Malam ini selepas saya pulang dari kampus, saya menghadapi beberapa masalah ibukota yang sudah lama saya tidak hadapi secara rutin. Yah mungkin karena sudah lama sekali saya tidak bekerja di kantoran dan kuliah. Karena pekerjaan saya yang hanya berdagang dan menulis melalui internet di rumah.

Sudah dua minggu ini saya kembali melanjutkan kuliah, setelah lama sekali saya meninggalkan bangku perkuliahan yang telah memberikan saya banyak kawan dan saudara baru. Kenapa saya meninggalkan bangku perkuliahan? Karena banyak masalah yang saling bertentangan dalam kehidupan saya, dan masalah-masalah itulah yang membuat saya jatuh ke dalam keterpurukan. Tapi hal itu berubah semenjak beberapa bulan ini, semenjak kejenuhan hidup melanda saya, dan ‘ancaman’ pacar saya yang menolak untuk saya nikahi apabila saya tidak lulus sarjana. Mungkin terkesan bahwa saya menjalani perkuliahan ini secara terpaksa, tapi tidak begitu, kenyataannya semenjak kejenuhan hidup melanda saya hal itulah yang membuat saya berpikir ulang tentang arti pendidikan dan pengalaman hidup. Mungkin lain kali akan saya ceritakan bagaimana ‘ancaman’ pacar saya, dan bagaimana guru saya menasihati saya agar saya kembali kepada jalur yang semestinya.

Oke, kembali ke judul yang sudah saya buat di atas.

‘Celana Panas’

Ini adalah hasil pemikiran yang saya renungkan saat melihat seorang gadis ibukota yang mengenakan celana super pendek, atau yang kerap disebut ‘Hot Pants” itu. Entah kenapa namanya ‘Hot Pants’ alias ‘Celana Panas’. Mungkin hal itu disebabkan karena sang pemakainya selalu merasa kepanasan (baca : kegerahan), meskipun cuaca ibukota yang saat ini sedang musim hujan (baca : musim banjir) dan waktu yang menunjukkan kalau ini sudah terlalu larut. Atau mungkin sang gadis tersebut sudah terbiasa di iklim sub tropis (atau malah iklim kutub?) jadi di Jakarta walaupun hujan yang dingin dan waktu beranjak malam, tetap merasa kegerahan? 😆

Iklim di Jakarta terlampau panas kah? Sehingga membuat laku ‘Celana Panas’

‘Celana Panas’ tersebut sudah bukan hal yang asing lagi saat ini, terutama di kota-kota besar di Indonesia, dan khususnya lagi Kota Jakarta yang terkenal panas dan hanya memiliki sedikit sekali taman kota. Satu-satunya tempat untuk menyejukkan diri dari panasnya ibukota adalah mall yang Full AC (Air Conditioner), oleh sebab itulah pemerintah daerah DKI Jakarta memperbolehkan para pengembang dan investor ‘menanam’ mall yang banyak di Jakarta (jumlahnya saat ini + 130 mall hanya di Jakarta saja!!), mungkin mereka menganggap AC mall lebih menyejukkan para penduduk Jakarta dibandingkan taman-taman kota yang rindang. Dan saya juga mengucapkan selamat kepada Pemda DKI Jakarta yang telah bersusah payah membangun Jakarta ini sehingga mendapatkan prestasi sebagai “Kota Dengan Mall Terbanyak di Dunia!!” *menyinggung mode : ON*

PGC, satu diantara 130 Mall di Jakarta

Lalu bagaimana kelanjutan sang gadis ber ’Celana Panas’ tersebut?

Saya hanya bingung melihat gadis tersebut. Jika melihat dari penampakannya, gadis itu mungkin berumur lebih muda daripada saya, ya sekitar belasan akhir hingga duapuluhan awal. *Berasa sudah tua saya* :mrgreen: Gadis tersebut cukup cantik (agak kurang jelas karena malam hari dan keterbatasan pengelihatan saya *mata minus*) dan memiliki tubuh yang ideal (dilihat dari lekukan tubuhnya yang dibalut blus lengan pendek dan ‘Celana panas’ tersebut). Dan terlihat dengan jelas dari bahasa tubuhnya bahwa ia sedang menunggu sesuatu.

