hal yang sering dikaitkan dengan Muslim di Barat.

“Dr Caner telah menciptakan mitos tentang dirinya sendiri dan tampaknya sekarang akan terurai. Dia tidak pernah datang ke Amerika “melalui Beirut dan Kairo.” Dia tidak pernah dilatih sebagai fundamentalis Muslim. Dia tidak pernah terlibat dalam apa yang diklaimnya sebagai aktivitas jihad,” ujar Wade Burleson, seorang pendeta yang melayani Oklahoma.

Satu lagi, kata Wade, klaim Caner tentang dirinya pernah berdebat tentang keyakinan dengan cendekiawan Muslim kelas dunia di Nebraska atau beberapa kota lain di AS adalah bohong. Ia menyatakan memahami mengapa seseorang akan membuat atau memperindah masa lalu. “Tapi, tak ada banyak uang yang akan dibuat seperti menjual buku-buku dan DVD tentang Islam pasca 9/11,” sindirnya.

Pada tahun 2001, Caner melayani sebuah gereja di Colorado. Setelah Serangan 11 September, ia menjadi “komoditas panas” untuk berbicara tentang kejahatan Islam secara langsung. Sebelum “gelombang kejut” dari serangan teror itu mereda, ia bertutur dirinya dibesarkan di Turki sebagai anak seorang pemimpin agama dan dilatih di madrasah untuk berjihad melawan Amerika.

Sebuah penyelidikan independen membuktikan, Ergun Caner lahir pada tahun 1966 di Swedia dari pasangan Swedia-Turki. Orang tuanya tinggal di Ohio beberapa tahun kemudian dan bercerai ketika Caner berusia 8 tahun. Caner tinggal bersama ibu dan menghabiskan waktu dan hari libur keagamaan dengan ayahnya. Namun ia dibesarkan dalam tradisi Kristen oleh ibunya.

Hingga saat ini, keping DVD dan VCD masih beredar di pasaran. Promo dalam sampul depannya berbunyi, “Apakah Anda percaya Allah dapat mengubah hati seorang Muslim teroris mengeras? Mantan fundamentalis Ergun Caner, yang datang ke Amerika untuk menjadi teroris berbagi kesaksian tentang bagaimana dia datang untuk mengenal Yesus Kristus.”

Edgun Carner, pembohong yang mengaku ex-muslim

Lalu apa sajakah kebohongan Carner ini?

Baca entri selengkapnya »

Sultan Muhammad II Great BombardThe Great Bombard, senjata tercanggih Umat Islam pada abad ke 15

Tentara Kaum Muslimin adalah salah satu pasukan yang paling disegani sepanjang sejarah peperangan dunia. Bukan hanya dikenal dengan keberaniannya, tetapi juga dikenal dengan strategi perangnya, dan inovasi persenjataan. Misalnya penemuan Bubuk Mesiu (Gun Powder) pada abad ke-12 oleh para ilmuwan Islam. Dan tentu saja yang membuat bangsa Eropa terpukau adalah, kewajiban sholat yang masih dijalankan oleh pasukan kaum muslimin disaat jeda antara peperangan.

Selain penemuan teknologi-teknologi militer lainnya, salah satunya yang termasyur adalah Meriam Raksasa dari zaman Turki Ustmani, atau lebih dikenal dengan sebutan The Great Bombard. Ini adalah teknologi artileri paling maju dan paling kuat saat itu.

Sultan Muhammad II

Bagi para penggemar game RTS (Real Time Strategy) seperti Age of Empire, Rise of Nations, dsb. tentunya sudah tidak asing lagi mendengar salah satu senjata artileri paling ampuh di abad ke 15 hingga abad 18 ini. Meriam Raksasa Legendaris ini digunakan oleh Kerajaan Turki Ustmani untuk merebut kembali Kota Konstantinopel pada tahun 1453 dari tangan Pasukan Salib (Crussaders).

Mari kita lihat video illustrasi The Great Bombard :

Artileri super berat ini sebenarnya bernama “The Great Turkish Bombard” atau juga dikenal dengan nama “Dardanella Gun”, karena dipakai dalam perang melawan Kerajaan Britania Raya di selat Dardanella pada tahun 1807. Bangsa-bangsa di Eropa juga mengenalnya dengan sebutan “Muhammad Gun”. Hanya mendengar namanya saja nyali para jenderal dan pasukan-pasukan Eropa saat itu hancur berkeping-keping.

