Sambil memperhatikan peristiwa-peristiwa yang diberitakan di media cetak dan media elektronik belakangan ini, kemudian saya berdialog dalam hati.

“Ini dunia nyata kan?”

“Ya, tentu saja dunia nyata. Mengapa kau bertanya seperti itu?”

“Apa manusia dapat mengetahui hal yang kira-kira akan terjadi?”

“Tidak, hanya Allah Yang Maha Mengetahui.”

“Lalu mengapa aku dapat memprediksi berbagai peristiwa yang akan terjadi?”

“Tentu saja, karena kau mengetahui apa yang orang lain sangka gurauan.”

Apa yang orang sangka sebagai gurauan?

Mari kita kembali bernostalgia dengan salah satu lagu lawas yang diciptakan oleh Ian Antono dan Taufik Ismail.

Panggung Sandiwara

Dunia ini panggung sandiwara
Cerita yang mudah berubah
Kisah Mahabarata atau tragedi dari Yunani
Setiap kita dapat satu peranan
Yang harus kita mainkan
Ada peran wajar ada peran berpura pura

Mengapa kita bersandiwara?
Mengapa kita bersandiwara?

Peran yang kocak bikin kita terbahak bahak
Peran bercinta bikin orang mabuk kepayang
Dunia ini penuh peranan
Dunia ini bagaikan jembatan kehidupan

Mengapa kita bersandiwara?
Mengapa kita bersandiwara?

Dunia ini penuh peranan
Dunia ini bagaikan jembatan kehidupan

Mengapa kita bersandiwara?

Lagu dengan lirik sederhana namun kaya makna ini merupakan gambaran dari kehidupan manusia saat ini. Banyak yang bersandiwara, baik itu memainkan peran yang wajar atau yang hanya berpura-pura. Para pemain wajar digambarkan layaknya manusia yang hidup kebanyakan. Mereka bangun pagi, kemudian bekerja, pulang petang, lalu istirahat untuk kemudian paginya bekerja lagi. Sebuah lingkaran sederhana yang telah tercipta sejak manusia pertama kali menancapkan peradabannya di surga ‘adn (Bumi) ini.

Lain halnya dengan manusia yang lain dari kebanyakan. Mereka bermain sandiwara dengan berpura-pura. Mereka berpura-pura untuk mengumpulkan emas dan permata yang melimpah demi kekuasaan mereka. Mereka bahkan menyewakan surga ‘adn yang telah Allah berikan secara cuma-cuma ini kepada kebanyakan manusia yang lainnya. Mereka sedikit jumlahnya, tapi ketamakannya menyerupai keseluruhan hasrat dan ego manusia.

Bagi orang kebanyakan, hidup tenteram dan penuh kebahagiaan adalah impian mereka. Walaupun kebanyakan dari mereka tanpa mereka sadari menyembah dunia mereka. Mereka menyembah uang, menyembah bos mereka, menyembah televisi, menyembah kesenangan hidup, dan menyembah macam-macam yang ada di dunia. Meskipun beberapa dari mereka sadar kalau yang mereka sembah adalah ‘milik’ dari orang-orang yang menyewakan surga ‘adn tadi, yaitu segelintir orang yang menguasai dunia dari balik layar.

Bagi kebanyakan orang, mungkin membingungkan. Atau malah ada yang menyangkalnya dengan alasan hanya gurauan. Padahal ini adalah gurauan yang menyakitkan bagi mereka. Mengapa saya bilang menyakitkan? Karena pastinya hati kecil mereka sadar jika gurauan yang mereka maksud itu adalah kenyataan yang terjadi.

Kenyataan yang disangkal?

“Sesungguhnya Kami benar-benar telah membawa kebenaran kepada kamu tetapi kebanyakan di antara kamu benci pada kebenaran itu.”
Qur’an surah Az Zukhruf (43) : 78

“Kenapa anda mengutip Al-Qur’an?”

“Karena jika Tuhanku Yang Maha Satu telah menuliskannya maka itulah kebenaran yang nyata.”

Allah telah menuliskan dalam Qur’an bahwa kebanyakan manusia akan membenci pada kebenaran (kenyataan yang sebenarnya). Ini sangat menarik, karena ternyata bukan hanya penyangkalan yang terjadi, tapi sudah masuk pada stadium akhir dari keburukan ego manusia, yaitu membenci.

