Sebetulnya tadinya saya nggak mau mengomentari masalah ini, karena beberapa minggu lalu saya sudah pernah membahasnya. Tapi karena FPI jadi trending topic di twitter, lama-lama gerah juga kalau nggak nulis dan membeberkan yang sebenarnya ke pembaca blog ini.

Di twitter (dan di luar twitter) kebanyakan orang menghujat dan menyalahkan FPI karena kejadian hari ini. Ada kejadian apakah hari ini?

Salah seorang Ulama Bekasi memperingatkan adanya Kristenisasi di Bekasi

Kejadian yang dimaksud adalah berita yang mengklaim bahwa jemaat Kristen HKBP di Bekasi diserang oleh FPI dan warga. Kemudian Jemaat Kristen itu melaporkan FPI ke polisi, dan semua orang menyalahkan FPI karena hal itu, padahal tidak ada FPI di situ. Bagaimana mungkin FPI yang disalahkan, sedang tidak ada FPI di tempat itu?

Agaknya nggak perlu saya terangkan berulang-ulang secara panjang lebar lagi. Berikut saya copas potongan tulisan saya tentang FPI ke dalam artikel curhatan ini.

Kristen Radikal yang ingin membubarkan FPI

Memangnya ada Kristen Radikal di Indonesia? Ya ada. Mereka lah yang membuat kerusuhan dan pembantaian atas ratusan muslim tak berdosa di Ambon dan Poso. Saya ingat sekali video pembantaian umat muslim secara sadis yang dilakukan mereka di  Ambon. Waktu itu saya masih terlalu kecil untuk melihat rekaman kesadisan yang mereka lakukan, dan saya tidak akan pernah melupakan kejadian itu.

Lalu mengapa Kristen Radikal ingin membubarkan FPI? Karena FPI dianggap sebagai garda terdepan pelindung umat muslim dari pemurtadan. Banyaknya gereja-gereja yang dibangun tanpa izin di daerah yang populasinya 99% muslim adalah salah satu bentuk pemurtadan yang ada di Indonesia. Bukan rahasia lagi kristenisasi sangat gencar dilakukan di Indonesia, salah satunya di Sumatera Barat selepas gempa bumi beberapa waktu lalu.

Baca selengkapnya di sini.

Pengalaman sejak SMA

Pengalaman waktu di SMA dahulu adalah pengalaman paling menyesakkan bagi saya yang baru saja sadar kalau saya adalah seorang Muslim.

Kelas semenjak SMP hingga kelas 1 SMA, saya adalah seorang yang tidak peduli akan Islam sebagai landasan hidup saya. Bisa dibilang saat itu saya tidak percaya apapun. Namun setelah kelas 1 SMA semester 2, saya mulai masuk ke dalam Rohis di SMA saya. Itu pun karena diajak teman dan tertarik adanya kelompok teater dalam rohis. Saya memang sangat tertarik dengan segala sesuatu yang dapat mengasah kreatifitas.

Setelah setahun di dalam Rohis, pemikiran saya berubah total tentang Islam. Alhamdulillah saya mendapatkan guru yang cerdas dan memiliki banyak pengetahuan, beliau adalah alumni-alumni sekolah saya yang aktif berdakwah.

Saat kelas 3 SMA, kesetiaan saya terhadap Islam diuji. Beberapa kawan saya di sekolah lain dihamili oleh pelajar Kristen, yang belakangan saya ketahui bahwa mereka adalah Zending. Mereka berkata akan menikahi muslimah-muslimah yang dihamili tersebut jika mereka berpindah keyakinan ke Kristen. Beberapa orang terlambat kami selamatkan, namun syukurlah masih banyak diantara mereka yang lebih memilih Allah meski diusir keluarganya.

Puncak dari Kristenisasi waktu itu adalah saat saya dan seorang saudari kami difitnah mencuri uang oleh kaum Kristen. Mereka sengaja berbuat demikian agar saya yang sebelumnya telah meminta bantuan kepada KAPMI (Kesatuan Aksi Pelajar Muslim Indonesia) segera dikeluarkan dari sekolah.

