Anda yang saat ini membaca artikel ini apakah orang Indonesia? Paling tidak keturunan dari salah satu bangsa dan suku yang ada di Indonesia, seperti Jawa, Melayu, Dayak, Bugis, Sunda, Papua, dll. Jika ya, saya ingin bertanya sebagai berikut; apakah leluhur orang Indonesia benar-benar mewarisi sifat-sifat sopan, ramah, toleran, dan rukun?

Saya mohon pertanyaan saya di atas, dijawab di kolom komentar beserta alasannya. Tentunya setelah membaca pengalaman saya yang baru saja saya alami siang ini (06/08/2010) sepulang Sholat Jum’at. Jadi… selamat membaca.

Jum’atan di Masjid Panasonic

Jum’at pagi ini saya ada kuliah, mulai kuliah jam 10 pagi hingga 15 menit sebelum panggilan Sholat Jum’at berkumandang. Jika biasanya saya sholat Jum’at di dekat rumah, kali ini saya jum’atan di dekat kampus GICI Business School, tepatnya di Masjid (saya lupa namanya) yang berada di dalam kompleks Panasonic Cawang. Khotbah Jum’at kali ini benar-benar menyentuh batin saya langsung karena menyindir saya yang sering berlebih-lebihan dalam makan dan minum, padahal Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.

Selesai Sholat Jum’at kemudian saya bergegas untuk pulang ke rumah, rasanya lelah sekali karena semalaman begadang karena tugas. Alhamdulillah-nya, saat khotbah Jum’at tadi saya sama sekali tidak mengantuk.

Bayi Lucu di Bus Kota

Saat naik Metro Mini tadi, saya bertemu dengan seorang ibu yang sedang menggendong bayi. Bayinya lucu dan cantik. Gemas rasanya ingin mencubit pipinya. Bayi itu melirik-lirik ke arah saya, kemudian saya pun melempar senyuman, sehingga dia kembali bersembunyi di balik kain jarik ibunya dan kemudian melirik lagi.

Kira-kira 1 km dari tempat saya naik, ada seorang pemuda yang naik ke dalam bis tersebut. Pemuda itu sepertinya lebih muda daripada saya. Gayanya seperti preman, petentang-petenteng dan mengeluarkan aura kesombongan yang teramat mengganggu saya. Tapi justru bukan auranya yang menjadi masalah saya, karena saya tidak peduli dengan hal itu. Yang jadi masalah adalah dia mengeluarkan asap yang mengandung 4000 lebih racun, dan itu di depan bayi yang lucu tersebut. Bayangkan jika sang bayi yang masih suci dan bersih organ tubuhnya itu teracuni. Kita tau bahwa perokok pasif lebih berbahaya dibanding perokok aktif.

Kita juga tau bahwa Islam sangat mengharamkan rokok, hal itu diperkuat dengan adanya 4000 lebih racun dalam rokok. Racun adalah kotoran yang buruk bagi tubuh kita, dan kotoran yang buruk adalah diharamkan oleh Allah, seperti yang dijelaskan dalam firman-Nya berikut ini :

“Dihalalkan atas mereka apa-apa yang baik, dan diharamkan atas mereka apa-apa yang buruk (kotoran).”
(Qur’an Surah Al-A’raf (7) : 157)

Untuk lebih jelasnya tentang pengharaman rokok bisa dibaca di sini.

Arogansi Sang Perokok

Ibu sang bayi tersebut merasa risih dengan keadaan tersebut, dan bertindak dengan menutupi hidung bayinya dengan kain jariknya. Dengan gaya sang pemuda perokok tersebut yang seperti preman, agaknya ibu itu takut untuk menegurnya. Kemudian saya berinisiatif menegurnya.

Saya : “Mas, mas…” (saya panggil berkali-kali tidak menengok)

Perokok itu diam saja.

Melihat gelagatnya, saya yakin orang ini hanya pura-pura tidak mendengar. Kemudian saya mencolek pundaknya.

Saya : “Mas, mas..”

Perokok itu kemudian menoleh ke belakang.

Saya : “Tolong rokoknya dimatikan, ada bayi itu di belakang anda. Kasihan dia…”

Ibu bayi : “Makasih ya, mas.” (Ibu tersebut berterima kasih kepada saya dengan melempar senyuman)

Perokok : “Emang kenapa, sopir aja nggak ngelarang!” (bicara dengan nada agak tinggi dengan pandangan tajam ke arah saya)

Saya : “Itu ada bayi, mas. Kasihan dia masih kecil.”

