HILALBadan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika telah mengumumkan bahwa ijtima’ akhir Ramadhan terjadi pada hari sabtu pukul 13.45 WIB. Karena adanya perbedaan posisi dan waktu tenggelamnya matahari di seluruh wilayah Indonesia, maka ketika matahari tenggelam ketinggian bulan di atas ufuk pun berbeda-beda. Namun secara umum ketinggian bulan berkisar antara 3 hingga 5 derajat. Dan elongasi, jarak matahari dan bulan lebih dari 9 derajat. Dan matahari kira-kira 20 menit lebih dahulu tenggelam daripada bulan.Berdasarkan data sederhana di atas, marilah kita merekonstruksi 1 Syawal 1430 dengan berbagai kriteria yang digunakan oleh masyarakat muslim. Rukyat dilakukan pada hari Sabtu 19 september 2009.

1. Kriteria Danjon
Danjon menetapkan bahwa limit hilal bisa dirukyah adalah ketinggian hilal 6 derajat. Maka jika rukyat dengan kriteria ini, hari sabtu selepas tenggelamnya matahari hilal tidak akan bias dilihat dengan mata, sehingga 1 syawal akan jatuh pada hari senin, 21 September 2009

2. Imkanur Rukyat
Imkanur Rukyah artinya hilal sudah memungkinkan untuk terlihat, meskipun tidak terlihat. Kriteria Imkanurukyah yang disepakati oleh Negara-negara Asia Tenggara adalah:

(1). Ketika Matahari terbenam, ketinggian Bulan di atas horison tidak kurang dari 2° dan

(2). Jarak lengkung Bulan-Matahari (sudut elongasi) tidak kurang dari 3°. Atau

(3). Ketika Bulan terbenam, umur Bulan tidak kurang dari 8 jam selepas konjungsi/ijtimak berlaku.

Dengan kriteria tersebut, ketinggian hilal dan sudut elongasi sudah memenuhi kriteria, sehingga kemungkinan Depag akan menetapkan hari raya pada: Ahad, 20 September 2009

3. Kriteria Wujudul Hilal
Kriteria Wujudul Hilal dalam penentuan awal bulan Hijriyah menyatakan : “Jika setelah terjadi ijtimak, bulan terbenam setelah terbenamnya matahari maka malam itu ditetapkan sebagai awal bulan Hijriyah tanpa melihat berapapun sudut ketinggian bulan saat matahari terbenam”.

Dengan kriteria tersebut, pada hari Sabtu matahari telah tenggelam 20 menit lebih dahulu dari pada bulan, sehingga 1 syawal jatuh pada: Ahad, 20 September 2009

4. Ijtima’ Qablal Ghurub
Kriteria ini menyatakan bahwa apabila sebelum matahari tenggelam telah terjadi ijtima’, maka keesokan harinya adalah bulan baru, tanpa memandang adanya hulal atau tidak.

Karena Ijtima’ telah terjadi pada hari Sabtu, maka 1 syawalnya adalah, 20 September 2009

5. Ijtima’ Qablal-Fajr
Kriteria ini dianut oleh Libya, kaidahnya, Jika terjadi ijtima’ sebelum fajar maka setelah fajar masuk ke dalam bulan baru. Karena ijtima’ terjadi sebelum tenggelamnya matahari pada hari sabtu, maka dengan kriteria ini Libya akan merayakan hari raya Fitri pada hari ahad, 20 September 2009.

6. Rukyat
Kriteria rukyat adalah dengan melihat bulan, tanpa kriteria macam-macam. Asalkan di suatu daerah rukyat sudah bias terlaksana maka keesokan harinya akan jatuh bulan baru. Nah, yang ini susah diprediksi. Kriteria rukyat ini biasanya berlaku di Saudi dan sekitarnya. Maka jika hari sabtu 19 September 2009 ada seseorang yang mengaku bias rukyat, maka tanggal 20 September 2009 hari Ahad akan merayakan Idul Fitri, tetapi jika tidak, maka akan mundur sehari.

Tetapi rukyat itu ada dua macam, dengan memperhatikan perbedaan matla’ atau tidak. Jika memperhatikan perbedaan matla’, maka yang merayakan hanya di Negara mana hilal itu terlihat, sedangkan Negara tetangga tidak ikut merayakan.

7. Rukyat global
Kriteria ini diterapkan oleh Hizbut Tahrir, yaitu jika di suatu wilayah atau Negara telah berhasil merukyat hilal maka kaum muslimin seluruh dunia wajib mengikuti rukyatnya.Rukyat global ini menganggap dunia ini dengan satu matla’ saja. Meskipun demikian, dengan metode ini juga masih tergantung, ada atau tidaknya seseorang yang mengaku melihat hilal pada hari Sabtu 19 september 2009.

Sumber : Tarbiyah “PKS”

Iklan