“Membaca ayat tersebut, hamba dan hati hamba bersedih, Ya Allah… Bagaimana kami dapat memberitakan kebenaran jika kebanyakan orang malah membencinya?”

“Hai hamba-hamba-Ku, tiada kekhawatiran terhadapmu pada hari ini dan tidak pula kamu bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami dan adalah mereka dahulu orang-orang yang berserah diri.”
Qur’an surah Az Zukhruf (43) : 68-69

Lalu bagaimana dengan orang kebanyakan itu?

“Dan tidaklah Kami menganiaya mereka tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.”
Qur’an surah Az Zukhruf (43) : 76

Orang-orang yang kebanyakan tersebut telah menganiaya diri mereka sendiri. Mereka menyangkal dan bahkan membenci kenyataan yang terjadi. Mereka hanya berpikir bahwa kehidupan yang ada di dunia ini tanpa fitnah. Padahal mereka hidup dengan menyembah apa-apa yang ada di dunia. Mereka menyembah uang, mereka menyembah harta benda, bahkan mereka pun menyembah sesama manusia. Karena apa? Hanya agar merasa tenteram di dunia?

Fitnah yang saya maksud di sini adalah fitnah dalam artian aslinya lho (bahasa Arab). Fitnah yang berarti aniaya. Karena itulah Allah telah menuliskan bahwa kebanyakan manusia menganiaya dirinya sendiri karena menolak kebenaran. Kebenaran yang telah diputar balikan oleh sebagian manusia jahat yang berada di balik layar.

Mengenal orang-orang jahat di balik layar itu.

Mereka yang berada di balik layar itu tak ubahnya seperti pemimpin yang dzalim. Walaupun sebenarnya mereka tidak berada di kursi kepemimpinan yang terlihat. Mereka duduk di singgasana rahasia, namun pula para pemimpin dunia bersujud menciumi kaki mereka. Merekalah sang sutradara segala konspirasi yang ada di dunia.

“Kau tau siapa mereka?”

“Ya, aku tau. Merekalah pemeran sandiwara yang hanya berpura-pura.”

Mereka duduk memantau kita dari jauh. Memantau gerak-gerik kita. Mungkin juga mereka menganggap diri mereka tuhan. Karena mereka pikir merekalah yang mengendalikan hidup manusia yang lainnya. Mereka mengendalikan peristiwa yang terjadi, mereka pikir mereka mengendalikan takdir. Mereka membuat bencana dengan teknologi, mereka pikir itulah kekuasaan yang tak tersentuh mereka. Mereka seperti “Invisible Hand” atau tangan tak terlihat yang mengendalikan manusia lainnya sebagai bonekanya. Dan pada kenyataannya kebanyakan manusia menyembah apa yang mereka kuasai.

Invisible Hand dan All Seeing Eye

Jika membicarakan mereka yang mengatur segala sandiwara yang ada di dunia, sama saja membicarakan bagaimana mereka membuat sandiwara itu agar menarik dan menguntungkan bagi mereka. Ingat : “…menguntungkan bagi mereka.”

Mereka yang menjadi orang-orang di balik sandiwara itu mengendalikan dunia dengan satu simbol yang dikenal dengan “Invisible Hand” oleh para pengamat politik masa kini. Yaitu tangan tak terlihat yang mencengkeram dunia dengan kekuatan-kekuatan mereka, seperti uang, riba, hiburan, zina, makanan haram, dan banyak hal yang Allah larang.

Jika teringat revolusi-revolusi yang terjadi di banyak tempat di dunia, saya seperti mendapatkan sebuah garis lurus. Mereka hancur karena mereka menganiaya diri mereka sendiri. Sementara rakyat di negeri itu terlena dengan hal-hal yang diberikan oleh sang “Invisible Hand”, hingga akhirnya mereka diperbudak. Dengan kemaksiatan para raja dijatuhkan. Dengan hiburan para anak kecil dibodohi. Dengan zina para pemuda dilemahkan. Dengan minuman beralkohol dan rokok para orang tua dilalaikan. Dengan hutang sebuah negeri menjadi budak.

