Mengapa Kau Berdiam diri?


Lagi… perdebatan dalam diriku
Menjadi sesuatu yang terlalu
Meski aku telah menghindari nafsu
Aku tak kuasa menghadapi diriku

Lagi… saat aku menjadi tak terarah
Hatiku menjerit semakin parah
Seperti luka yang terus berdarah
Menjadikanku orang yang selalu salah

Lagi… saat hidupku terasa membosankan
Hilang sudah segala gairah impian
Terus menyendiri tak keruan
Layaknya terombang ambing di lautan

Lalu aku mencampakkan diriku
Lalu aku menyalahkan diriku
Lalu aku menghukum diriku
Lalu aku hendak membunuh diriku?

Tidak! Sekali lagi tidak!
Tuhanku Yang Maha Berkehendak
Meski aku diam tak bertindak
Hatiku kini tersentak

“Wahai kau manusia, mengapa kau berdiam diri?”
Tanya Malaikat Subuh kepadaku

“Aku tak kuasa, wahai Malaikat Subuh.”

“Mengapa kau berdiam diri?”
Tanya Malaikat Subuh kepadaku sekali lagi.

“Aku tak mengerti dunia, wahai Malaikat Subuh.”

“Mengapa kau berdiam diri, wahai manusia?”
Bertanya lagi Malaikat Subuh kepadaku

“Aku sendiri, wahai Malaikat Subuh.”

Kemudian sang Malaikat Subuh menjawab,
“Kau tidak sendiri, wahai khalifah Allah!
Beranjaklah untuk membesarkan nama Allah dan carilah duniamu.”

Aku tersentak kaget mendengarnya
Karena berapa lama aku meninggalkanNya?
Kewajibanku yang telah ditetapkan sebelumnya
Dan kehidupanku yang membawaku dalam cinta dunia

Aku beranjak pergi menghadap kepadaNya
Mensucikan diriku yang penuh dengan dosa
Yang tak dapat hilang jika aku terus memeluk dunia
Yang menjadikanku budak yang terus terpenjara

Dunia bagai cermin yang terlihat menarik
Terlalu menarik dan akan mudah tertarik
Yang sebenarnya adalah sesuatu yang terbalik
Sebuah perangkap manusia menjadi agnostik

Wahai Tuhanku Maha Pemberi Petunjuk
Jauhkanlah aku dari sifat yang busuk
dan dari setan yang selalu membujuk
dan hamba mohon agar dunia ini takluk

W.S. Darmadi
20 Januari 2010
6:20 WIB

Puisi ini adalah curahan hati saya yang sejak semalam dan subuh tadi saya alami. Semoga ini dapat menjadi renungan untuk kita semua.🙂