Dua Belas Bait Surat Kami Tentang Terusiknya Hati

———————————————————————————-

Sudah terlihat tanda-tanda kehancuran sebuah peradaban
Disaat dunia yang terasa makin mendekati nikmatnya surga
Moral menjadi berbanding terbalik dengan pengetahuan
Dan kenikmatan yang mudah untuk didapatkan manusia

———————————————————————————-

Mengapa banyak sekali bermunculan kaum yang hilang akal?
Menjadi merasa benar karena masyarakat yang rusak hatinya
Tertimbun pemahaman-pemahaman yang disangka akal
Padahal hanya sekadar perwujudan nafsu belaka

———————————————————————————-

Masa depan peradaban kami seperti ilusi dalam mimpi
Mimpi yang terlihat indah, namun nyatanya buruk
Karena hilang sudah orang yang bersahabat dengan nurani
Sebuah masa depan yang sebetulnya sangat terpuruk

———————————————————————————-

Nanti, di masa yang akan datang
Orang-orang akan duduk di warung kopi
Mereka membicarakan tentang masa sekarang
dan berdongeng tentang manusia bernurani saat ini

———————————————————————————-

Kami khawatir tentang pengharapan kami di masa depan
Dimana penerus kami akan habis tertindas kaum yang sesat
Kaum yang selalu membanggakan kemaksiatan
Walau mereka sadar timur telah pindah ke barat

———————————————————————————-

Merasa sakit telinga ini mendengar mereka berbicara
Merasa risih mata ini melihat apa yang mereka lakukan
Kami menegur tapi kami dianggap terasing di dunia
Ingin meledak rasanya kepala ini karena beban pikiran

———————————————————————————-

Kami menjadi terasing di dunia milik Tuhan kami
Yang sebetulnya hanya kami singgahi untuk sesaat
Kami terasing karena mencintai Tuhan kami
Yang diasingkan oleh orang-orang yang sesat

———————————————————————————-

Kami berteriak namun kami tak dianggap
Kami diam lalu kami terasing di antara mereka
Kami berteriak karena kedzaliman yang menancap
Kami diam hingga kami kembali kepada Sang Pencipta

———————————————————————————-

Apa ini dilema kami sebagai penghuni zaman penghabisan?
Dimana kebanyakan manusia merasa tak membutuhkan Tuhannya
Yang benar menjadi salah, dan yang salah menjadi kewajaran
Seperti tumpukan penyesalan yang dirasa tak ada habisnya

———————————————————————————-

Sudah jarang orang yang melantunkan kalimat Tuhan
Tak ada lagi risih melihat hal-hal yang tak semestinya
Hati yang tak tergetar saat Qur’an dibacakan
Tertutup sudah kesempatan untuk selama-lamanya

———————————————————————————-

Mereka pun berkata pada kami tentang hidup mereka,
“Kami lebih baik seperti ini daripada hidup munafik.”
Sebuah pernyataan yang menantang kepada Sang Pencipta
Karena mereka telah menyebut diri sebagai orang yang fasik

———————————————————————————-

Ya Tuhan kami Yang Maha Satu…
Telah datang kaum pembawa bencana
Yang tak akan pernah merasa malu
Walau hancur seisi dunia

———————————————————————————-

W.S. Darmadi
24 Februari 2010
09:00 WIB

Puisi ini merupakan keprihatinan saya terhadap fenomena yang terjadi saat ini. Banyak sesuatu yang salah tapi dianggap benar karena banyak yang meninggalkan Tuhan Yang Maha Satu. Ada baiknya kita merenungi kembali visi dan misi kita hidup di dunia ini, yaitu membesarkan nama Allah.🙂