Maafkan Aku Saudariku

Wahai saudariku yang aku banggakan
Aku bagai sebatang pohon yang telah rapuh sebagian
Karena rasa bersalah yang berkepanjangan
Saat melihat kau menangis dalam pandangan

Aku menyesal sepanjang hidupku
Aku menyesal tak dapat membantu saat itu
Aku menyesal membiarkan mereka mendzalimi dirimu
Aku menyesal dalam-dalam hingga qalbu

Pandanganmu yang menyesakkan hatiku
Gerak bibirmu memanggilku, “Tolong aku…”
Memohon kepadaku agar aku dapat membantumu
Tapi aku tak berdaya bagai sebuah batu

Seandainya suatu hari aku dapat bertemu denganmu
Aku akan bawakan permintaan maafku untukmu
Karena penyesalan yang begitu mendalam saat itu
Melihatmu menangis dalam pandanganmu

Wahai saudariku dimanapun kau saat ini
Aku berdoa agar hidupmu terlindung sepanjang hari
Meski sesuatu kelak akan menghadangmu suatu hari
Tuhanku pasti akan selalu melindungi

Dan bagi orang-orang yang membuatmu bersedih
Laknat dariku pun tak cukup pedih
Mereka akan hidup sambil merintih
Merintih kesakitan sambil terus berdalih

W.S. Darmadi
18 Februari 2010
05:13 WIB

Kisah ini adalah kisah pedih saya sewaktu SMA. Saat itu seorang sahabat saya, saudari saya difitnah karena dakwah kami saat itu dianggap berbahaya bagi golongan minoritas yang ada di sana. Mereka takut pengaruh Islam berkembang terlalu besar. Mereka takut salah satu dari mereka akan menemukan keajaiban dari kebenaran nilai-nilai Al-Qur’an. Sungguh amat jahil perbuatan mereka yang telah mendzalimi saudariku tersebut. Mereka bahkan menghalalkan segala cara untuk membuat kami lemah, tapi Allah membuat kami tegar dan selalu istiqamah. Suatu saat akan ada masa dimana waktu akan berhenti, dan kebenaran akan terungkap. Wahai saudariku, jika engkau membaca puisiku ini, mohon maafkanlah aku yang tak bisa berbuat sesuatu untuk menolongmu saat itu. Andai saya bisa mengulang saat itu, bahkan jiwa pun akan ku korbankan untuk mengungkap kebenaran demi menolongmu.


Iklan