Birmingham University

Universitas Birmingham City di Inggris sedang mempertimbangkan akan membuka program master of arts (MA) yang mendalami situs-situs jejaring sosial, seperti Facebook, Twitter, dan Bebo.

Biaya untuk program ini dipatok sebesar 4.400 poundsterling (sekitar Rp 72 juta) untuk masa studi selama satu tahun yang dimulai tahun depan. Menurut Telegraph.co.uk, Senin (30/3), program ini akan mengajarkan bagaimana membuat blog dan memublikasikan podcast. Selain itu, program ini menganggap situs jejaring sosial, seperti Facebook, sebagai alat komunikasi dan marketing.

Universitas Birmingham City agaknya sudah serius dengan program ini dan sudah menayangkan iklan sederhananya di situs kampus ini. Salah satu perancang program ini, Jon Hickman, mengaku mendapat respons bagus dari sejumlah mahasiswa yang potensial mengikuti program ini.

Ia juga menjelaskan apa saja yang dibutuhkan mahasiswa untuk mengikuti kuliah Facebook ini. “Ini bukan untuk orang gila IT, semua sarana yang digunakan dalam program ini bisa diakses siapa saja,” kata Hickman.

Ia menambahkan, akan diputuskan apa yang bisa digunakan orang dalam Facebook atau Twitter. “Dan, bagaimana mereka bisa menggunakannya untuk alat komunikasi dan marketing,” kata Hickman.

Menurut Hickman, sudah banyak mahasiswa tertarik pada program itu dan itu akan menarik perhatian mahasiswa yang ingin berprofesi sebagai jurnalis dan humas.

Namun, Hickman juga mengatakan bahwa kursus itu harus memenuhi standar akademik sebelum disetujui komite pendidikan sebagai kursus yang layak diambil. “Menurut pendapat saya, program itu membutuhkan riset sinoptik dan kegiatan ilmiah yang sangat fundamental untuk tingkat master. Ini sangat relevan dan ilmiah. Ini kursus baru meski tingkat kepentingannya masih dipertanyakan,” katanya.

Kata Hickman, media sosial sangat penting bagi pekerjaan-pekerjaan di sektor marketing dan komunikasi sebagai rangkaian keterampilan pada pekerjaan lain dan sebagai sebuah industri dalam dirinya sendiri,” kata Hickman.

Selain menyangkut popularitasnya yang instan, sejumlah mahasiswa mengaku tidak setuju terhadap program itu karena dianggap terlalu sederhana. “Secara kasat mata, semua materi kursus ini sangat mendasar dan bisa dipelajari sendiri. Kenyataannya banyak orang sudah kenal soal itu. Menurut saya, ini memboroskan sumber daya universitas,” kata Jamie Waterman (20), mahasiswa asal Birmingham.

Sumber : Kompas