Lalu apakah yang pertama kali saya pikirkan?

Jika anda berpikir bahwa saya pertama kali berpikir bawa dia adalah ‘Jablay’, itu artinya anda benar.

Tapi… bukankah Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita bahwa kita tidak boleh su’udzon (baca : berprasangka buruk) terhadap orang lain? Maka seketika saja setelah itu kemudian saya mengucap : “Astagfirullahal’adzim… kenapa saya berpikir buruk terhadap gadis itu?”

Mengapa saya berpikiran seperti itu pada saat pertama kali mendapatkan visual sang gadis itu?

Pikiran kotor kah? Eee… mungkin saja… tapi pikiran tersebut lebih disebabkan karena pengalaman saya sebelumnya.

Pengalaman apakah itu?

Pengalaman ini saya alami kira-kira dua tahun silam. Saat itu waktu sudah hampir menunjukkan pukul 12 malam. Saya dan kawan-kawan yang saat itu bekerja pada salah satu operator internet BUMN harus pulang sangat larut dikarenakan menjenguk salah satu kawan kami yang sedang sakit di kost-annya di daerah Kelapa Gading. Kemudian saat itu keadaan saya sedang dalam bahaya karena diincar ‘segerombol geng motor’ hanya karena salah satu anggotanya tidak terima jika pacarnya curhat kepada saya. *dasar geng motor alay*

geng motor alay

Akhirnya kami pun harus pulang malam setelah saya menyelesaikan masalah saya dengan geng motor tersebut. Kebetulan pacar saya saat itu satu kost dengan kawan kami yang sedang sakit, jadi kami lega sudah ada yang mengurusnya.

Saya pun pulang bersama salah satu adik kelas saya bernama Tika. Kebetulan kami searah, dan saya diminta pacar saya untuk menemani Tika pulang hingga sampai Kampung Melayu (rumahnya di Tebet). Kami (saya dan pacar saya) khawatir jika seorang gadis remaja tahun pulang sendirian saat tengah malam.

Dalam perjalanan pulang, kami naik angkot mikrolet dari Kelapa Gading ke Jatinegara, kemudian diteruskan ke Kampung Melayu. Namun karena sesuatu hal, kami harus memutar dahulu melewati jalur By Pass (Itu lho yang ada jembatan Layang Sosrobahu), kemudian menuju Kampung Melayu.

Jembatan By Pass

Selama di perjalanan melewati daerah Prumpung itulah kami melihat salah satu fenomena malam Kota Jakarta. Apalagi kalau bukan ‘Jablay’! Mereka banyak sekali di pinggir jalan sepanjang dari Jatinegara hingga Prumpung. Mereka mengenakan ‘Celana Panas’, berpakaian ketat (sehingga terlihatlah kalau mereka hendak menonjolkan sesuatu), dan berdandan menor (baca : berlebihan).

Kami berdua (saya dan Tika) hanya tertawa melihat sambil membahas mereka, karena mereka tidak semuanya perempuan!! Ada warianya juga!!

Sampai akhirnya di tengah perjalanan menuju Kampung Melayu, angkot yang kami tumpangi berhenti dan… tiba-tiba sebuah mobil SUV mahal berhenti dan mengeluarkan dua orang ‘Jablay’ seperti pada ciri-ciri yang sudah saya sebutkan di atas. Kemudian kami berdua pun terdiam membisu (plus terkejut) saat mereka masuk ke angkot yang kami naiki.

Angkot di Kampung Melayu

Terkejut?

Ya! Karena belum pernah ada ‘jablay’ sedekat ini pada kami, terutama sekali saya yang dibesarkan di Condet (The Land of Habib). Dan konon bau parfum ‘Jablay’ yang katanya tercium hingga radius sepuluh meter ternyata adalah fakta!!

