Bosan memelihara Kucing, Anjing, atau binatang imut-imut lainnya? Pernahkah anda berpikiran untuk mencoba memelihara Gajah? Atau Gajah mungkin terlalu besar untuk dipelihara?

Tapi saat ini mungkin anda akan berubah persepsi tentang peliharaan Gajah yang banyak membutuhkan tempat yang lebih luas setelah melihat Gajah Mini dari Jawa.

Gajah Mini dari JawaGajah Pigmi Borneo yang aslinya dari Pulau Jawa

Anda mungkin heran, kok ada ya gajah sekecil ini? Jangan heran! Karena sebetulnya saya juga masih heran.😆

Sultan Sulu yang Membawanya ke Luar Jawa

Dahulu pada zaman kerajaan-kerajaan di Nusantara, saling memberikan hadiah antar kerajaan adalah hal yang lumrah. Persahabatan antar kerajaan pun berlangsung dengan baik saat itu. Bahkan tidak ada kerajaan yang mengklaim budaya kerajaan tetangganya.😀 Mereka saling berbagi satu sama lainnya. Persahabatan antara Pemimpin Jawa saat itu dengan Sultan Sulu (Filipina Selatan – dahulu penduduk Filipina aslinya memeluk agama Islam sebelum dijajah oleh Spanyol) sangatlah erat, sehingga saling kirim mengirim hadiah pun terjadi.

Saat itu Pemimpin Jawa memberikan hadiah kepada Sultan Sulu berupa Gajah asli Jawa yang imut-imut. Gajah itu tumbuh tidak lebih dari 2,5 meter. Karena bentuknya yang lucu untuk dipelihara, kemudian sang Sultan Sulu membawa beberapa ekor untuk dipelihara di kerajaannya. Kekuasaan Sultan Sulu saat itu tidak hanya di Filipina, melainkan sebagian Kalimantan sebelah utara dan timur (Ini merupakan hadiah dari Kesultanan Brunei karena Kesultanan Sulu telah membantu menumpas pemberontakan dalam Kesultanan Brunei). Maka sebagian gajah itupun dikembangbiakan di Kalimantan. Saat ini gajah-gajah Jawa tidak ada lagi di Filipina Selatan, karena pada sekitar tahun 1800-an banyak diburu, karena dianggap bukan hewan asli daerah tersebut. Sementara kepunahan gajah ini di tempat asalnya, Pulau Jawa, dikarenakan oleh perburuan (baca : hobi membunuh binatang liar) yang dilakukan oleh orang-orang Eropa yang datang untuk menjajah Nusantara.

Pengiriman hewan melalui kapal-kapal sudah berlangsung semenjak adanya peradaban-peradaban, contohnya Pinguin yang terdapat di Peru yang dibawa oleh Bangsa Maya dari Antartika, dan atau Jerapah yang ada di Cina yang dibawa oleh Laksamana Cheng Ho dari Afrika.

Gajah Jawa/Borneo di Hutan kalimantan

Asal usul Gajah mini/pigmi

Gajah Jawa (yang sekarang bernama Gajah Borneo) diambang kepunahan semenjak orang-orang Eropa datang ke Pulau Jawa. Kemudian Gajah Jawa yang tersisa dibiakkan oleh Sultan Sulu di daerah Sulu dan Kalimantan, tetapi kemudian ikut menghilang seiring dengan runtuhnya kejayaan Kesultanan Sulu. Sisa-sisa dari Gajah Jawa yang dibiakkan oleh Sultan Sulu hanya terdapat di Kalimantan, yang kemudian mereka berkembang biak dengan sendirinya. Jadi sebenarnya asal mereka adalah Pulau Jawa, bukan Kalimantan, Sulu, atau bahkan Malaysia.

Anak Gajah Pigmi yang dipelihara oleh seorang anak

Gajah pigmi tidak hanya ada di Asia, di Afrika juga ada, namanya Loxodonta pumilio . Gajah Pigmi di Afrika tidak hanya sama-sama kecil, malah cenderung mirip dengan Gajah pigmi Jawa. Gajah pigmi Jawa nama latinnya adalah Elephas Maximus Borneensis. Sayang sekali ya ada embel-embel Borneonya, padahal aslinya kan dari Jawa. (Sepertinya embel-embel Borneo diberikan karena Malaysia yang pertama kali mengklaim ke WWF)

Loxodonta Pumilio di Afrika

Kemungkinan besar Gajah-Gajah pigmi ini berasal dari spesies gajah mini yang disebut Dwarf Elephant (Gajah Kurcaci) atau disebut juga Stegodon. Dwarfed Stegodon yang terakhir terlihat kurang lebih 8000 tahun yang lalu, sementara di Indonesia sendiri Stegodon terakhir hidup kurang lebih 12.000 tahun yang lalu.

Spesies-spesies Stegodon diantaranya adalah :

  1. Stegodon aurorae (Jepang)
  2. Stegodon elephantoides (Myanmar dan Jawa)
  3. Stegodon florensis (Flores, Indonesia)
  4. Stegodon ganesha (India, Pakistan)
  5. Stegodon insignis (Pakistan)
  6. Stegodon orientalis (Cina, Jepang) – Oriental Stegodont
  7. Stegodon shinshuensis (Jepang) – Jepang Stegodont
  8. Stegodon sompoensis (Sulawesi, Indonesia)
  9. Stegodon sondaari (Flores, Indonesia)
  10. Stegodon tetrabelodon syrticus (Shabi, Libya)
  11. Stegodon trigonocephalus (Jawa, Indonesia)
  12. Stegodon zdanski (Cina)
  13. Stegodon cf. trigonocephalus (Filipina)
  14. Stegodon luzonensis (Filipina)
  15. Stegodon cf. sinensism (Filipina)
  16. Stegodon mindanensis (Filipina)

Kesemua jenis Stegodon atau Gajah Kurcaci ini sekarang diyakini punah.

Fosil Stegodon atau Gajah Kurcaci yang terakhir terlihat 8000 tahun silam

Relief Dwarf Elephant di salah satu kuil Mesir Kuno di Tilos

Stegodon sendiri diyakini masih memiliki kekerabatan dengan Stegolophodon, yaitu gajah mini purba yang bergading empat yang hidup di zaman Miosen dan Pliosen.

Stegolophodon, Gajah Mini Purba bergading empat

Gajah Jawa/Kalimantan saat ini

Bagaimana, adakah yang ingin memelihara Gajah Jawa/Kalimantan ini? Sepertinya agak sulit, karena gajah-gajah imut ini saat ini dikategorikan oleh WWF sebagai binatang yang sangat-sangat dilindungi karena jumlahnya yang hanya 1500 ekor saat ini. Saya hanya berharap pemerintah mau mengembalikan beberapa ekor Gajah imut ini ke Pulau Jawa untuk ditangkarkan. Karena Gajah-Gajah Jawa/Kalimantan saat ini hanya terdapat di Kalimantan Timur dan Sabah. Perlu peran pemerintah agar Gajah khas Pulau Jawa ini agar tetap dikenal oleh generasi Indonesia selanjutnya.

Video Gajah Jawa/Kalimantan


Gajah Khas Pulau Jawa Lainnya

Selain Gajah Pigmi, Pulau Jawa juga ternyata memiliki Gajah Modern terbesar di dunia!! Benarkah itu?? Kita tunggu saja di artikel saya yang berikutnya.🙂

Penulis : Tio Alexanderâ„¢

Sumber : National Geographic, Wikipedia, Kompas, dan sumber-sumber berbahasa asing lainnya.