Alhamdulillah saat itu mereka gagal mengeluarkan saya dari sekolah karena kedekatan saya kepada Kepala Sekolah yang sudah kami anggap sebagai Ibu kami sendiri. Tapi tidak begitu bagi saudari kami tersebut, dia akhirnya harus berkorban dan pindah sekolah karena perbuatan fitnah mereka.

Semenjak itu saya dianggap sebagai ekstrimis. Kemudian saya bertanya kepada mereka, “Bagaimana mungkin kalian berkata saya adalah ekstrimis, sementara kalian membiarkan saudara kalian sendiri terdzalimi?”

Saat itu saya tidak mau mempercayai lagi orang-orang munafik itu. Mereka berkata, “Kita kaum mayoritas, seharusnya kita melindungi minoritas.”

Saya menjawabnya dengan sinis, “Oh ya? Lalu siapa yang akan melindungi kaum mayoritas dari pemurtadan kaum minoritas?”

Mereka kemudian terdiam. Mereka itu adalah pendidik, yang bertugas untuk mendidik menuju kebaikan. Tapi saat itu mereka mengingkari kebenaran dan menjauhkan kami dari keadilan. Mudah-mudahan Allah menyadarkan mereka.

Tidak ada Asap jikalau tidak ada Api

Sama halnya seperti kejadian hari ini. Orang-orang menghujat FPI seolah mereka adalah yang paling baik. Bahkan ada yang berkata seperti ini : “Saya walaupun minum-minum dan sholat bolong-bolong tapi masih lebih baik daripada FPI.” Bagaimana mungkin orang tak bermoral seperti itu berkata bahwa dia lebih baik daripada FPI yang memberangus kemaksiatan dan pengerusakan moral di Indonesia.

Semua orang menghujat FPI karena dituding melakukan pengeroyokan terhadap Jemaat Gereja HKBP di Bekasi, padahal…

Polisi: Pengeroyokan Jemaat HKBP Bukan Oleh FPI

Minggu, 08 Agustus 2010 | 13:44 WIB

Bekasi- Polisi membantah aksi pengeroyokan jemaat gereja Huria Kisten Batak Protestan (HKBP) dilakukan oleh massa Front Pembela Islam (FPI). Menurut Kepala bidang humas polda metro jaya Komisaris besar Boy Rafli Amar aksi pengeroyokan dilakukan oleh masyarakat dan forum umat islam. “Jadi ini dilakukan bukan oleh FPI,” tegasnya kepada wartawan di Jalan Puyuh Raya, Bekasi, Ahad (8/8).

Boy berjanji akan menindak tegas pelaku pengeroyokan. “Kami akan proses jika ada laporan masuk. Jadi kami masih menunggu para korban untuk melapor, setelah itu akan kami proses.”

Menurut Kapolres Metro Bekasi Imam Sugianti, pihaknya sudah berusaha memberikan perlindungan kepada para jemaat gereja HKBP yang akan melakukan kebaktian dan memberi himbauan untuk tidak mendekati lokasi yang diduduki massa. “Tapi mereka (jemaat) tetap memaksa masuk,” katanya.

Pertanan berlapis dari polisi nyatanya berhasil diterobos massa yang menolak keberadaan jemaat HKBP. “Tadi kami menurunkan 500 personel dari brimob, polda, dan juga polres,” paparnya.

Meski polisi mengaku telah berusaha melakukan pengamanan namun, jemaat yang menjadi korban pengeroyokan massa tidak melihat tindakan perlindungan dari polisi saat kejadian.

Meryl Toruan, 22 tahun, salah satu korban mengatakan ia dipukul berkali-kali dari belakang oleh sekelompok orang beruntung, ia berhasil menyelamatkan diri atas bantuan pendeta yang menariknya dari pengeroyokan. “Di dekat saya ada polisi, tapi mereka gak melakukan apa-apa. Mereka semua diam,” katanya.

