Stasiun TV yang berwarna merah kini sedang berharap-harap cemas. Pasalnya polri kini tidak mendukungnya dan malah menyerang balik dengan menuduh TVOne melakukan kebohongan publik karena menampilkan “markus” palsu atau makelar kasus palsu.

TV merah pun sepertinya agak gusar menghadapinya. Media-media yang selama ini berseberangan dengan TVOne dan VivaNews mulai melancarkan serangan-serangan propaganda medianya. Jika dilihat dari perspektif bisnis, persaingan adalah suatu kewajaran, toh mereka semua mengejar rating, dan terkadang menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya.

Saya teringat dengan sebuah istilah di dunia “New World Order” :

“Siapa yang dapat mengendalikan media, dialah yang dapat menguasai dunia”

Kalimat itu sepenuhnya benar pada era informasi saat ini. Apalagi kultur di Indonesia yang cenderung latah dan tidak melakukan kroscek berita terlebih dahulu. Karena justru propaganda media akan lebih mudah dilakukan. Tidak berlebihan bahwa istilah zaman dulu yang menyatakan bahwa TV adalah “kotak sihir” yang dapat mengubah watak manusia juga cenderung benar.

Saya adalah penggemar berita di televisi, media internet, maupun media cetak. Tapi tentunya untuk mendapatkan sebuah berita yang benar-benar teruji keabsahannya, saya harus dapat melihat berita itu dalam berbagai macam perspektif, karena itulah hampir semua media saya tuju untuk mendapatkannya. Tidak melulu mengambil dari satu media, karena itu dapat menjadikan daya kritis kita melemah.

Tapi kini saya melihat adanya persaingan yang kurang tidak sehat dari media-media tersebut. Saya seperti melihat sebuah alur yang hendak saling menghancurkan satu sama lainnya. Bahkan jika mereka terus saling menghancurkan, maka kredibilitas mereka akan dipertaruhkan.

Lihat saja salah satu status Facebook stasiun TV biru ini :

Saya tidak tau bagaimana para pembaca blog un2kmu menyikapi status ini. Tapi bagi saya hal ini sudah melewati norma budaya kita. Norma budaya kita mengajarkan untuk tidak mengejek orang yang sedang tertimpa masalah atau musibah. Terlebih lagi Indonesia adalah negara muslim terbesar di dunia, Rasulullah saw. mengajarkan agar kita untuk selalu berkhusnudzon (berbaik sangka) terhadap orang lain (atau dalam hal ini institusi lain). Rasulullah saw. bahkan menghormati musuhnya, sehingga mereka pun menyegani beliau sebagai orang yang sangat berjiwa besar.

Jika melihat kasus yang belum tentu benar adanya ini, maka terlalu kekanak-kanakan apabila terjadi saling mengejek antara dua stasiun TV paling berpengaruh ini. Kita juga harus menyikapinya dengan asas praduga tak bersalah, karena bukti-bukti yang diutarakan Polri bahkan belum dikeluarkan. Sejujurnya saya bahkan tidak percaya lagi dengan institusi polisi kita yang sudah bobrok sejak lama, melihat berbagai kasus yang menimpa orang-orang yang kurang beruntung di Indonesia ini.

Apa jadinya jika Indy Rahmawati tidak bersalah? Atau malah ini sebuah jebakan yang sebelumnya telah disiapkan? Segala kemungkinan ada, karena ini adalah bisnis yang sangat mengandalkan pengaruh. Dan apabila kemungkinan yang sebenarnya dapat merugikan dan menjadikan citra yang buruk pada salah satu pihak, baiknya pihak yang memenangkan peperangan berjiwa besar dan bukannya malah memblow up terlalu berlebihan. Karena menurut saya propaganda yang beberapa hari ini saya lihat di berbagai media sudah cukup berlebihan.

Semoga kebenaran yang akan menang, karena Allah memberkahi kehidupan orang yang jujur. 🙂

Iklan