“Aku adalah cahaya. Cahaya yang diciptakan oleh Sang Maha Cahaya. Dan aku lahir untuk cahaya-cahaya disekelilingku.”

Namaku adalah Muhammad Satrio, aku adalah seorang pemuda yang terlambat menggapai cita-citaku. Bukannya karena aku tidak mampu untuk menggapainya, tapi karena selama ini nafsu yang selalu menyertaiku. Kebohongan dunia yang telah melalaikan diriku. Menjadikan ruh ini lupa akan tujuannya yang dahulu pernah kami ikrarkan di sebuah dimensi maha dahsyat, yang bahkan untuk memikirkannya saja mungkin kami tidak akan mampu. Ya Tuhanku, ampunilah kami.

Umurku saat ini hendak menginjak dua puluh tiga tahun, kira-kira Juli tahun ini, dan saat ini sudah di penghujung Mei. Sebuah waktu yang tidak sedikit selama di dunia ini. Secara tak sadar pun selama ini aku menyia-siakan hidupku. Padahal matahari mulai terik. Perjuangan yang semakin keras. Mungkin saja teriknya matahari hanya akan membuat aku kehausan, tapi kenyataannya banyak orang-orang yang aku kenal malah tersengat teriknya matahari.

Saat ini aku akan menceritakan kisah hidupku. Tidak bisa disebut sebagai perjuangan, karena jarang sekali aku memperjuangkan sesuatu selama ini. Lebih banyak penyia-siaan hidup. Semoga saja tak ada yang akan bosan mendengarnya, karena menurutku hidupku saja sudah cukup membosankan.

Kisah ini akan kubagi menjadi seratus bagian. Lima puluh bagiannya akan menceritakan tentang masa laluku, dan lima puluhnya lagi akan menceritakan tentang masa depanku. Yang pasti ke-lima puluh bagian selanjutnya akan kuceritakan setelah kelima puluh bagian sebelumnya habis. Sambil aku menceritakan lima puluh bagian pertama, maka aku akan menjalani lima puluh bagian yang akan datang. Dan saat ini kita sudah memasuki bagian pertama dari kisah masa laluku.

Bagian Pertama

Satrio, begitu Ibu dan Ayahku memberikan aku nama. Satrio yang berarti kesatria. Gagah berani dan tak kenal menyerah. Kemudian nama Muhammad yang disematkan di depan namaku adalah nama dari almarhum Kakek, yaitu orang tua dari Ayahku. Hanya Muhammad saja namanya, hanya satu kata yang artinya sangat indah, yaitu “Cahaya di langit dan di bumi”, dan itu adalah nama Rasul kami yang kami imani sebagai utusan Tuhan kami Yang Maha Satu. Nama yang sangat indah. Nama yang sang pemiliknya diharuskan memiliki tanggung jawab yang luar biasa sebagai pengembannya. Maka jika salah seorang sastrawan barat pernah mempertanyakan arti sebuah nama, mungkinkah ia tidak memiliki nama yang baik yang patut ia syukuri?

Aku dilahirkan di sebuah klinik dekat rumahku. Dengan pertolongan seorang bidan yang amat baik hati. Beliau memiliki hati yang baik, namun sayangnya beliau tidak mengimani Tuhan kami Yang Maha Satu. Maka percuma aku mendoakan kebaikan untuknya jika Tuhan Yang Maha Satu saja tidak ia percayai.

Lalu apakah kalian tahu mengapa saat itu Ayah tidak membawa Ibu ke rumah sakit? Tentu saja itu sangat beralasan. Karena saat itu rumah sakit letaknya sangat jauh, berbeda dengan saat ini yang dapat kita temui di berbagai tempat. Ayah pun lebih memilih hati nuraninya untuk tidak membawa Ibu ke rumah sakit disaat kondisi Ibu yang beberapa jam lagi akan melahirkan aku.

Aku pernah diceritakan tentang bagaimana Ayahku yang seorang pegawai pemerintahan itu bisa panik setengah mati. Karena Ayahku sangat ingin Ibu dapat menjalankan proses kelahiran dengan baik hingga Ibu dan aku selamat. Lalu kemudian terbukti, setelah beberapa jam terlewati, dan Ayah yang tadinya bersikap panik malah kegirangan dan melompat-lompat seperti orang yang habis menang lotre.

Jelasnya aku dilahirkan dalam keadaan sehat dan diharapkan untuk menjadi kebanggaan bagi keluargaku, beban anak pertama yang seolah mengancamku. Kedua orang tuaku membanting tulang dan memeras otak mereka untuk bekerja, mencari uang, dan kemudian menyuplai diriku dengan asupan gizi yang terbaik. Dan kita tahu bahwa di republik ini gizi amatlah mahal harganya.