The Great Bombard

Senjata ini memiliki nama yang setara dengan kemampuannya. Dirancang pertama kali pada tahun 1450 oleh seorang insinyur bernama Munir Ali. Dengan panjang 518 cm (kaliber 8,2) dan berat 18,6 ton, senjata ini terdiri dari dua bagian yaitu bagian laras yang digunakan untuk menembakkan peluru yang terbuat dari bola-bola granit raksasa dengan bobot sebesar 300 Kg hingga 1600 Kg, dan bagian selongsong yang dapat menampung 7 bola granit raksasa atau 15 bola granit ukuran kecil. Karena itulah dalam sehari meriam ini hanya bisa menembakkan paling maksimal 15 kali. Jangkauan tembak The Great Bombard sangatlah luar biasa pada saat itu, yaitu dapat menjapai jarak satu mil!

The Great Bombard terbuat dari perunggu kualitas terbaik dan ditempa oleh para tukang besi terbaik saat itu, dan yang membuat meriam ini berbeda daripada meriam-meriam lainnya adalah ukiran seni yang mengandung unsur kebudayaan Islam pada masa itu. Untuk menembakkan satu kali saja konon membutuhkan banyak sekali bubuk mesiu atau Gun Powder.

GunpowderBubuk Mesiu atau Gun Powder

big ball bombardPeluru-peluru raksasa Great Bombard yang beratnya mencapai 1600 Kilogram!

The Great Bombard juga ditempatkan di benteng pertahanan, baik yang ada di darat maupun di daerah pantai. Selain digunakan sebagai artileri darat, The Great Bombard juga dipasangkan pada kapal-kapal perang turki, seperti jenis kapal galleon dan monitor. Dalam Pertempuran Dardanella, meriam itu mampu menenggelamkan enam kapal Sir John Ducksworth. Jangkauan meriam ini pun mampu melintasi selat sejauh satu mil.

bombard shipPosisi The Great Bombard pada Kapal Perang

ottoman navyKapal-kapal angkatan laut Turki Ustmani yang sedang menggempur kapal musuh

ottoman navy2Suasana peperangan di atas kapal. Sultan Muhammad II memimpin peperangan.

Pada tahun 1866, Sultan Abdul Aziz memberikan salah satu The Great Bombard yang digunakan pada perang Dardanella untuk Ratu Victoria saat kunjungan kenegaraannya ke Inggris. Dan kini The Great Bombard atau Dardanella Gun tersebut dapat anda nikmati di Fort Nelson, Portsmouth, Inggris. Senjata legendaris itu kini telah menjadi bagian dari koleksi paling berhaga Royal Armouries Kerajaan Inggris.

The Great Bombard2The Great Bombard yang terdapat di Royal Armouries Fort Nelson

The Great BombardThe Great Bombard yang terdapat di Royal Armouries Fort Nelson

fort nelsonRoyal Armouries di Fort Nelson, The British Empire

Penulis : Tio Alexander™

Membongkar Sebuah Kebohongan

Vlad_The_ImpalerKisah hidup Dracula merupakan salah satu contoh bentuk penjajahan sejarah yang begitu nyata yang dilakukan Barat. Kalau film Rambo merupakan suatu fiksi yang kemudian direproduksi agar seolah-olah menjadi nyata oleh Barat, maka Dracula merupakan kebalikannya, tokoh nyata yang direproduksi menjadi fiksi. Bermula dari novel buah karya Bram Stoker yang berjudul Dracula, sosok nyatanya kemudian semakin dikaburkan lewat film-film seperti Dracula’s Daughter (1936), Son of Dracula (1943), Horror of of Dracula (1958), Nosferatu (1922)-yang dibuat ulang pada tahun 1979-dan film-film sejenis yang terus-menerus diproduksi.

Lantas, siapa sebenarnya Dracula itu?

Vlad Dracul III The ImpalerVlad Dracul III The Impaler, sang pembantai dari Wallachia

Dalam buku berjudul “Dracula, Pembantai Umat Islam Dalam Perang Salib” karya Hyphatia Cneajna ini, sosok Dracula dikupas secara tuntas. Dalam buku ini dipaparkan bahwa Dracula merupakan pangeran Wallachia , keturunan Vlad Dracul. Dalam uraian Hyphatia tersebut sosok Dracula tidak bisa dilepaskan dari menjelang periode akhir Perang Salib. Dracula dilahirkan ketika peperangan antara Kerajaan Turki Ottoman – sebagai wakil Islam – dan Kerajaan Honggaria – sebagai wakil Kristen – semakin memanas. Kedua kerajaan tersebut berusaha saling mengalahkan untuk merebutkan wilayah-wilayah yang bisa dikuasai, baik yang berada di Eropa maupun Asia . Puncak dari peperangan ini adalah jatuhnya Konstantinopel – benteng Kristen-ke dalam penguasaan Kerajaan Turki Ottoman.

