Ada seorang kawan di Facebook yang bertanya kepada saya tentang orang miskin. Pertanyaannya sederhana, dan sering disepelekan orang karena sudah dianggap kewajaran bagi banyak orang di negeri kita. Kemiskinan bagai kewajaran dan makanan sehari-hari yang tak perlu lagi diumbar-umbar melainkan dirasakan.

Ada dua pertanyaan dari pemuda kelas 3 SMA yang bernama Dimas ini, yaitu :

  1. Kenapa harus kita mengasihani orang miskin?
  2. Bukankah dia sendiri yg membuat diri dia miskin? Dia tidak mau sekolah, belajar, dan semangat.

Saya akan mencoba menjawab 2 pertanyaan ini, mudah-mudahan yang bersangkutan puas akan jawaban saya.🙂

Pertanyaan pertama : Kenapa harus kita mengasihani orang miskin?

Saya rasa pertanyaan ini sudah sangat jelas diterangkan Allah dalam Qur’an surah Al-Maa’uun (107) ayat 1-3, bahwasanya :

Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?
Itulah orang yang menghardik anak yatim,
dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.

Allah menggolongkan orang-orang yang tidak mengasihani orang miskin sebagai orang yang mendustakan agama. Mengapa begitu? Sebab orang-orang miskin adalah orang yang diberikan cobaan oleh Allah atas kesabaran mereka, baik itu cobaan karena perilaku mereka sendiri, maupun cobaan karena Allah ingin mengetahui seberapa sabar keimanan mereka dalam menghadapi kemiskinan.

Justru orang-orang yang sedang dicoba inilah, yang apabila mereka selalu mengingat Allah di masa miskin maupun kaya mereka, mereka akan selalu dekat dengan Allah dan doa-doa mereka akan mudah diterima. Sungguh beruntung orang-orang yang bersedekah kemudian mendapatkan doa dari orang-orang seperti mereka.

Tapi jika mereka tidak mengingat Allah bagaimana?

Bersedekah adalah kewajiban bagi setiap muslim. Bahkan semenjak zaman nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad pun zakat telah diwajibkan. Dan zakat adalah kewajiban bagi setiap muslim.

“Dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada rasul, supaya kamu diberi rahmat.”
Qur’an surah An-Nuur (24) ayat 56

Lagipula orang yang bersedekah akan diberikan banyak kemudahan oleh Allah di saat Hari Akhir nanti :

“Apabila anak Adam wafat putuslah amalnya kecuali tiga hal yaitu sodaqoh jariyah, pengajaran dan penyebaran ilmu yang dimanfaatkannya untuk orang lain, dan anak sholeh yang mendoakannya.” (Hadits Riwayat Muslim)

Allah berfirman di dalam hadits Qudsi: “Hai anak Adam, infaklah (nafkahkanlah hartamu), niscaya Aku memberikan nafkah kepadamu.” (Hadits Riwayat Muslim)

“Orang yang mengusahakan bantuan (pertolongan) bagi janda dan orang miskin ibarat berjihad di jalan Allah dan ibarat orang sholat malam. Ia tidak merasa lelah dan ia juga ibarat orang berpuasa yang tidak pernah berbuka.” (Hadits Riwayat Bukhari)

“Barangsiapa ingin doanya terkabul dan dibebaskan dari kesulitannya hendaklah dia mengatasi (menyelesaikan) kesulitan orang lain.” (Hadits Riwayat Ahmad)

Jauhkan dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan (sodaqoh) sebutir kurma. (Mutafaq’alaih)

Dan masih banyak kelebihan-kelebihan sedekah lainnya yang Allah berikan kepada manusia.🙂

Pernah saya bertanya kepada guru saya, Bapak Nurdin Rifai, tentang beliau yang selalu menolong orang lain yang sedang kesusahan. Beliau berkata bahwa saat dia menolong orang lain yang sedang kesusahan, maka Allah akan menjaminkan bahwa keluarganya akan senantiasa Allah beri pertolongan di saat kesusahan mereka datang.

“Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian (yang tidak meminta).”
Qur’an surah Adz-Dzaariyaat (51) : 19

Jadi sudah terjawablah pertanyaan pertama.🙂

Pertanyaan kedua : Bukankah dia sendiri yg membuat diri dia miskin? Dia tidak mau sekolah, belajar, dan semangat.