Dalam angkot, dua orang ‘Jablay’ yang menurut saya tidak menarik dan kurus tersebut, saling bercanda dan tertawa dengan khas bahasa kasar Jakarta. Sepertinya mereka menertawakan klien mereka yang tadi mereka layani. Dan tak lama mereka pun turun.

Setelah angkot yang kami tumpangi kembali melaju, kami berdua tertawa lepas diikuti tawa sopirnya. Tentu saja kami menertawakan dua ‘jablay’ remaja tadi. Sayang sekali ya, padahal mereka masih duduk di bangku sekolah (mungkin SMP atau SMA). Entah orang tua mereka yang tak mampu mengurus kebutuhan mereka, atau mungkin mereka iseng berbuat seperti itu hanya karena ingin memiliki ponsel mahal berkamera?

Oh iya, saya malah jadi teringat ada seorang siswi SMP di sebuah warnet yang membawa ponsel 3G yang kala itu harganya masih 6 jutaan, padahal kalau dilihat dari penampakan gadis itu terlihat seperti siswi yang kurang mampu, yaitu baju yang agak lusuh dan tas yang sudah lusuh juga. Jadi apakah gadis itu juga… (waullahu’alam)

Condet. Terlihat Kali Ciliwung yang meluap jika kiriman air datang dari Bogor.

Kembali ke kisah gadis cantik ber ’Celana Panas’ yang tadi!

Saya tidak mengatakan kalau gadis yang saya lihat saat pulang kuliah malam tadi adalah ‘Jablay’, hanya saja ciri-cirinya yang menyerupai. Berhubung ini adalah malam Sabtu, bisa saja sang gadis tersebut hendak pergi menikmati hiburan malam khas kota besar dunia, seperti Clubbing, dsb.

Suasana Clubbing di Jakarta saat malam hari

Tapi bisa saja dia adalah gadis baik-baik yang kebetulan sedang memakai ‘Celana Panas’ karena pengaruh tren ‘bablas’ saat ini. Yang jelas tren ‘Celana Panas’ tersebut sudah menjadi sesuatu yang mencemaskan para orang tua saat ini. *berasa tua lagi* Bagaimana tidak, celana pendek yang hampir-hampir sejajar dengan *maaf* kemaluan perempuan ini yang dahulu biasa dipakai untuk dalaman, kini dipakai untuk berbagai macam kegiatan. Dari mulai pakaian sehari-hari, kongkow-kongkow di mall, hingga acara resmi!! Dan apakah hal ini yang juga membuat tindak kriminalitas perkosaan dan pelecehan seksual di Indonesia meningkat? (plus fenomena film-film menjurus porno)

Alhamdulillah… untungnya saya punya pacar (baca : calon istri) yang mau mengerti dan memahami pentingnya menutup aurat. 😳

Wah rupannya panjang juga saya menulis fenomena ‘Celana Panas’ ini. :mrgreen:

Tambahan sedikit dari saya, beberapa jam yang lalu saya mengobrol via Yahoo!Messenger dengan kawan saya dari Sumatera Barat, yang bernama Flory. Saya menawarkan agar dia kuliah di kampus saya di GICI Business School. Sebetulnya ia tertarik, namun permasalahan terletak pada Mamanya yang khawatir dengan pengaruh buruk Jakarta. Ia juga sempat menyinggung kalau ia dan Mamanya sangat tidak menyukai fenomena ‘Celana Panas’ yang ada di Jakarta, apalagi setelah ia pergi ke Dufan (Dunia Fantasi Ancol), ia berkata, “Ternyata nggak Cuma di TV aja yang kaya gitu, di dufan banyak banget. Jadi ngeri.”

GICI Business School

Saya dari kecil dibesarkan di Jakarta, dan saya mengetahui benar seluk-beluk dan isi ibukota ini. Yang jelas ibukota tak sejahat yang dipikirkan banyak penduduk daerah luar Jakarta, dengan catatan sepanjang kita bisa menjaga diri kita, dan selalu taat terhadap segala perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan Allah.

Mari kita galakkan diri kita untuk malu mengumbar aurat kita!

Iklan