Kepahlawanan 9 orang pejuang kemanusiaan Mavi Marmara yang gugur mungkin tidak dirasakan oleh rakyat di Indonesia. Mungkin video panas Ariel lebih menarik ketimbang kisah perjuangan mereka. Di Turki sendiri kisah-kisah mereka banyak diceritakan kembali oleh orang-orang tua kepada anaknya, agar suatu hari anak mereka selalu mengingat perjuangan mereka demi mengantarkan ribuan ton makanan, obat-obatan, sandang, buku pelajaran, dan insinyur-insinyur yang akan membantu GAZA membangun kembali tempat tinggal dan kehidupan mereka.

Rasakanlah Anda duduk sejenak di sebuah bangku panjang di depan dapur kabin penumpang dek 3 kapal Mavi Marmara. Tadinya arahnya ke Gaza, saat itu dipaksa ke arah Ashdod. Tentara komando Israel sudah menguasai kapal. Serangan brutal baru saja selesai. Penjajahan kecil baru saja dimulai.

Di depan Anda, terbujur empat sosok jenazah. Tidak semua Anda kenal nama dan pribadinya. Tapi selama berhari-hari Anda bersama mereka. Solat bersama, berdoa bersama, makan bersama, bekerja bersama, menuju ke arah yang sama, dengan niat yang sama, mencari ridha Allah saja.

Bahasa Turkinya tidak Anda fahami, tetapi senyum tulus dan jabatan tangan eratnya bisa Anda hayati. Anda tidak mengenal semua nama dan pribadinya, tetapi rasanya sudah bersaudara dengan mereka selama berpuluh tahun.

Izinkan saya memperkenalkan para Syuhada ini kepada Anda. Para Syuhada tidak mati, kata Allah. Tapi rasanya rugi karena belum sempat mengenal mereka lekat-lekat dan mereka yang beruntung ini sudah pergi.

Sahabatku Cevdet (dibaca Jaudat), saya tidak menyangka persaudaraan kita begitu ringkas. Dengan ikhlas dan enteng kau berjaga setiap jam 6 pagi, untuk memenuhi keperluanku akan internet di press room, karena jam-jam begitu Jakarta sudah menunggu berita dari Mavi Marmara. Padahal aku tahu, kau selalu tak tidur sampai hampir pagi melayani keperluan puluhan wartawan.

Kata seorang sahabatmu, tentara komando Israel menembakmu dari jarak dekat saat kau memotret mereka turun dari helikopter biadab itu. Kubuka selimut yang menutup wajah jenazahmu. Kulihat ada satu titik hitam di antara kedua matamu. Titik hitam jalan masuk peluru yang menembus otak dan tengkorak belakangmu. Kulirik darah segar masih menetes di bawah kepalamu.

Titik hitam itu pintumu ke Syurga Firdaus insya Allah. Jangan lupa pada kami. Doakan kami mendapat keberuntungan seperti engkau. Kau telah menunaikan janjimu. Doakan kami seberani dan seistiqamah engkau.

1. Ibrahim Bilgen, 61 tahun, seorang insinyur listrik dari kota Siirt. Anggota Organisasi Kehormatan Insinyur-insinyur Listrik Turki. Aktif di politik melalui Partai Saadet menjadi calon legislatif pada pemilu tahun 2007 dan pemilu lokal di Siirt 2009. Menikah dan dikaruniai 6 orang anak.

2. Ali Haydar Bengi, 39 tahun, membuka usaha perbaikan telepon di Diyarbakir. Lulus dari Universitas Al-Azhar, Kairo, jurusan Sastra Arab. Menikah dengan Saniye Bengi; dikaruniai empat anak, Mehunur (15 tahun), Semanur (10 tahun) serta kembar Muhamad dan Senanur (5 tahun).

3. Cevdet Kiliçlar, 38 tahun, dari Kayseri. Lulusan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Marmara; pernah menjadi wartawan untuk surat kabar National Gazette dan Anatolia Times. Setahun belakangan ia menjadi reporter sekaligus webmaster situs IHH (Insani Yardim Vakfi). Menikah dengan Derya Kiliçlar; dikaruniai seorang putri bernama Gülhan, dan putra bernama Erdem.

4. Çetin Topçuoglu, 54 tahun, dari Adana. Bekas pemain sepak bola amatir dan juara Tae Kwon Do, yang pernah melatih Tim Nasional Tae Kwon Do Turki. Menikah dengan Çigdem dan dikaruniai seorang putra, Aytek. Çigdem ikut di kapal Mavi Marmara, dan bertugas sebagai amirah (pemimpin) di kabin perempuan.

5. Necdet Yildirim, 32 tahun, seorang pekerja kemanusiaan IHH dari Malatya. Menikah dengan Refika Yildirim; dikaruniai seorang putri berusia tiga tahun bernama Melek.

6. Fahri Yaldiz, 43 tahun, seorang petugas pemadam kebakaran di kota Adiyaman. Sudah menikah dan dikaruniai empat orang putra.

7. Cengiz Songür, 47 tahun, dari Izmir. Menikah dengan Nurcan Songür; dikarunai enam putri dan seorang putra.

8. Cengiz Akyüz, 41 tahun, dari Iskenderun. Menikah dengan Nimet Akyüz ; dikaruniai tiga anak Furkan (14 tahun), Beyza (12 tahun) dan Erva Kardelen (9 tahun).

9. Furkan Dogan, 19 tahun, sedang duduk di bangku SMA di Kayseri High School dan sedang menunggu hasil ujian masuk universitas; bercita-cita jadi dokter. Putra dari Dr. Ahmet Dogan, seorang profesor di Universitas Erciyes. Furkan berkewarganegaraan dual Turki-Amerika, dan memiliki dua orang saudara.

Sumber : Sahabat Al-Aqsha