NYAMUK

Malam ini mataku sulit untuk terpejam
Lagi-lagi dan hal ini sudah terjadi empat hari
Hingga terlihat menghitam kelopak mataku
Dan aku terlihat lebih tua beberapa tahun

Bukan, ini bukan puisi romantis
Bukan pula puisi karena patah hati
Karena kehidupan cintaku baik-baik saja
Dan aku tidak sedang membicarakannya

Aku terjaga sepanjang malam
Terjaga dan terus waspada
Bagai pemburu yang sedang mengintai
Mengintai buruan yang senang menghisap darah

Tidak kurang dua puluh ekor telah kubantai semalam
Ada yang kutangkap hidup-hidup
Ada pula yang langsung kuganyang
Hingga aku merasa puas telah menghabisi mereka

Makhluk kecil yang satu ini adalah musuh di malam hari
Datang dengan suara yang nyaring
Mengintai mangsa dengan alat pendeteksi panasnya
Dan siap menusukkan jarum kecilnya

Cukup unik pula julukan makhluk ini
Hewan pembunuh manusia terbesar di dunia
Menebar penyakit tanpa pandang status
Namun pula dimaklumi keberadaannya

Coba saja pikirkan,
dia berkelamin betina,
sedang hamil,
bisa terbang,
dan membawa jarum penghisap yang kadang berisi virus mematikan

Yang aku bicarakan adalah sejenis serangga
Yang sebenarnya menghisap sari-sari tanaman
Namun begitu, yang betina menghisap darah pula saat hamil
Dan itu digunakan untuk proses persalinan anak-anaknya

Coba terka apakah yang aku maksud?
Kalau kau berpikir aku membicarakan nyamuk
Maka kau pasti tahu maksudku
Karena aku memang membicarakan makhluk itu
Makhluk yang mengganggu mimpi indahku

W.S. Darmadi
Jakarta, 10 Agustus 2009
07 : 35 WIB

Komentar :

“Aneh kamu, yo! Masak nyamuk aja dibikin puisinya? 😀 “

Ndak apa-apa lah dibilang aneh, wong kalo ndak aneh yo ndak ada yang mau memperhatikan.”

“Loh, kamu tuh sebetulnya orang jawa apa orang condet sih?”

Eeee…. orang aring?”

“Maksudmu?? -_-!”

Btw, kembali ke topik permasalahan. Jadi puisi ini khusus dibuat untuk para NYAMUK!! Tribute to Nyamuk. (Lho!) Puisi ini dibuat pagi-pagi karena waktu itu saya benar-benar nggak bisa tidur sampai pagi! Dan itu semua gara-gara, banyak nyamuk di rumahku… u… u… gara-gara kamu… u… malas bersih-bersih!

“Padahal dia sering nyalahin Pak Haji K**** (Sebut saja Budi) yang punya kebon salak di samping rumahnya tuh! Katanya cuma jadi sarang nyamuk aja.”

“Wew… koq gitu sih lo? Gua bilangin Pak Haji Kodir (upsss…!!) Baru nyaho loh!”

Iklan