Tulisan ini tidak bermaksud menyerang sekolah tertentu atau Dinas Pendidikan tertentu di Indonesia, hanya sekadar menyindir mereka saja.

Curhatan ini adalah kisah nyata dan ditulis oleh kawan saya, Arsy. Izin penerbitan dari yang bersangkutan juga sudah diberikan kepada pihak blog Un2kmU. Semoga dapat menjadi renungan dan bahan koreksi bagi pihak-pihak yang terkait yang ada di tulisan ini. Selamat membaca.🙂

Tulisan ini hanyalah sebagian curhatku terhadap rasa kecewa dan benciku kepada negara Indonesia ini yang dimana rakyat yang menipu akan berjaya dan rakyat yang berbuat jujur akan tertindas dan melarat.

Peristiwa ini baru saja aku alami siang tadi (20/07/2010) ketika adikku bilang kepadaku bahwa ada pengumuman mengenai pembayaran seragam sekolah. Pikirku paling-paling juga sekitar 150-200 ribu, melihat dari tahun-tahun sebelumnya yang harganya sekitar itu, meskipun dari segi kualitas sendiri bisa kubilang jauh dari kata pantas.

Ketika adikku mengatakan kalau harus membayar sejumlah uang yaitu sebesar 650 ribu aku langsung kaget.

“Itu cuma buat baju seragam doang? Berapa setel?” kutanya adikku.

Ternyata dengan harga segitu hanya mendapat 2 potong baju seragam lengkap dengan bordir lokasi, nama, dan logo sekolah, kemudian celana pendek biru 2 potong, 1 potong celana pendek putih untuk upacara, 1 potong baju batik, 1 setel baju olahraga, dan 1 setel baju pramuka lengkap dengan semua atributnya. Awalnya kupikir mungkin bahan bajunya pakai Japan Drill jadi harganya segitu, tapi ternyata waktu aku melihat salah satu orang tua murid yang sudah membeli baju seragam itu dan melihatnya, ternyata kualitasnya jelek! Malah hampir setara dengan baju seragam di emperan & ITC.

Saat itupun langsung aku menghadap kepala sekolah untuk negosiasi.

Aku bilang kepadanya, “Saya hanya mau membeli baju batik dan seragam olahraga saja.”

Tapi respon dari kepsek itu langsung membuatku jengkel. Dia bilang “O itu nggak bisa, harus sepaket. Kalau nggak mau kaya gitu ya jangan sekolah disini aja.”

Jadi sekarang sekolah punya wewenang untuk menentukan harga seragam?

Setelah itu aku langsung menghubungi Dinas Pendidikan dan memberitahu mengenai hal ini, tapi respon mereka makin membuatku jengkel, mereka bilang “Wajar aja, kan udah ga ada DSP (Dana Sumbangan Pembangunan) lagi.”

Setelah itu ada salah satu orang tua yang memberi saran kepadaku untuk lapor ke DPR, tapi menurutku hal tersebut percuma saja, melihat kinerja DPR sekarang membuatku pesimis untuk meminta bantuan para “tikus-tikus uang” itu.

Lagipula aku bukan melapor untuk meminta-minta, aku hanya ingin kebenaran yang sepantasnya. Jangan sampai tiap sekolah memiliki wewenang sendiri untuk menentukan harga seragam seperti itu, lalu di mana peran pemerintah dan DPR sebagai wadah aspirasi rakyat?

Mungkin untuk beberapa orang uang sebesar itu bukanlah apa-apa, tapi bagiku uang sebesar itu sangatlah besar, bahkan uang sebesar itu bisa dipakai untuk membayar SPP ku satu semester.

Pikiran-pikiran negatifku mulai muncul, di mana aku melihat orang-orang itu hanyalah orang-orang yang korupsi dalam pekerjaannya. Aku sendiri tau kalau aku tidak boleh berpikir seperti ini, tapi pengalamanku membuatnya seperti ini. Seperti pada saat ujian nasional kemarin, alhamdulillah adikku bisa mengerjakan seluruh soal dengan baik dan JUJUR hingga mendapatkan hasil yang memuaskan.

Dari dulu aku sudah memberi pesan kepada adikku kalau apapun yang terjadi tetaplah berbuat jujur, meskipun seluruh dunia menjadi musuhmu, tapi Allah lah yang akan menjadi hakim dan penyelamat kita. Ketika teman-teman dan gurunya mengharuskan untuk kerja sama dan membantu orang lain dalam ujian, adikku tidak menggubrisnya, meskipun hal tersebut membuat peringkat adikku saat mendaftar di SMP Negeri ** Bandung agak tergeser dengan orang lain yang rata-rata nilanya 8,7 keatas.

Tapi memang benar-benar mengherankan, banyak sekolah dan siswa yang menolak adanya ujian nasional, tapi nilai yang mereka dapatkan bisa kubilang OVERKILL untuk ukuran ujian nasional, nilai 8 masih dibilang kecil, dan nilai 9 adalah suatu keharusan. Kenapa mereka harus protes jika mereka bisa mendapat nilai sebesar itu? Ataukah nilai tersebut palsu? Tidak sesuai dengan kemampuan mereka?

Selain itu orang tuaku sendiri memiliki toko seragam makanya aku tahu benar mengenai baju seragam, kualitas, dan harganya. Mungkin ini tidak etis untuk disebarluaskan, tapi memang keadaan keluargaku yang sulit untuk dapat memenuhi keinginan sekolah tersebut.

Aku adalah anak tertua di keluargaku yang sudah bekerja dari SMP kelas 3 untuk membantu ekonomi keluargaku, aku memiliki 2 orang adik, dan orang tuaku sudah cerai dan aku tinggal bersama ibuku sekarang. Ayahku sendiri sudah 4 tahun lebih tidak ada kabar. Maka dari itu aku terus berusaha meskipun hidupku hancur tapi yang penting kedua adikku berhasil dalam hidupnya.

Mungkin sekian saja curhatku kali ini. Mohon maaf bila ada salah kata atau ada yang tersinggung. Dan terima kasih.🙂

Arsy

NOTE : Saya tidak akan menyebutkan nama lengkap dan fotonya. Tapi jika pihak yang terkait dalam tulisan ini ingin menghubunginya silahkan menghubungi saya melalui blog ini. Tulisan ini ditujukan untuk mengungkap kebenaran, agar tidak ada yang dirugikan lagi di kemudian hari. Semoga Allah memberikan kesabaran kepada Arsy dan keluarganya, serta bagi pihak-pihak yang mendzaliminya diberikan kesadaran. Amin.🙂