Perokok itu tidak menghiraukan, kemudian kembali membuang muka.

Saya : “Tolong ya, mas”

Kemudian dengan kesal merokok itu menginjak dan mematahkan rokoknya. Lalu menoleh ke arah saya dengan mata melotot menantang.

Perokok : “Bisa yang sopan ga sih ngasih taunya!?” (dengan nada marah dan pandangan menantang)

Dalam hati saya berkata, “Lho, yang bicaranya nggak sopan itu siapa ya?”

Tentunya dengan pandangan menantang seperti itu, seolah saya pun turut merasa terancam. Aura yang terpancar dari perokok tersebut menjadi sangat kelam. Dengan refleks keberanian saya timbul dan memandangi matanya dengan pandangan tajam ala Superhero Rusia, Vladimir Putin.

Perokok itu pun kembali membuang muka. Entah karena takut atau karena meremehkan saya. Kemudian tak lama dia kembali menoleh ke arah saya dan menantang.

Perokok : “Mau ribut lo? Sini ribut sama gue!” (Mengertak dan masih memelototi saya)

Saya pun masih berasa jadi Putin saat orang itu menggertak saya. Menurut saya orang itu menggertak karena salah dan takut. Justru saya yang bertindak benar sama sekali tidak ada rasa takut. Karena menurut ilmu psikologi manusia, justru orang menjadi lebih galak jika dirinya merasa bersalah, apalagi ditambah dipermalukan di dalam bus.

Oh iya, ibu sang bayi tadi terus berusaha menasehati perokok itu dengan berkata; “Udah mas.. udah ya.”

Gertakan yang saya anggap “gertakan sambal” tersebut saya balas dengan “Mata Vladimir Putin” yang sedingin kota Yakuts di musim dingin, dan orang itu pun kembali membuang muka.

Tak lama kemudian gang masuk ke arah rumah saya pun sudah tampak di depan, dan saya meminta kernet yang ada di belakang untuk memberhentikan bus.

Saya : “Kiri di depan ya, Bang.”

Tanpa saya sadari, ternyata sang perokok tadi ada di belakang saya saat saya berada di ujung pintu bus. Kemudian dia memukul telinga kanan saya dengan cukup keras. Tapi entah mengapa saat itu saya tidak terasa sakit, hanya sedikit pengang kuping ini. Alhamdulillah bus sudah berhenti dan saya tidak terjatuh dari bus.

Perokok : “Hayo ribut sama gue!” (Memelototi saya yang sudah berada di luar)

Saya masih membalas dengan “Mata Vladimir Putin” yang menurut saya sangat keren. Perokok itu sama sekali tidak bergeming dan hanya diam di dalam bus. Ingin sekali saya membalasnya, namun di dekat tempat saya turun tersebut banyak anak-anak, bagaimana jika mereka mencontohnya? Lagipula percuma saya tadi berbuat kebaikan jika terakhirnya malah menunjukkan perilaku primitif seperti yang ditunjukkan perokok tersebut.

Beberapa detik kemudian saya tersenyum ke arah kernet sambil berkata: “Silahkan dilanjutkan perjalanannya.”

Dan bus itu pun melaju kencang membawa serta sang perokok arogan, dan sang Ibu beserta bayi lucu tersebut. Mudah-mudahan Allah selalu melindungi sang Ibu dan bayinya yang lucu itu, serta mengampuni dosa-dosa sang perokok. Namun jika sang perokok masih merokok dan tidak mau bertobat, mudah-mudahan Allah menunjukkan betapa Maha Adilnya Allah kepadanya. Tentu saja saya bisa memaafkannya, namun kuping saya yang hingga sekarang masih sakit ini mungkin akan menuntutnya di pengadilan Allah kelak.

Ada satu hal yang kemudian teringat oleh saya tentang kejadian ini, yaitu tentang sesuatu yang haram yang dapat merubah watak manusia melalui DNAnya. Penjelasannya ada dalam ilmu genetik Islam, sangat panjang jika saya jabarkan di artikel ini.

Mudah-mudahan pengalaman unik saya ini dapat menjadi pelajaran bagi kita semua. 🙂

~Tio Alexander

VLADIMIR PUTIN

Iklan