“You’re not on Pandora anymore, you’re on Condet, ladies and gentlemen”
Tio Alexander – 2010

Mungkin lama-lama saya akan dituduh sebagai anggota Klompencapir (Kelompok Pencaci dan Pencibir) karena artikel-artikel saya yang kebanyakan booming adalah artikel-artikel yang sifatnya kontroversial, yang isinya Kripik Kritik Pedas dan, ya… sedikit bumbu-bumbu cacian dalam bentuk yang halus. (lelembut?) Tapi setidaknya saya nggak salah dong kalau mengkritik sesuatu hal yang menyimpang dari aturan (baca : hati nurani) yang ada. Inget lho, aturan yang sudah ditetapkan, bukan kontrak sosial.😛

Oh iya, kali ini saya akan mencaci dan mencibir film aneh dengan judul “Petualangan Bersama Suku Biru”

Apakah ada yang merasa De Javu saat mendengar judulnya??

Bagi yang merasa De Javu, baiknya anda melihat video ini dahulu :


Avatar Movie by James Cameron

Sudah ditonton kan? Kalau belum sebaiknya ditonton dulu.🙂

Kalau sudah ditonton, kemudian kita bandingkan dengan video ini :


Petualangan Bersama Suku Blao Biru, di TPI

Bagaimana? Yang sudah nonton kedua video di atas, pastinya sudah punya gambaran dong.🙂

Kalau pendapat saya adalah :

  1. Video Pertama = Masterpiece!
  2. Video Kedua = SAMPAH!

Lho sampah gimana??

Sampah karena plagiat!
Plagiat karena nggak kreatif!

Kenapa akhir-akhir ini TPI selalu menyajikan film-film remake dari film asing? Mulai dari film Filipina hingga film Amerika. Mending kalau remakenya lebih bagus, lha ini malah merusak karya orang lain. Film Avatar karya James Cameron yang mendapatkan predikat film terlaris sepanjang 2009 (padahal baru sebulan yang lalu diputar di bioskop), dihancurkan citranya oleh film sampah seperti ini.

Jika kita lihat dari film “Petualangan Bersama Suku Blao Biru” di TPI, maka kita akan mengetahui kalau semua tokoh, kejadian, latar tempat, dan lain-lainnya, dibuat seolah sama oleh sang plagiator. Bahkan setiap adegannya!!

Oh… maaf, saya ralat, tidak semua adegan. Kecuali adegan ciuman antara Jake Sully dan Neytiri saja yang tidak ada. Sepenuhnya, cerita dibuat sama seolah sama, namun dengan kualitas yang rendah. Dari mulai bentuk karakternya hingga adegannya. Coba saja lihat dua karakter utama di bawah ini :

Jake Sully? Masih kecil??

Neytiri? Juga masih kecil??

Oh iya, sebelum saya menulis ini, ternyata Joko Anwar sudah menyindir duluan dalam twitternya.

Dengar-dengar “Avatar di TPI” juga 3D lho!😆

Dah ah… nanti yang njiplak filmnya marah…