Mengapa Tuhan Menghukum kita?

Lihat disana!
Sebelah barat kita ada guncangan besar.
Sebelah timur kita ada kekacauan yang luar biasa.
Sebelah selatan kita juga, banyak badai api dan asap.
Dan yang luar biasa adalah di sebelah utara kita…
gelombang besar yang buas menerjang kita.

Oh…
Ada apakah gerangan di tanah kelahiranku kini?
Bahkan sudah kacau balau semenjak batu besar jatuh.
Siapakah yang bisa menanggung ini?

Kemarin petang, anak kakakku bertanya padaku.
Dia masih kecil, umurnya baru saja 6 tahun pada Juli yang lalu.

Dia bertanya begini,
“Paman… paman… itu apa di tivi?”

“Oh, itu gunung meletus.”
begitu jawabku pada keponakanku.

“Itu apa?”
bertanya lagi si kecil dengan penasaran menunjuk lava pijar yang keluar dari kawah gunung itu.

“Itu sungai api.”
Kujawab saja pertanyaan itu dengan sederhana,
mengingat dia masih kecil.

“Paman… kenapa orang-orang menangis?”
tanya lagi anak itu melihat para pengungsi gunung meletus yang kehilangan rumahnya.

“Itu karena mereka kehilangan rumahnya.”
Aku menjawabnya sambil berpikir…
apa peduli anak kecil pada masalah negeri ini?
Karena apabila dia kembali bermain lagi,
lupa sudah semua yang ia tanyakan tadi.

“Kenapa rumah mereka hilang? Apakah karena sungai api itu, paman?”
Aku melihatnya ia tampak serius dengan pandangannya ke televisi.
Pandangan yang tak biasa kulihat pada anak-anak seumurannya.
Yah, itu mungkin.
Karena aku pun belum menikah,
apalagi mempunyai anak.
Jadi aku hanya menerka-nerka melalui pengalamanku sebagai manusia.

Kemudian aku jawab kembali pertanyaan dari si kecil.
Aku tahu bahwa pertanyaannya adalah pertanyaan yang tulus.
Pertanyaan yang timbul karena kesucian hatinya.
Tidak seperti kebanyakan orang dewasa yang lain…
yang bertanya hanya ingin dipuji karena telah peduli pada orang lain.

Dan jawabku padanya…
“Rumah mereka hilang karena habis terbakar oleh sungai api itu.”

“Oh…”
Kembali gadis kecil itu memalingkan wajahnya kembali padaku sejenak,
kemudian kembali kepada layar televisi.
Namun begitu ia kembali bertanya lagi padaku?
“Jadi sungai api itu jahat ya, paman?”

Aku terdiam sejenak memikirkan pertanyaan ini dalam-dalam.
Akan kupakai jawaban apakah untuk pertanyaan ini?
Apakah pertanyaan yang berasal dari lubuk hatiku?
Ataukah pertanyaan yang sesuai nalar untuk anak sekecil dia?

Malah aku bertanya pada diriku sendiri.
Apakah laut itu jahat?

Begitu lama kusimpan pertanyaan ini dalam hatiku.
Dalam-dalam dan bahkan aku tak ingin kembali pertanyaan ini menghantuiku.
Karena lautan yang telah membunuh adikku beberapa tahun lalu.
Adikku yang kini bahkan jasadnya tidak pernah ditemukan.
Hilang tertelan gelombang besar Tsunami.

Apakah sungai api itu jahat?
Apakah laut itu jahat?
Apakah alam ini jahat?

Pertanyaan yang menantang jiwa dan batinku.
Karena keimananlah diatas segala-galanya.

Kalau aku jawab jahat,
itu artinya aku telah menuduh Tuhanku berbuat jahat padaku.
Karena Tuhankulah yang mengendalikan alam ini.
Tiada sesuatu tanpa kehendaknya.

Namun begitu,
Mengapa Tuhanku menghendaki alam berbuat demikian?
Tuhan yang berkehendak untuk membiarkan alam menggerakkan tanahnya,
meniupkan anginnya,
memuntahkan apinya,
dan mencampurkan airnya dengan daratan yang luas.

Apakah kejahatan yang telah diperbuat adikku?
Adikku yang saat itu masih duduk di bangku kelas 5 SD.
Berpikir kembali aku dengan akalku.

Ah…
Bukan, adikku tidak jahat.
Tuhan mengambilnya karena dia berhak mengambilnya.
Tuhan berkehendak karena Tuhan berhak.

Aku dan keluargaku..
dan orang-orang yang menyayanginya tidak benar-benar berhak atas dirinya.
Adikku dan begitupula orang lain,
Tuhanlah yang berhak memilikinya.

Tapi apakah yang Tuhan lakukan?
Tuhan menghukum dan mengazab bukan tanpa sebab.
Pasti ada sesuatu hal yang membuat Tuhan murka.
Atau bahkan bukan sesuatu hal, tetapi begitu banyak hal.

Kembali aku merenung dan berpikir.
Merenung dan berpikir adalah salah satu jalan untuk menemukan Tuhan.
Karena merenung dan berpikir menggunakan hati dan akal.
Hati dan akal yang baik adalah syarat dasar untuk beriman.
Dan imanlah yang telah membuatku tetap dalam kesadaranku pada Tuhanku.
Dengan kesadaran inilah aku dapat selalu berlaku baik kepada Tuhanku.
Berlaku baik untuk selalu menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya.
Juga kesadaran untuk selalu menjunjung keadilan.