Tak hanya Meryl, korban lainnya Rosdiana Batubara, 52 tahun, bahkan sempat meminta langsung kepada polisi untuk segera menangkap orang yang mengeroyoknya. “Saya dilempar pakai batu, dan kepala saya ditonjok. Saya sampai nangis-nangis teriak ke polisi ‘tangkap pak tolong tangkap orang itu’ tapi polisinya diam saja.”

Kini, puluhan korban masih akan menunggu divisum dan rencananya mereka akan langsung ke Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia (Mabes Polri) untuk melaporkan kejadian ini.

Sumber : Tempo Interaktif

Mangapa Masyarakat mengeroyok Jemaat Gereja yang memaksa masuk itu? Padahal tempat sudah diduduki warga. Istilahnya “Sudah tau di dalam sana ada macan, malah membawa daging segar.” Lagipula Gereja yang mereka bangun di tanah yang sifatnya masih sengketa itu adalah ilegal, dan tidak mendapat persetujuan warga sekitar yang 95% lebih adalah Muslim. Mereka juga membawa jemaat gereja dari tempat di luar Bekasi. Yang jelas dari cara mereka saja sudah tidak baik.

Demo Anti Kristenisasi di Bekasi

Usut punya usut ternyata Masyarakat Bekasi sudah terlalu resah karena Kristenisasi yang sudah terjadi semenjak tahun 90an (bahkan ada yang mengatakan semenjak tahun 80an). Saat Orde Baru dulu mereka mengkristenkan warga secara sembunyi-sembunyi. Barulah setelah Orde Reformasi mereka berani secara terang-terangan. Terutama saat Persiden Megawati berkuasa, ribuan orang Kristen direlokasi ke Bekasi yang 90% lebih adalah Muslim.

Yang saya heran adalah, jika mereka memurtadkan paksa orang Islam, maka mereka katakan itu kebebasan beragama. Namun jika ada diantara mereka menjadi mualaf atas dasar keinginan sendiri, mereka katakan itu Islamisasi??

Berbagai teknik mereka gunakan untuk memurtadkan orang Islam, diantaranya membagi-bagikan sembako, mengiming-imingi pekerjaan, memberi beasiswa ke sekolah Teologi, membuat kesaksian palsu, mengaku sebagai mantan muslim, menghamili gadis muslimah, dll.

Semuanya dapat dibaca di sini.

Adapun kejadian terbaru perilaku Kristenisasi dan pelecehan mereka terhadap Islam adalah saat mereka melecehkan umat Islam Bekasi dengan menginjak-injak Qur’an, membuat formasi salib di Masjid Al-Barkah Bekasi, dan melakukan baptis masal kepada warga miskin.

Demo Anti Kristenisasi di Bekasi

Setelah mengetahui kebenaran dari berita ini, apakah kalian akan sadar kalau kalian telah dipropaganda mereka? Sadarlah kalian, takutlah kepada Allah, dan lindungi agama Allah. Umat Muslim bagaikan satu tubuh, jika salah satu tersakiti, maka yang lain akan ikut merasakan sakitnya.

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”
[Qur’an surah Al Hujuraat (49) : 6]

Kebanyakan Ahli Kitab (orang Nasrani dan Yahudi) adalah orang fasik :

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, apakah kamu memandang kami salah, hanya lantaran kami beriman kepada Allah, kepada apa yang diturunkan kepada kami dan kepada apa yang diturunkan sebelumnya, sedang kebanyakan di antara kamu benar-benar orang-orang yang fasik?”
[Qur’an surah Al-Maidah (5) : 59]

Masih belum percaya juga?

Silahkan search di GOOGLE dengan keyword : Kristenisasi Bekasi

~Tio Alexander

“Rasulullah mengajarkan toleransi terhadap pemeluk keyakinan lain, bahkan penyembah berhala sekalipun. Namun begitu Rasulullah juga mengajarkan untuk melindungi dan memegang teguh keyakinan Islam kita kepada Allah.”