Gizi terbaik yang mereka berikan dahulu tidak sia-sia. Mereka membuat otakku encer dalam berpikir, bahkan sebagian dari keluarga besarku menganggap aku jenius. Tidak heran, karena aku sudah lancar berbicara dengan orang sejak aku bahkan belum bisa berjalan. Yah, walaupun aku pikir bahwa diriku adalah anak yang pembangkang. Karena kecerdasan itu kadang aku gunakan untuk hal yang hanya sesuai dengan kepentingan diri sendiri, bukan digunakan dalam berbagai pekerjaan sekolah yang selalu aku anggap sebagai sesuatu hal yang tidak penting.

Sangat menarik apabila membicarakan persoalan sekolah ini denganku. Karena sewaktu aku duduk di kelas dua sekolah dasar, aku sudah berdebat masalah agama dengan guruku yang berbeda keyakinan denganku. Aku masih ingat pandangan mata guru itu, pandangan yang menunjukkan kalau ia sangat meragukan keyakinan yang ia anut. Dan aku mengatakan kepadanya, “Ibu akan terbakar bersama setan di neraka.” Itu bukanlah ancaman dariku, karena aku tahu bahwa setan pun tau jika Tuhan tak akan mengizinkan siapapun yang tak mempercayai-Nya untuk menikmati surga.

Di sekolah dasar, kecerdasanku dapat aku gunakan dengan baik untuk macam-macam disiplin ilmu yang aku pelajari, meski terkadang aku bosan karena mereka mengajarkan sesuatu yang sudah aku ketahui dari Kakekku.

Oh ya, aku lupa menceritakan tentang almarhum kakekku. Beliau adalah seorang laki-laki yang amat aku kagumi. Meskipun terkadang silang pendapat terjadi di antara kami. Kakek adalah seorang pejabat di sebuah lembaga pemerintah. Kalau menurutku beliau setengah pejabat, karena gajinya saat itu tergolong kecil. Dan hebatnya kakek tidak pernah mau korupsi. Karena beliau tahu Tuhan kami amat murka terhadap hal itu.

Dahulu sewaktu muda, pekerjaan kakek adalah berkeliling Eropa. Beliau adalah penghubung antar koresponden pemerintah di lembaga tempat beliau bekerja. Sebuah pekerjaan yang menyenangkan bukan? Di kala itu orang sangat mengidam-idamkan perjalanan keliling Indonesia, kakek malah sudah pernah berkeliling Eropa. Dan dari hasil perjalanannya itulah kakek banyak memberikan wawasan kepadaku. Tidak hanya wawasan tentang perjalanan yang beliau lakukan di Eropa, namun juga di berbagai tempat lainnya.

Kembali ke cerita tentang sekolah dasarku.

Menginjak kelas empat, aku sudah mulai jenuh dengan macam-macam pengetahuan yang sekolah tawarkan. Aku mulai asyik bermain dengan duniaku sendiri, dan malas mengerjakan Pekerjaan Rumah (PR) yang diberikan guru-guruku. Hasilnya ranking satu yang selalu identik dengan diriku sejak aku kelas satu, harus jatuh ke tangan orang lain. Guruku menganggapku cerdas, tapi sifat malas yang aku tunjukkan itulah yang menyebabkan guruku menurunkan peringkatku menjadi peringkat empat. Sebuah hal yang menyesakkan bagi sebagian anak pada usia itu, dan sebuah hal yang memalukan bagi para orang tua karena tak ada lagi cerita yang bisa mereka bisa banggakan dari anak mereka saat berkumpul bersama orang tua lainnya. Tapi bagiku, ranking tidaklah penting. Ranking bukanlah tolak ukur kecerdasan seseorang, dan kalian tahu? Pada saat itulah para setan menghampiriku untuk menanamkan bibit kesombongan pada diriku. Seharusnya aku tahu itu. Masalahnya saat itu aku masih terlalu kecil untuk menyadari mereka.

Di kelas lima, aku mendapati guru yang amat suka sekali dengan hal-hal yang di luar logika. Kakekku menyebutnya klenik. Guru yang memiliki masalah pada dirinya. Ia selalu berprasangka buruk pada orang lain. Aku tahu hidupnya pasti tak akan bisa tenang, karena dahulu ia bersama keluarganya murtad dan mengingkari Tuhan Yang Maha Satu. Dan ia selalu melecehkan Tuhan kami dengan berkata bahwa surah Al-Fatihah yang terdapat dalam Qur’an jika dibaca dengan terbalik akan dapat dijadikan mantra. Dan ia mampu membacanya secara terbalik. Dan aku pun tahu bahwa setan selalu menaunginya. Itulah sebab hidupnya tak akan pernah tenang.

Paling tidak saat kelas enam aku mendapati guru yang sangat memperhatikan dan peduli pada masalahku. Beliau bagai seorang Ibu di sekolahku. Dari beliau aku sadar aku harus mendapatkan pendidikan yang terbaik untukku. Pendidikan yang tidak membosankan. Setidaknya hal itu yang aku pikirkan jika aku berhasil mendapatkan sekolah unggulan di Jakarta. Maka akupun mengerjakan ujianku dengan sebaik-baiknya, berharap mendapatkan nilai terbaik yang dapat membawaku masuk kepada salah satu sekolah idaman di Jakarta ini.

Bersambung…

Story & writter : Tio Alexander

Iklan