Puisi ini ditulis oleh Iwan Pilliang di catatan Facebooknya, sebelumnya saya juga sudah meminta izin untuk menerbitkannya di blog ini. Silahkan dibaca semoga dapat menyentuh hati kita agar lebih memperhatikan saudara kita yang membutuhkan uluran tangan dari kita.🙂

Adil Belum Beli Buku Kelas enam Es De

Oleh Iwan Piliang

Bis Kopaja Enam-Enam petang itu menabrak jalur Busway menuju Manggarai
Metro Mini Enam Dua melanjutkan perjalanan menuju Pasar Minggu,
Adil kelas enam es de seusia anak pertamaku menjadi kernet
Ia bilang ibunya sudah berpulang

Adil pagi sekolah, siang hingga larut mengkernet
Ia perlihatkan dua garis di pangkal pahanya biru-biru
Ayahnya sang supir suka memukul
Adil menundukkan kepala menekuk kaki di pojok kiri

Adil, penumpang! Teriak si supir
Di perempatan Pancoran , billboard berukuran lapangan volley
Presiden dan Ibu Negara bervisual beragam kegiatan: Tingkatkan Kesejahteraan Rakyat
Adil bilang buku kelas enam es de-nya belum terbeli

Di Durentiga menyeberang berselingkitan motor menabrak lampu merah
Motor bikin penumpang bis komprang-komprang berkurang
Berlabuh ke sebuah cafe bertajuk O, o-alah, ruko-ruko bersulap berdandan meng-cafe
Petuah sang kawan di cafe O, setiap kekayaan tambun cenderung berunsur kriminal

Sang kawan di Bareskrim Mabes Polri, mengaku gamang melihat kejahatan kerah putih
Lalu kami malam-malam menenggak dingin eskrim
Lantas hujan berlabuh rusuh, bertanya haruskah mengkriminil baru meluruh lusuh?
Membayangkan mengirim mimpi ke Adil menyeruput es krim

Di jalanan pukul dua tiga tiga puluh bis telah tiada
Menyusuri jalan raya Pasar Minggu menuju Pancoran
Rombongan pengajian Mejelis Zikir Rasulullah menyemut baru usai
Lapak pedagang sarung, kopiah, mukenah, minyak wangi, menepi jalan masih berdiri

Adil kiranya sudah di peraduan, hanya sebuah omprengan tua saja lewat
Dua gadis dan beberapa penumpang pria berwajah lusuh acuh
Mereka bekerja di sebuah rumah sakit
Mereka bilang jumlah pasien meningkat, insomnia dan lainnya penyakit.

Berjalan dari Pasar Rumput menuju rumah
Enam pasang tunawisma terlelap di pelataran toko-toko sepeda
Nyanyian nyamuk menyeka minat menggigit darah pahit
Tujuh gerobak membalut tubuh, membayangkan Adil tidur pulas bak manusia gerobak

Satu dua pengumpul berang bekas memilah gelas dan botol plastik
Menghitung bak lembar dolar di sebuah money-changer di sepelemparan batu Menteng
Tiga wanita ber-rok pendek di keremangan Pasar Rumput lalu empat lelaki menari-nari
Musik dangdut menghentak mengingatkan senandung kernet Adil di bis tadi petang

Sebuah lampu menyorot kepala patung sosok Gajah Mada di Markas PM Guntur
Bertanya ke hati, wajah asli Maha Patih Gajahmada-kah?
Hidung melengkung, muka keras, garis di jidat melilit, dagu belah kotak
Sejarah kadung menghafal tahun tanpa perlu verifikasi apalagi berguna nyanyian prestasi

Alam seakan tak perlu membaca mengejawantahkan lema adil
Membuka lembaran kamus Bahasa Indonesia yang lusuh
Adil: tidak berat sebelah, tidak memihak; berpihak kepada kebenaran.
Dapatkah kelak sosok kernet bernama Adil menjadi insan nan adil?

Menatap anakku, membayangkan Adil yang belum membeli buku kelas enam es de.
Anakku pun, belum membeli buku kelas enam es de
Di rumah televisi menyala sendiri menyiarkan ulang sebuah talk show tipi
Sesosok bergelar doktor hukum tata negara bertajuk Yusril berdebat keabsahan Jaksa Agung dan keadilan

Hampir semua doktor tak pernah lagi meninjau kawasan kumuh
Apatah pula sepenggal ruas Manggarai-Durentiga-Manggarai, bukan Manggarai NTT
Kendati letaknya tak sampai sekilo dari rumah Wapres ekonom bergelar doktor
Adil hanyalah sepenggal lema tak beda dengan Yusril, sebuah nama saja

Dini hari pekak telinga mendengar perdebatan doktor-doktor di tipi
Teringat kawan diminta menjawabkan pertanyaan mantan seorang pejabat ambil doktor
Rupanya pertanyaan itu dibocorkan tim penguji sang pejabat calon doktor
Agar cantik disimak orang diliput media di ujian doktor ala perjokian kotor

Adil yang belum bisa membeli buku kelas enam es de.
Para pejabat pendidikan, mantan pejabat, tokoh berlomba-lomba mengambil gelar doktor
Lalu ranah intelektual kotor demi gelar doktor-doktor
Adil tetap saja adil, sebuah kata tanpa makna

Adil yang belum bisa membeli buku kelas enam es de
Hanyalah penggalan kecil Indonesia di ruas Menggarai-Durentiga-Manggarai
Ribuan kilometer Indonesia berjuta Adil belum membeli buku kelas enam es de
Masih adakah Adil berhati wangi, bak Malaikat Subuh dijual di pinggir jalan tadi?

Adil sosok kernet yang belum bisa membeli buku kelas enam es de
Sebotol Malaikat Subuh lima ribu di pinggir jalan usai acara Majelis Zikir Rasulullah
Lima ribu bisa mahal bisa murah, relatif di kala kosong koin Rp 100 begitu berarti
Serelatif mencari malaikat keadilan di bumi Indonesia nan tak kunjung wangi.

Demi Adil yang belum bisa membeli buku kelas enam es de
Kepada-Mu Tuhan doa kupanjatkan agar Adil dapat membeli buku kelas enam es de
Semoga Malaikat Subuh wangi membelai Adil belum bisa beli buku kelas enam es de
Amin. Adil. Amin.

Jalan Malabar, Guntur, Jakarta Selatan, 13 Juli 2010


Catatan dari Iwan Pilliang untuk puisi ini:

Di wall-ku ini sudah aku tarok sebuah tulisan: Adil Belum Beli Buku Kelas enam Es De. Ini bukan Sketsa. Bukan pula Opini. Dibilang puisi, selama ini aku bukan penulis puisi, juga mungkin tak bakat menulis puisi. Tetapi apapun menurut kawan2, ia adalah sebuah karya tulisan yang aku kerjakan dengan hati. Untuk kritikus sastra, silahkan dikritisi, boleh disebut puisi atau tidak? Lebih baik kita membedah karya. Thx. salam

Iwan Pilliang dan putranya