Pertanyaan ini ada benarnya dan ada salahnya juga. Benarnya adalah mereka tidak mau berusaha untuk merubah nasib mereka, karena harta benda kita adalah termasuk dalam takdir yang dapat dirubah.

“… Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. …”
Qur’an surah Ar-Ra’d (13) : 11

Tapi ingatlah bahwa dalam ayat tersebut Allah menyebutkan secara spesifik adalah “kaum” atau bangsa. Ayat ini seperti menyindir negeri ini yang masih marak dengan korupsi, kemaksiatan, diperbolehkannya riba, dll. yang dilarang oleh Allah.

Dari sudut pandang disiplin ilmu yang saya pelajari di kampus ekonomi pun didapati bahwa kemiskinan berasal dari banyak faktor, diantaranya peran pemerintah dalam masyarakat, kebijakan-kebijakan pemerintah, kultur budaya, stereotipe yang berkembang dalam masyarakat, harga-harga kebutuhan pokok, pendidikan, upah pegawai, dan banyak sekali.

Kemiskinan juga bisa dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan. Secara logikanya jika kultur budaya sebuah daerah belum sadar akan pendidikan, maka akan sulit sekali menanamkan pentingnya sekolah dan pendidikan. Di sinilah peran pemerintah amat dibutuhkan dalam mensosialisasikan dan merealisasikannya! Jangan sampai setelah sebuah daerah mulai sadar akan pendidikan, lantas pemerintahnya yang tidak merealisasikannya.

Tapi jangan salah, pendidikan pun dirasa belum cukup untuk menuntaskan kemiskinan. Setelah mereka lulus dari SMA atau Perguruan Tinggi, apakah pemerintah bisa menyediakan lapangan pekerjaan? Negeri kita kaya raya lho, tapi sayangnya pemerintah kita malas untuk memberdayakan sarjana-sarjana muda berbakat kita dalam mengelola berbagai industri. Mereka lebih senang memenangkan tender dari perusahaan luar negeri yang kelak akan memberi upeti besar kepada mereka.

Pembangunan yang tidak merata juga berpengaruh besar. Banyak orang desa yang tadinya tidak miskin, kemudian pergi ke ibukota lantas menjadi miskin. Rupanya kisah sukses segelintir orang dibumbui berbagai kemudahan fasilitas di kota besar membuat orang desa beramai-ramai memenuhi kota.

Lantas pertanyaan mengapa orang miskin tidak sekolah?

Pertanyaan ini pernah saya tujukan kepada seorang pengamen jalanan cilik di perempatan Cililitan. Saya bertanya kepadanya, “Adek sekolah nggak?”

Kemudian gadis kecil itu menjawab, “Nggak kak.”

Saya bertanya lagi, “Kenapa adek nggak sekolah?”

Dia menjawab dengan wajah polosnya, “Aku dikeluarin dari sekolah soalnya nggak bisa bayar.”

Pertanyaan itu saya tanyakan dahulu sebelum SPP SD digratiskan oleh pemerintah. Sayang sekali sekolah adik kecil itu tidak mau mengerti dengan keadaan keluarganya. Sehari-harinya gadis kecil itu mengamen dengan rok SDnya yang berwarna merah-hati lusuh. Semoga Allah melindungi anak-anak jalanan itu dari berbagai kejahatan dan memudahkan mereka untuk belajar.

Dan salah satu alasan bahwa mereka sulit sekolah pada saat ini adalah karena mereka harus membantu orang tua mereka. Ada lho kepala keluarga di Jakarta yang sehari-harinya hanya mendapatkan uang 5000 rupiah. Bayangkan bagaimana Allah memudahkan keluarganya untuk makan sehari-hari. Jangankan berpikir untuk sekolah anak mereka, untuk makan sehari-hari saja mereka susah.

Tidak akan habis kemiskinan untuk dibicarakan. Karena itu diperlukan tindakan nyata dari kita untuk membantu mereka. Jika saat ini kita tidak bisa membantu mereka memberi lapangan pekerjaan, paling tidak kita bisa membantu mereka untuk mengurangi rasa lapar yang sehari-hari mereka alami. Berdosalah kita jika tidak membantu mereka.😦

Semoga Allah memberikan kekayaan lahir dan batin kepada kita semua agar senantiasa dapat membantu orang-orang miskin.🙂

~ Tio Alexander