Pernahkah anda mendengar nama Thylacine, sejenis harimau marsupial pemakan daging dari Tasmania?

Hewan unik tersebut adalah hewan yang tidak akan pernah kita lihat lagi di masa sekarang. Kepunahan Thylacine akibat eksploitasi berlebihan dari manusia 100 tahun yang lalu.

Beberapa dekade yang lalu para ilmuwan menyangsikan bahwa binatang-binatang punah itu dapat dihidupkan kembali. Dan banyak ilmuwan yang kemudian mentertawakan Steven Spielberg karena menganggap membuat ‘teori konyol’ dalam filmnya yang berjudul Jurassic Park. Tapi kini para ilmuwan mungkin akan berpikir ulang terhadap ‘teori konyol’ Spielberg.

Proyek membangkitkan kepunahan

Sekitar tahun 2009 lalu saya membaca dari sebuah jurnal sains terbaru dari para ilmuwan Australia, bahwa mereka sedang mengadakan uji coba ‘menghidupkannya kembali’ Thylacine yang telah diawetkan selama lebih dari 80 tahun.

Perburuan Thylacine yang marak 100 tahun lalu

Kepunahan Thylacine berawal dari hobi berburu para orang Eropa yang bermigrasi ke Australia. Thylacine yang terakhir yang tercatat ialah pada tahun 1933, kemudian dibawa ke Inggris dan dipamerkan di kebun binatang London hingga kematiannya.

Thylacine terakhir yang ada di Kebun Binatang London

Sebelum Thylacine terakhir mati beberapa ilmuwan sudah berpikir bahwa kepunahan binatang unik ini akan segera tiba, dan mereka pun mengawetkan beberapa anak Thylacine yang ada, berharap suatu hari akan berguna untuk penelitian. Dan 80 tahun kemudian para ilmuwan dari Australia menggunakannya untuk berusaha ‘menghidupkannya kembali’.

Bagaimana caranya?

Pada awal artikel tadi saya sudah mengungkit tentang ‘teori konyol’ Steven Spielberg yang dalam filmnya menggunakan DNA dalam darah dinosaurus yang tersimpan rapi dalam tubuh nyamuk yang menghisap dinosaurus tersebut. Memang mustahil menemukan darah utuh hewan yang telah punah, apalagi jutaan tahun. Tapi justru dalam film tersebut para ilmuwan lebih mentertawakan teori merangkai kembali DNA, yang secara prakteknya membutuhkan penelitian yang amat lama dan berbiaya super besar. Diperkirakan butuh waktu bertahun-tahun dan biaya jutaan dolar untuk melengkapi DNA hewan yang telah punah.

Anak Thylacine dalam toples pengawet

Tentunya para ilmuwan Australia harus banyak berterima kasih terhadap jasa ilmuwan terdahulu yang telah mengawetkan anak Thylacine, sehingga didapatkan DNA yang utuh. Setelah mendapatkan DNA utuh, para ilmuwan tinggal menyusunnya menjadi kromosom yang masing-masing panjangnya jutaan DNA!! Kemudian bungkus kromosom dengan membran buatan, dan jadilah sebuah sel Thylacine.

Setelah sel didapatkan, kemudian dibutuhkan ‘induk angkat’ untuk merekayasa sel Thylacine tersebut. Sel tersebut kemudian akan dirangsang dengan rangsangan kimiawi atau rangsangan elektrik agar sel dapat membelah. Setelah sel membelah sel kemudian harus segera dimasukkan ke dalam uterus ‘induk angkat’ dan berharap terjadi kehamilan agar segera lahir anak Thylacine. Metode ini mirip dengan metode kloning domba Dolly.

Tapi justru di situlah masalahnya!

Familia Thylacinidae secara keseluruhan sudah dinyakatan punah! Hewan terdekat dengan Thylacine adalah hewan marsupial dari familia Dayusridae, seperti Tasmanian Devil atau Numbat. Kemungkinan berhasil untuk mengembangkan sel Thylacine di dalam tubuh hewan-hewan tersebut semakin kecil, dan para ilmuwan sangat enggan mengambil resiko kegagalan yang memakan biaya sangat besar.

Tansmanian Devil yang juga Marsupial pemakan daging

Bentuk cakar Thylacine berbeda dengan Tasmanian Devil

Tapi jika berhasil dilahirkan?

Hanya satu hal yang saya pikirkan jika proses itu berhasil, yaitu apa manfaat Thylacine itu? Karena hanya akan lahir seekor Thylacine muda yang bisa jantan atau juga betina. Apa gunanya seekor binatang tanpa pasangannya? Hanya untuk tontonan semata? Sedangkan ia pasti akan merana hidup sendiri di dunia ini.

Allah menciptakan manusia, hewan, dan tumbuhan kebanyakan berpasang-pasangan. Semuanya diciptakan untuk saling berkembang biak dan saling bermanfaat satu sama lainnya. Membangkitkan hewan yang telah punah hanya dari satu jenis kelamin saja adalah melanggar fitrah yang telah diciptakan oleh Yang Maha Kuasa.

Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah.
[QS. Adz Dzaariyaat (51) : 49]

Saya jadi teringat perkataan seorang ilmuwan genetik yang berkata seperti ini :

“Jika kita berhasil mengkloning binatang yang telah mati, maka kita juga dapat mengkloning nenek kita yang telah mati. Tapi apakah kita benar-benar ingin menghidupkan nenek kita yang telah mati?”

Mendengar perkataan ilmuwan itu saya kemudian teringat sebuah ayat berikut ini :

“Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula).”
[QS. Az-Zumar (39) : 30]

Semuanya pasti mati, jadi kematian adalah fitrah bagi mahkluk hidup.

Namun walaupun semuanya kelak akan mati, sudah semestinya kita melestarikan lingkungan dan binatang-binatang yang telah Allah ciptakan untuk keperluan manusia.

Penulis : Tio Alexander

Iklan