Pada suatu malam Jum’at aku berada di suatu pekuburan. Aku tertidur di sana. Dalam tidurku aku bermimpi melihat sebuah kuburan yang membelah. Lalu, keluarlah beberapa orang yang telah mati. Mereka duduk melingkar. Tiba-tiba jatuhlah sebuah talam yang tertutup. Di antara mayat-mayat itu ada anak muda yang disiksa dengan berbagai jenis siksa.

Aku mendekati pemuda itu dan berkata, “Hai anak muda! Ada apa denganmu? Mengapa engkau disiksa sementara kaummu tidak?”

Dia menjawab, “Hai Shalih! Demi Allah, engkau harus menyampaikan apa yang aku perintahkan dan amanahkan kepadamu! Bantulah keterasinganku! Mudah-mudahan Allah menjadikan jalan keluar bagiku dari siksa ini melaluimu.

Ketika meninggal, aku mempunyai seorang ibu. Ibuku mengumpulkan beberapa orang untuk meratapiku. Setiap hari mereka meratapiku. Akibat ratapan itulah aku disiksa api dari kanan dan kiri, dari depan dan dari belakang. Ratapan mereka membuatku mendapat keburukan ini. Mudah-mudahan Allah tidak memberikan kebaikan kepadanya.

Setelah mengucapkan kata-kata itu, pemuda itu menangis. Aku ikut menangis pula.

Lalu ia berkata lagi kepadaku, “Hai Shalih! Tolong engkau temui ibuku.” (Pemuda itu memberi tahu daerah tinggal ibunya)

“Lalu katakan olehmu padanya; Mengapa engkau menyiksa anakmu yang engkau lindungi dari berbagai bahaya?? Mengapa engkau menjerumuskanku ke dalam siksa?? Wahai ibu!! Jika engkau melihatku, sementara berbagai belenggu berada di atas pundakku, rantai mengikat membelit kakiku, dan malaikat menyiksa memukuliku dan menghardikku, engkau akan merasa kasihan kepadaku. Apabila engkau tidak menghentikan perbuatanmu, meratapiku, aku akan mendakwamu pada Hari Penghisaban.”

Aku terbangun kaget aku termenung di tempatku dalam keadaan bingung hingga fajar.

Ketika waktu subuh tiba, aku masuk ke sebuah kampung. Aku tidak punya tekad apapun kecuali mendatangi daerah tempat tinggal ibu anak muda tadi. Aku mendapat kabar dari penduduk kampung tentang sang ibu itu. Aku segera datang ke tempat yang di tunjukkan oleh orang kampung. Ternyata, pintu rumah si ibu itu terbuka. Suara orang-orang meratap terdengar dari dalam.

Aku mengetuk pintu, tampak seorang ibu dengan mengenakan baju hitam. Sementara itu, mukanya tampak hitam akibat banyak menangis dan dipukuli oleh tangannya sendiri.

Dia berkata kepadaku, “Siapakah engkau??”

Aku berkata, “Aku Shalih al-Marri. Pada suatu malam aku menemukan kejadian begini dan begini…” (ia menceritakan kejadian yang dialaminya)

Ketika mendengar apa yang aku katakan, dia pingsan dan tersungkur ke tanah. Ketika sadar ia menangis keras.

Dia berkata, “Duhai anakku! Jika mengetahui akan seperti itu keadaanmu akibat ulahku, aku tidak akan melakukan perbuatan seperti itu. Sekarang aku bertobat dari perbuatan ini.”

Setelah mengucapkan perkataan itu, si ibu masuk ke dalam dan perempuan-perempuan yang ikut meratap dibubarkan. Dia mengganti baju yang tadi ia pakai. Lalu, ia mengeluarkan sebuah kantung kecil yang di dalamnya berisi uang dirham yang sangat banyak.

Dia berkata, “Wahai Shalih! Tolong engkau sedekahkan uang ini atas nama anakku.”

Setelah itu aku berpamitan kepadanya dan mendoakan kebaikannya. Aku pergi untuk menyedekahkan uang tersebut.

Ketika malam Jum’at berikutnya tiba, aku mendatangi lagi perkuburan tersebut. Dan aku tertidur lagi di sana. Dalam tidur itu aku bermimpi melihat ahli kubur keluar dan melingkar. Tiba-tiba sebuah talam meluncur dari atas. Pemuda itu tertawa dan tampak bahagia. Ketika melihatku, dia menghampiriku dan berkata, “Hai Shalih! Semoga Allah membalas kebaikanmu. Allah telah meringankan siksaku. Hal itu disebabkan oleh ibuku sudah tidak meratapiku. Dan apa yang disedekahkannya sampai kepadaku.”

Aku bertanya tentang talam yang turun kepada mereka. Pemuda itu menjawab, “Talam itu adalah hadiah dari orang-orang yang hidup kepada orang yang telah meninggal. Ia berupa sedekah, bacaan dan doa. Sekarang engkau kembali kepada ibuku dan ucapkan salam dariku serta sampaikan semoga Allah membalas kebaikan kepadanya.

Hukum meratapi orang meninggal :

Rasulullah bersabda : “Tidak termasuk golongan kami orang yang menampar pipi dan merobek-robek pakaian dan menyeru dengan seruan jahiliah.” (HR. Bukhari)

Zainab binti Abu Salamah meriwayatkan dari Ummu Habibah isteri Nabi s.a.w. ketika ayahnya, Abu Sufyan meninggal dunia. Dia juga meriwayatkan dari Zainab binti Jahsy ketika saudaranya yang laki-laki meninggal dunia. Kedua isteri Nabi ini tidak memakai uangi-uangian, kemudian ia berkata: “Demi Allah, saya tidak lagi memerlukan uangi-uangian, namun saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tidak halal seorang perempuan yang beriman kepada Allah dan hari akhir, berkabung karena kematian, lebih dari tiga malam, kecuali atas kematian suami, maka harus berkabung empat bulan sepuluh hari.” (Riwayat Bukhari)

Berkabungnya isteri karena meninggalnya suami adalah wajib yang sama sekali tidak boleh diabaikannya, sebab ada satu riwayat sebagai berikut:

“Telah datang seorang perempuan kepada Nabi s.a.w. kemudian ia berkata: sesungguhnya anak perempuanku ditinggal mati oleh suaminya dan matanya menjadi bengkak (karena menangis), apakah boleh saya suruh dia memakai celak? Maka jawab Rasulullah: Tidak! Dua kali atau tiga kali, tiap kali ditanya selalu menjawab tidak.” (HR. Bukhari dari Ummu Habibah)

Lalu Riwayat pada zaman Umar bin Khattab :

Diriwayatkan, bahwa Umar Ibnul-khattab pernah mendengar sementara perempuan menangis karena kematian Khalid bin al-Walid, kemudian ada sementara orang laki-laki yang hendak melarangnya, maka kepada si laki-laki tersebut, Umar berkata: “Biarkanlah dia menangis karena kematian Abu Sulaiman ini (Khalid bin Walid), selama tangisnya itu tidak menabur-naburkan debu di atas kepalanya dan tidak teriak-teriak.“