kastil draculaKastil Vlad Dracul yang terdapat di Wallachia

Transylvania WallachiaDaerah Kerajaan Wallachia dan Transylvania yang saat ini bernama Rumania

Ottoman EmpireDaerah Kekuasaan Kerajaan Turki Ottoman (Utsmani) , terlihat sekali bahwa Kerajaan Wallachia adalah tetangga terdekat yang menyerang Kota Konstantinopel

Dalam babakan Perang Salib di atas Dracula merupakan salah satu panglima pasukan Salib. Dalam peran inilah Dracula banyak melakukan pembantaian terhadap umat Islam. Hyphatia memperkirakan jumlah korban kekejaman Dracula mencapai 300.000 ribu umat Islam. Korban-korban tersebut dibunuh dengan berbagai cara-yang cara-cara tersebut bisa dikatakan sangat biadab – yaitu dibakar hidup-hidup, dipaku kepalanya, dan yang paling kejam adalah disula. Penyulaan merupakan cara penyiksaan yang amat kejam, yaitu seseorang ditusuk mulai dari anus dengan kayu sebesar lengan tangan orang dewasa yang ujungnya dilancipkan. Korban yang telah ditusuk kemudian dipancangkan sehingga kayu sula menembus hingga perut, kerongkongan, atau kepala. Sebagai gambaran bagaimana situasi ketika penyulaan berlangsung penulis mengutip pemaparan Hyphatia:

ImpalerGambar yang melukiskan tentang penyulaan (Impaler) oleh Vlad Dracul terhadap kaum muslimin di Konstantinopel

“Ketika matahari mulai meninggi Dracula memerintahkan penyulaan segera dimulai. Para prajurit melakukan perintah tersebut dengan cekatakan seolah robot yang telah dipogram. Begitu penyulaan dimulai lolong kesakitan dan jerit penderitaan segera memenuhi segala penjuru tempat itu. Mereka, umat Islam yang malang ini sedang menjemput ajal dengan cara yang begitu mengerikan. Mereka tak sempat lagi mengingat kenangan indah dan manis yang pernah mereka alami.”

Tidak hanya orang dewasa saja yang menjadi korban penyulaan, tapi juga bayi. Hyphatia memberikan pemaparan tentang penyulaan terhadap bayi sebagai berikut:

“Bayi-bayi yang disula tak sempat menangis lagi karena mereka langsung sekarat begitu ujung sula menembus perut mungilnya. Tubuh-tubuh para korban itu meregang di kayu sula untuk menjemput ajal.”

Kekejaman seperti yang telah dipaparkan di atas itulah yang selama ini disembunyikan oleh Barat. Menurut Hyphatia hal ini terjadi karena dua sebab. Pertama, pembantaian yang dilakukan Dracula terhadap umat Islam tidak bisa dilepaskan dari Perang Salib. Negara-negara Barat yang pada masa Perang Salib menjadi pendukung utama pasukan Salib tak mau tercoreng wajahnya. Mereka yang getol mengorek-ngorek pembantaian Hilter dan Pol Pot akan enggan membuka borok mereka sendiri. Hal ini sudah menjadi tabiat Barat yang selalu ingin menang sendiri. Kedua, Dracula merupakan pahlawan bagi pasukan Salib. Betapapun kejamnya Dracula maka dia akan selalu dilindungi nama baiknya. Dan, sampai saat ini di Rumania , Dracula masih menjadi pahlawan. Sebagaimana sebagian besar sejarah pahlawan-pahlawan pasti akan diambil sosok superheronya dan dibuang segala kejelekan, kejahatan dan kelemahannya.

Guna menutup kedok kekejaman mereka, Barat terus-menerus menyembunyikan siapa sebenarnya Dracula. Seperti yang telah dipaparkan di atas, baik lewat karya fiksi maupun film, mereka berusaha agar jati diri dari sosok Dracula yang sebenarnya tidak terkuak. Dan, harus diakui usaha Barat untuk mengubah sosok Dracula dari fakta menjadi fiksi ini cukup berhasil. Ukuran keberhasilan ini dapat dilihat dari seberapa banyak masyarakat – khususnya umat Islam sendiri – yang mengetahui tentang siapa sebenarnya Dracula. Bila jumlah mereka dihitung bisa dipastikan amatlah sedikit, dan kalaupun mereka mengetahui tentang Dracula bisa dipastikan bahwa penjelasan yang diberikan tidak akan jauh dari penjelasan yang sudah umum selama ini bahwa Dracula merupakan vampir yang haus darah.

