Berbicara mengenai twitter, berarti berbicara tentang “follow – unfollow”; atau dalam Bahasa Indonesia berarti “mengikuti – berhenti mengikuti”. Itulah salah satu trend di awal periode zaman informasi ini. Informasi kini menyebar dengan mudahnya secepat cahaya yang melintasi galaksi-galaksi, terutama sekali semenjak adanya twitter.

Twitter adalah microblogging provider yang termasuk dalam jejaring sosial dunia maya. Digunakan untuk saling berhubungan antar individu atau grup melalui dunia nyata tanpa adanya hambatan ruang dan waktu. Kira-kira seperti SMS-an, bedanya kalau SMS 160 karakter huruf, twitter hanya 140 karakter. Twitter menjadi populer di Indonesia semenjak 2009 dan kini penggunanya di Indonesia diperkirakan sudah mencapai 5 juta pengguna.

Manfaat dan pengaruh twitter sudah banyak dirasakan para penggunanya. Dengan twitter, penggunanya dapat saling memberikan informasi berupa kegiatan aktivitas mereka, mengajukan pertanyaan, jajak pendapat, sampai media promosi. Karena itulah twitter banyak digunakan oleh para artis dan merek produk untuk berpromosi dan membangun citranya di masyarakat.

Tapi jangan salah, twitter juga malah memudahkan orang untuk memata-matai aktivitas kita sehari-hari. Pilihlah follower sesuai dengan kebutuhan kita, kalau perlu gunakan fasilitas protect tweet untuk melindungi kita dari follower tidak dikenal.

Gambah di atas adalah contoh Perlindungan dalam Twitter. Orang harus mengirimkan permintaan dahulu sebelum benar-benar bisa mem-follow dan melihat isi aktivitas yang kita tulis twitter kita.

Follow dan Unfollow

Para pemakai twitter tentunya amat mengerti betul tentang fitur follow dan unfollow ini, karena inilah kunci untuk kita agar bisa saling berhubungan dan berkomunikasi dalam twitter.

Follow berarti mengikuti seseorang yang akan kita ikuti status twitternya setiap saat. Dengan begitu maka kita akan bisa mengetahui beragam aktivitas yang orang itu tuliskan di twitternya. Namun tentunya status twitter sang follower tidak bisa dilihat oleh orang yg kita follow, karena itulah tidak akan ada hubungan dua arah, kecuali sang follower mengirimkan mention, yaitu dengan menuliskan lambang @ di depan nama orang yang kita follow. Misalnya @Indonesia

Unfollow berarti berhenti mengikuti status-status twitter orang yang sebelumnya kita follow.

Contoh ilustrasi :

Klik follow jika ingin memfollow orang yang kita ingin ikuti tweet atau statusnya.

Maka kita secara otomatis mengikuti tweet orang tersebut, terkecuali twitternya diproteksi.

Apabila kita ingin berhenti mengikuti tweet orang tersebut, tinggal kita klik unfollow.

Tentunya jumlah follower kita sangat berarti, terutama yang berniat ingin terkenal. Dengan semakin banyak follower kita, maka semakin banyak pula orang yang akan dapat berkomunikasi dengan kita.

Tapi justru disitulah masalahnya!

Banyak orang yang terlalu menganggap follower adalah hal yang sangat penting, sehingga mereka mencari berbagai cara untuk dapat mendapatkan follower sebanyak-banyaknya tanpa sadar bahwa aktivitas dan perkataan mereka telah diikuti dan dipantau banyak orang di dunia maya. Bahkan banyak diantara mereka yang belum atau bahkan tidak mengenal jelas siapakah follower kita sebenarnya. Tidak berlebihan apabila saya berkata bahwa dunia maya adalah dunia yang berbahaya, karena nyaris kita tidak sadar bagaimana hal itu dapat bekerja untuk mempengaruhi hidup kita.

Follower ada yang baik dan ada pula yang jahat usil. Follower yang baik akan sangat bermanfaat bagi kita untuk saling berbagi banyak informasi yang bermanfaat pula untuk kita dan untuk mereka. Tapi lain halnya dengan follower jahat usil, mereka bahkan dapat membuat citra kita buruk di pikiran banyak orang apabila mereka me-retweet (RT) atau menulis ulang status (tweet) kita dengan mengganti tulisan yang kita buat, sehingga dapat menjadi mis-persepsi bagi orang banyak (terutama follower sang follower jahat usil tersebut). Dan hal itu terbukti, karena saya pernah mengalaminya sendiri.

