Setelah tragedi penyerangan kapal Mavi Marmara dan syahidnya 9 relawan yang ditembak mati oleh tentara-tentara Zionist Israel di perairan internasional di Laut Mediterania, kini tentara Zionist adalah tentara yang paling diawasi tindak-tanduknya oleh masyarakat Internasional. Tindakan menyerang misi kemanusiaan di perairan internasional adalah salah satu tindakan paling sembrono yang pernah mereka lakukan.

Tentara Zionist memiliki sifat yang amat buruk, mereka bahkan tak segan menembak bayi atau orang-orang tak berdaya lainnya. Jika kita masih ingat penyerangan Israel ke Gaza secara besar-besaran baru-baru ini, kita akan dapatkan data yang mengerikan karena ternyata jumlah korban terbanyak justru anak-anak! Mengapa begitu? Karena anak-anak Palestina rata-rata hafal Al-Quran. Kaum Zionist tau jika orang muslim menguasai Qur’an maka akan dapat mudah menguasai berbagai ilmu pengetahuan. Tapi ternyata tidak semua tentara Zionist berpikiran begitu. Pengecualian ini terdapat pada pemikiran Tali Fahima yang kini lebih memilih kewarganegaraan Palestina dan memeluk agama Islam.

Tali Fahima, mantan tentara Zionist yang menentang Zionisme

Perjalanan Tali Fahima untuk kembali kepada fitrah manusia sebagai makhluk yang menghamba pada Allah tidaklah mudah, ia harus mengalami berbagai cemoohan dan bahkan siksaan dari kaumnya sendiri. Ia pernah dipenjara karena memberitahu Zakaria Zubeidi, pemimpin Brigade Al-Aqsa di Jenin, bahwa Zubeidi saat itu dijadikan daftar pertama dalam operasi pembunuhan oleh Zionist Israel. Mengapa ia membantu Zubeidi? Hal itu karena Zubeidi terlibat proyek film tentang teater anak-anak Jenin yang berjudul “Arna’s Children” yang memenangkan “Best Documentary Feature” di Tribeca Film Festival 2004. Bahkan Tali bersedia menjadi perisai hidup bagi Zubeidi.

Keadaan Kota Jenin setelah digempur oleh Zionist Israel

Dari seorang pendukung Zionisme menjadi penentang Zionisme

Pada awalnya banyak orang Yahudi penganut Zionist yang terkejut karena Tali membantu “pihak musuh”. Bahkan demi alasan kemanusiaan atau apapun hal itu adalah hal yang aneh bagi mereka. Selain karena dahulu Tali adalah seorang Yahudi, ia juga adalah seorang pendukung partai Likud, sebuah partai besar di Israel dengan paham Zionist yang amat kental.

Semenjak kejadian membantu Zuibeidi, ia kemudian dijebloskan ke penjara di Israel. Dalam penjara ia banyak mengalami siksaan, baik fisik maupun mental. Dukungan dari berbagai pihak pun datang untuknya, terutama dukungan datang dari warga Palestina. Setelah keluar dari penjara ia memutuskan untuk menjadi aktivis kemanusiaan dan pengkritik pemerintah Israel. Karena hal itu ia seringkali mendapat ancaman pembunuhan dari pihak konservatif Israel.

Islam membawa Tali Fahima pada kedamaian

Tidak banyak yang mengetahui bahwa Tali mengakui agama Islam secara sembunyi-sembunyi semenjak ia dipenjara. Kekerasan yang ia alami di penjara membuatnya sadar bahwa Zionisme adalah sesuatu yang salah, dan Islam lah yang membawanya pada kedamaian. Ia berkata bahwa salah satu inspirasi keislamannya adalah sosok Syaikh Raid Shalah, yang juga salah satu tokoh terkemuka perjuangan Palestina. Ia kemudian mengucap dua kalimat syahadat secara resmi di sebuah masjid di Umm al-Fahm. Ancaman pembunuhan dari pihak Zionis makin menjadi-jadi semenjak ia masuk Islam.

“Alhamdulillah, Allah telah menggariskan suratan takdir untuk saya. Dan jika memang Ia akan menakdirkan saya mati syahid, maka saya berucap Alhamdulillah, hal itu lebih baik dari sesuatu apapun,” kata Fahima.

Begitulah jika Allah berkehendak, bahkan seorang Zionis pun dapat luluh hatinya oleh cahaya yang Allah ciptakan bernama Islam.

Tali Fahima kini tinggal di perkampungan arab Ara’ra sebagai seorang Palestinian. Ia bekerja sebagai guru bahasa Ibrani di sebuah sekolah dan menghabiskan waktu luangnya untuk belajar Bahasa Arab dan Al-Qur’an.

~ Tio Alexander (diolah dari berbagai sumber)

Berikut videonya :