Tuhanku adalah pemilik segala keadilan.
Karena Tuhanku pula yang memiliki kesadaranku untuk selalu menjunjung keadilan.
Aku berlaku baik kepada Tuhanku karena itu pula kesadaranku.

Kalau hilang kesadaranku untuk berlaku baik kepada Tuhanku.
Maka hilang pula imanku.
Maka rusaklah hati dan akalku.
Maka aku tak akan bisa lagi berlaku adil.
Bahkan pada diriku sendiri.
Dan itu pula berarti rusaklah jiwaku.

Dan apabila telah rusak jiwaku,
maka aku telah berbuat kejahatan terhadap Tuhanku.
Karena jiwa ini adalah milik Tuhanku.
Dan Tuhanku pasti akan murka karena jiwa yang telah diciptakan-Nya telah dirusak.

Dirusak dengan kesombongan manusia.
Dirusak dengan kekufuran manusia.
Dirusak dengan kefasikan manusia.
Dirusak dengan kemaksiatan manusia.
Dan itulah yang bernama nafsu.

Manusia adalah makhluk berakal yang juga dilengkapi nafsu.
Malaikat juga berakal, karena Malaikat juga beriman.
Namun Malaikat tak memiliki nafsu, jadi begitu patuhlah Malaikat pada Tuhan.

Iblis tak berbeda jauh dengan manusia.
Memiliki akal, juga memiliki nafsu.
Karena Iblis juga beriman pada Tuhan.
Namun begitu, Iblis lebih mengutamakan nafsu daripada akalnya.
Hingga jatuhlah vonis neraka yang kekal baginya.

Bukan nafsu yang boleh dituhankan oleh manusia.
Bukan juga akal yang boleh dituhankan oleh manusia.
Tetapi Tuhanlah yang boleh dituhankan oleh manusia.

Akan tetapi salahkah aku apabila menuduh manusia lebih buruk daripada Iblis?
Karena manusia walaupun memiliki akal…
tetapi banyak pula yang menuhankan sesuatu yang bukan Tuhan.

Alam ini pun adalah makhluk milik Tuhan.
Alam juga memiliki akal, karena alam juga mengimani Tuhan.
Alam hanyalah sesuatu makhluk yang patuh pada Tuhan.
Namun begitu alam tidak akan tinggal diam apabila banyak manusia yang tidak patuh pada Tuhan.
Alam pun akan berbuat demikian karena begitu cintanya alam pada Tuhan.
Kesadaran Alam akan keadilan sama besarnya dengan kesadaran alam akan kepatuhannya kepada Tuhan.
Karena hanya berlaku baik kepada Tuhanlah yang ada di dalam benak alam.

Ah, itu dia!
Aku telah menemukannya!
Akhirnya kutemukan jawabannya,
kalau alam itu tidak jahat.
Sungai api tidak jahat.
Begitupula laut.
Manusialah yang jahat.
Namun begitu tidak semua manusia jahat.

Tuhan menjatuhkan bencana kepada manusia adalah dengan tujuan yang baik.
Yaitu untuk memberi peringatan kepada manusia.
Yaitu untuk memberi pengetahuan kepada manusia.
Yaitu untuk memberi ampunan kepada manusia.

Agar manusia dapat menjadi makhluk yang selalu mengingat Tuhannya.
Agar manusia dapat menjadi makhluk yang cerdas dalam menghadapi setiap masalahnya.
Agar manusia dapat menjadi makhluk yang dapat berlaku baik kepada Tuhannya.

Tuhan menciptakan manusia semata-mata untuk dikenal oleh manusia.
Bahwa Tuhan adalah pencipta segala sesuatu dalam semesta alam ini.
Bahwa Tuhan adalah pemilik segala sesuatu dalam semesta alam ini.
Bahwa Tuhan adalah tempat kembali segala sesuatu dalam semesta alam ini.

Renungan ini telah menyadarkanku.
Tapi yang masih mengusik akalku,
Bagaimana aku dapat menjawab pertanyaan gadis kecil ini?
Aku bahkan tidak dapat menemukan kata-kata sederhana untuk diberikan kepadanya.
Ya Allah…

Tersadar aku kemudian setelah menyebut Namanya,
bahwa keponakanku yang lucu telah lelah dan terlelap tidur.
Entah karena bosan menonton televisi,
atau mungkin juga karena terlalu lama menunggu jawaban dariku.

Doaku untuk gadis kecil ini,
semoga kelak kau akan menemukan sendiri jawaban dari pertanyaanmu.
Karena Tuhanlah yang berkehendak untuk mengumpulkan kesadaran manusia di dalam dadanya.
Yaitu di dalam lubuk hati terdalamnya dan membuatnya pandai untuk menemukan kebenarannya.

Ya Allah…
Ya Tuhanku…
Ampunilah hambamu yang telah banyak berbuat kejahatan ini.
Hamba bersyukur padamu…
Ampunilah hamba…


W.S. Darmadi
Jakarta, 22 September 2007
05:00 WIB


Hanya satu hal saja yang bisa saya katakan kepada para pembaca, “Semoga Allah mengampuni kita semua dari segala macam dosa dan kebodohan yang telah kita lakukan selama ini. Amin…”

Iklan