“Di dunia ini tidak ada tempat bagi yang namanya kebebasan, persamaan dan persaudaraan. Slogan-slogan itu tidak lebih dari ucapan kosong, yang diperkenalkan oleh kita sendiri, lalu kita letakkan di bibir masyarakat umum agar mereka menggunakan berulang-ulang, persis burung beo. Sesungguhnya sistem pemerintahan yang sekarang di Perancis adalah berdasarkan aristokrasi keturunan. Kita akan menghancurkan semua itu dengan slogan kosong tersebut di atas. Setelah itu baru kita bangun sebuah pemerintahan di atas puing-puing pemerintahan lama, dengan prinsip aristokrasi baru. Semua di tangan kita.”
~ Mayer Amschel Rothschild (Pelopor Zionisme), 1773

“Kami membentuk perkumpulan dengan menyebarkan anggota-anggotanya ke seluruh pelosok bumi, dengan maksud untuk menyingkirkan setiap kendala yang menghalangi gerakan kami. Di situ terdapat tirai tersembunyi yang melilit setiap diri kami, dengan tak seorang pun yang mengetahui, kecuali… meskipun lilitan tirai itu kami rasakan berat, namun kami tidak tahu siapa yang memasangnya, dan di mana tirai itu. Sungguh, rahasia dalam perkumpulan kami merupakan misteri besar.”
~ Mazzini, tokoh Zionisme Yahudi Internasional

“Saya melihat dengan jelas sebuah ancaman krisis sedang datang mendekati kita sedikit demi sedikit, yaitu sebuah krisis yang membuat bulu-kudukku berdiri, karena cemas apa yang bakal menimpa negeri ini. Siasat suap-menyuap telah menjadi cara yang selalu dijadikan pegangan. Pada gilirannya, kelak akan terjadi kerusuhan dan kehancuran besar-besaran, sebagaimana seluruh kekayaan negara pada akhirnya akan jatuh ke tangan sekelompok kecil orang yang tidak segan-segan lagi menelan dan sekaligus menghancurkan bangsa ini.”
~ Abraham Lincoln, dalam pidato terakhirnya sebelum ia dibunuh, 1865

“Perang sekarang diusulkan untuk tujuan pembentukan pengaruh Yahudi di seluruh dunia”
~ General George van Horn Mosely, New York Tribune, 29 Maret 1939

“Jika Anda akan melihat kembali rekaman (sejarah), Anda akan menemukan bahwa mereka yang menentang intervensi terus-menerus berusaha untuk mengklarifikasi fakta-fakta dan masalah, sedangkan intervensionis (zionisme) telah mencoba untuk menyembunyikan fakta dan membuat masalah yang membingungkan.”
~ Charles Lindbergh, “Des Moines Speech” 11 September 1941

Apa yang saya sebut sekelompok kecil tadi kami sebut sebagai Zionisme Internasional. Sebuah kelompok yang menggunakan simbol “All Seeing Eye” alias simbol Dajjal. Dan merekalah salah satu Dajjal yang telah secara nyata menguasai dunia. Mereka bahkan dapat menguasai segala kegiatan kita melalui satelit.

Mereka telah menggambarkannya sejak dahulu. Kecerdasan yang Allah berikan kepada mereka telah digunakan untuk berbuat kerusakan di muka bumi. Surga ‘Adn yang dahulu penuh dengan kenikmatan kini akan mereka ubah menjadi neraka dunia karena ulah mereka.

Mereka meracuni anak-anak kita dengan virus berbahaya. Mereka bahkan mengendalikan politik dan ekonomi kita.

Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata: “Rasulullah saw. bersabda: Inginkah kamu sekalian aku beritahukan tentang Dajjal, suatu keterangan yang belum pernah diceritakan seorang nabi kepada kaumnya? Sesungguhnya ia buta sebelah mata (bermata satu), ia datang dengan membawa sesuatu seperti surga dan neraka. Maka apa yang dikatakannya surga adalah neraka dan aku telah memperingatkan kalian terhadapnya sebagaimana Nabi Nuh telah memperingatkan kaumnya.” (Shahih Muslim No.5227)

Mereka menatap kita dengan satu mata mereka. Tapi Allah menciptakan 3 mata untuk kita melindungi diri, yaitu 2 mata jasmani untuk dapat menjadikan diri kita selalu waspada terhadap propaganda mereka dan 1 mata rohani (mata batin) yang dapat kita gunakan untuk melihat betapa Allah melindungi kita.

Mari bersatu berjuang bersama, jauhkan diri kita dari bentuk perbudakan Zionisme yang sudah merasuk hingga pada kehidupan paling dekat dengan kita!

Iklan