Berapa hasil dari 1+1+1?

Pertanyaan ini adalah pertanyaan klasik yang telah membuat perdebatan panjang di kalangan kaum tertentu. Karena menurut mereka mengitung 1+1+1 tidaklah semudah menghitung jumlah domba-domba tersesat dikala hendak tidur. Dan itu sudah terjadi hampir 2000 tahun lamanya.

Iseng-iseng saya coba tanyakan pertanyaan ini kepada keponakan saya, Salsa, yang masih kelas 1 SD.

Saya : Adek, 1+1+1= berapa?
Salsa : Tiga.
Saya : Bukannya satu ya?
Salsa : Tigaa..
Saya : 😆

Dalam Aksioma Matematika (sifat-sifat dasar Matematika) sebenarnya sudah menjelaskan bahwa 1+1+1 sejatinya adalah 3, bukan 1 seperti yang dianggap oleh kaum tertentu. Kata aksioma berasal dari Bahasa Yunani αξιωμα (axioma), yang berarti dianggap berharga atau sesuai atau dianggap terbukti dengan sendirinya. Dan perhitungan ini berlaku mutlak dari semenjak dunia ini diciptakan hingga masa berlaku dunia ini habis. Tentunya kita semua sudah mengetahui bahwa tidak akan berubah ketetapan Allah (sunatullah) hingga Allah mencabut sendiri sunatullah-Nya tersebut.

“Sebagai suatu sunnatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan perubahan bagi sunnatullah itu.”
(Qur’an surah Al-Fath (48) : 23)

Jawaban angka 3 untuk pertanyaan ini juga sudah sesuai dengan logika manusia. Jika ditanyakan ke semua orang yang memahami matematika dasar, saya yakin jawabannya 99% akan sama, yaitu 3. Tapi banyak juga orang yang mengingkari kemampuan matematikanya dan lebih memilih jawaban 1.

“Sesungguhnya kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.”
(Qur’an surah Al-Qamar (54) : 49)

Jika 1+1+1 sudah dipastikan jawabannya adalah 3, maka hal itu tidak akan bisa berubah lagi, apalagi berubah jadi 1. Karena segalanya sudah diciptakan Allah menurut ukurannya.

Bahkan Google pun lebih pintar daripada kaum tertentu itu :

Apakah menurut anda tulisan saya ini menyindir agama kaum tertentu itu?

Ya, tentu saja. Karena logika adalah salah satu dasar manusia untuk menemukan siapa Tuhannya yang sebenarnya. 🙂

Mustahil 3 oknum yang dianggap sebagai tuhan menjadi 1 oknum, karena tidak ada logikanya. Budaya penyembahan banyak tuhan seperti yang dilakukan kaum pagan kemudian dipaksakan menjadi 1 tuhan dalam agama tertentu itu, dengan konsep tuhan ayah, tuhan anak, dan tuhan roh.

Mari kita berpikir secara logika. Jika ada 3 tuhan di dunia ini, maka saat ketiga tuhan itu bersitegang atau berbeda pendapat akan terjadi kekacauan di alam semesta ini. Pada kenyataannya tidak, Tuhan hanya ada satu dan seluruh semesta ini tak luput dari pemeliharaan-Nya, bahkan daun yang jatuh ke tanah sekalipun.

Tapi kemudian kaum tertentu itu mendebat saya, bahwa tuhan mereka menjelma menjadi manusia. Lho kok bisa begitu? Lantas bagaimana dengan sifat Khalik (Sang Pencipta) yang wajib dimiliki oleh Tuhan?

Mari simak penjelasan saya di bawah ini :

Allah = Khalik = Sang Pencipta

Manusia = Makhluk = yang diciptakan

Jika Allah menjadi manusia (makhluk), artinya Allah bukan lagi Khalik. Dan konsep Allah menjadi manusia telah menyalahi konsep Allah sebagai Khalik atau pencipta manusia.

Jika tuhan ada banyak, maka secara logika mereka akan saling berperang apabila ada perbedaan faham, dan dunia akan kacau balau serta tidak seimbang. Nyatanya hal itu tidak terjadi karena Tuhan hanya satu. Karena itulah Allah mendeklarasikan bahwa Allah Maha Satu.

Kalau tuhan punya anak lebih lucu lagi. Nanti kalau anaknya buat salah, lantas diomeli dan membangkang sama bapaknya bagaimana? Kacau deh dunia. 😆

Karena itulah hanya Allah satu-satunya Tuhan di dunia ini yang berani mendeklarasikan diri sebagai Tuhan Yang Maha Satu.

Seperti yang sudah Allah deklarasikan dalam surah Al-Ikhlas :

Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Satu. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.”
(Qur’an surah Al-Ikhlas (112) : 1-4)

Sudah jelas kan penjelasan dari saya? Google aja tau kok. 😆

Mari kita gunakan logika kita. 😀

~Tio Alexander


Tambahan :

Barusan ada yang bertanya di Facebook tentang artikel ini.

Pertanyaannya ialah : “Berarti Pancasila sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, tidak cocok dong dengan ajaran mereka?”

Saya jawab : “Ya sangat tidak cocok dan melanggar landasan dasar NKRI.”

Sebab arti esa dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah :

esa (numerik) tunggal; satu;
meng·e·sa·kan v menjadikan (menganggap) satu: ~ Tuhan (mengakui bahwa Tuhan hanya satu);
ke·e·sa·an n sifat yg satu: ~ Tuhan


Artikel terkait :

Iklan