Selain membongkar kebohongan yang dilakukan oleh Barat, dalam bukunya Hyphatia juga mengupas makna salib dalam kisah Dracula. Seperti yang telah umum diketahui bahwa penggambaran Dracula yang telah menjadi fiksi tidak bisa dilepaskan dari dua benda, bawang putih dan salib. Konon kabarnya hanya dengan kedua benda tersebut Dracula akan takut dan bisa dikalahkan. Menurut Hyphatia pengunaan simbol salib merupakan cara Barat untuk menghapus pahlawan dari musuh mereka -pahlawan dari pihak Islam – dan sekaligus untuk menunjukkan superioritas mereka.

Sultan Mahmud II

Sultan Mahmud IISultan Mahmud II (Muhammad Al-Fatih), penguasa Kerajaan Turki Ustmani (Ottoman) pada abad ke 14 di dunia barat beliau lebih dikenal dengan nama “Mehmed The Conqueror” karena telah berhasil kembali merebut Kota Konstantinopel

Siapa pahlawan yang berusaha dihapuskan oleh Barat tersebut? Tidak lain Sultan Mahmud II (di Barat dikenal sebagai Sultan Mehmed II). Sang Sultan merupakan penakluk Konstantinopel yang sekaligus penakluk Dracula. Ialah yang telah mengalahkan dan memenggal kepala Dracula di tepi Danua Snagov. Namun kenyataan ini berusaha dimungkiri oleh Barat. Mereka berusaha agar merekalah yang bisa mengalahkan Dracula. Maka diciptakanlah sebuah fiksi bahwa Dracula hanya bisa dikalahkan oleh salib. Tujuan dari semua ini selain hendak mengaburkan peranan Sultan Mahmud II juga sekaligus untuk menunjukkan bahwa merekalah yang paling superior, yang bisa mengalahkan Dracula si Haus Darah. Dan, sekali lagi usaha Barat ini bisa dikatakan berhasil.

Muhammad Al-FatihSultan Muhammad Al-Fatih saat berhasil merebut kembali Kota Konstantinopel

Selain yang telah dipaparkan di atas, buku “Dracula, Pembantai Umat Islam Dalam Perang Salib” karya Hyphatia Cneajna ini, juga memuat hal-hal yang selama tersembunyi sehingga belum banyak diketahui oleh masyarakat secara luas. Misalnya tentang kuburan Dracula yang sampai saat ini belum terungkap dengan jelas, keturunan Dracula, macam-macam penyiksaan Dracula dan sepak terjang Dracula yang lainnya.

Sebagai penutup tulisan ini penulis ingin menarik suatu kesimpulan bahwa suatu penjajahan sejarah tidak kalah berbahayanya dengan bentuk penjajahan yang lain – politik, ekonomi, budaya, dll. Penjajahan sejarah ini dilakukan secara halus dan sistematis, yang apabila tidak jeli maka kita akan terperangkap di dalamnya. Oleh karena itu, sikap kritis terhadap sejarah merupakan hal yang amat dibutuhkan agar kita tidak terjerat dalam penjajahan sejarah. Sekiranya buku karya Hyphatia ini – walaupun masih merupakan langkah awal – bisa dijadikan pengingat agar kita selalu kritis terhadap sejarah karena ternyata penjajahan sejarah itu begitu nyata ada di depan kita.

Wikipedia pun mengkonfirmasikan eksistensi historis Dracula yang membantai ribuan Muslim dengan cara menusuk/mensula (impale)

Sumber : Dracula, Pembantai Umat Islam dalam Perang Salib
Ditulis pada Maret 1, 2008 oleh agungsulistyo
(Makalah ini disampaikan dalam bedah buku Dracula, Pembantai Umat Islam dalam Perang Salib” di auditorium Fakultas Ilmu Budaya UGM Oleh: Ragil Nugroho)

Menu

Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email. GRATIS!

Bergabunglah dengan 451 pengikut lainnya.

Rating teratas

RIWAYAT BLOG

dilarang keras copy paste kecuali menyertakan sumbernya!

Download Qur’an Digital

free counters

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 451 pengikut lainnya.