“Tweetmu adalah Harimaumu.”

Setelah masalah follower, kita beralih ke masalah unfollow.

Di-unfollow seseorang yang kita kenal amatlah menyakitkan. Begitulah yang dulu saya rasakan. Dan mungkin banyak juga yang merasakannya. Terkadang justru hal-hal sepele malah yang membuat orang lain meng-unfollow kita. Bisa karena salah paham, sakit hati, atau banyak hal lainnya. Yang jelas pastinya korban unfollow tersebut akan bertanya-tanya, “Apakah kesalahan saya?” Karena secara teori twitter, unfollow artinya memutuskan tali silaturahim.

Mari kita ambil contoh kasus :

Pernah suatu hari saya di-unfollow oleh salah satu kenalan saya, dia adalah seorang penulis. Kami sama-sama hobi menulis dan sudah saling mengenal sejak beberapa tahun lalu (mungkin sekitar 8 tahun lalu). Hubungan kami baik-baik saja, sampai suatu hari dia memperkenalkan saya kepada kawannya, seorang musisi. Dia dan musisi itu bahkan belum lama kenal, tapi herannya dia sangat terpengaruh dengan sang musisi tersebut. Ya mungkin saja karena sang musisi tersebut orang terkenal, sedangkan saya bukan.

Suatu hari, saya berdebat serius dengan sang musisi tersebut di twitter. Kami debat soal sebuah masalah yang agak sensitif di kalangan anak muda (baca : cewek). Sang musisi tersebut berbuat kesalahan yang menurut saya sangat fatal, sehingga dia harus mempertanggungjawabkan kesalahannya tersebut.

Jujur saja, dalam sebuah perdebatan saya adalah orang yang sangat frontal dan kritis. Pantang bagi saya menyerah apabila ada sebuah kesalahan yang teramat fatal, khususnya tentang Islam.

Setelah kejadian itu, sang musisi tersebut malah mempengaruhi kawan saya agar menjauhi saya, dan kemudian dia meng-unfollow saya. Saya bertanya-tanya, apa yang sedang terjadi? Apa kesalahan saya terhadapnya?

Banyak hal tentang masalah itu dalam pikiran saya. Dan otomatis komunikasi kami terputus (karena kawan saya itu hanya memiliki twitter).

Pengalaman di Twitter

Pengalaman di twitter ini sebenarnya dapat kita jadikan pelajaran untuk hidup kita, tentang bagaimana kita bersikap dan berkata (baca : menulis tweet). Kita juga harus tau bahwa kita sedang diperhatikan banyak orang (follower kita). Anggap saja kita adalah publik figur dalam skala kecil. Jika kita baik, maka bisa jadi orang akan meneladani kebaikan kita. Namun begitu pula sebaliknya, keburukan kita akan dapat menjatuhkan kita. Masih ingatkan ada peribahasa, “Nila setitik merusak susu sebelanga” atau keburukan orang yang sedikit terlihat akan terus diingat, sedang kebaikan malah mudah terlupa.

Tapi patut diingat juga. Yang benar-benar paham tentang diri kita ini kan hanyalah kita sendiri dan Tuhan kita, karena itulah biarlah orang menilai kita buruk walaupun kita sebenarnya tidak buruk. Allah Maha Penilai, justru yang terpenting ialah nilai kita di hadapan Allah.

Bahkan Rasulullah pernah berkata :

“Ada urusan apa aku dengan dunia? Aku di dunia ini tidak lain kecuali seperti seorang pengendara yang mencari teteduhan di bawah pohon, lalu beristirahat, kemudian meninggalkannya.”
(Muhammad saw)

Jadi yang sebenarnya bukanlah kata dunia, tapi : “Apa kata Allah nanti?”

Paling tidak, pendapat-pendapat dari orang-orang yang tidak suka dengan kita itulah yang bisa menjadikan kita supaya menjadi manusia yang mawas diri dan lebih baik lagi dalam berhubungan dengan sesama manusia dan makhluk Allah lainnya. 🙂

Maaf kalau kepanjangan… 😀

Tio Alexander™

Iklan