Muslim Belanda menggunakan media internet untuk menyuarakan aspirasi dan pandangan-pandangannya yang kritis terhadap berbagai isu terkait Islam dan kaum Muslimin khususnya di Negeri Kincir Angin itu. Untuk itu, sekelompok anak muda muslim di Belanda membuat sebuah situs islam berbahasa Belanda “masjid baru” atau nieuwemoskee.nl.

Salah satu pendiri situs itu adalah Arnold Yasin Mol. Mahasiswa jurusan teologi itu masuk Islam sejak tujuh tahun yang lalu dan sekarang mengepalai Deen Research Center, sebuah lembaga think tank Islam. Mol juga menjabat sebagai pengurus Partai Muslim Belanda.

Alasan Mol membuat situs “masjid baru” agar komunitas Muslim menyuarakan pandangan kritisnya terhadap isu-isu penting yang mencuat di tengah masyarakat. “Islam mengharapkan agar seorang muslim memiliki pandangan dan menyuarakan pandangannya itu, tidak begitu saja menerima apa yang diturunkan dari generasi sebelumnya, meski kaum Muslimin di masa-masa awal juga sangat kritis mengemukakan pandangannya,” kata Mol.

Ia mengungkapkan, sejak peristiwa serangan 11 September 2001 di AS, banyak sikap yang salah terhadap kaum Muslimin terutama yang tinggal di negeri-negeri non-Muslim. Mereka dicurigai bahkan di dalam komunitas Muslim sendiri, jika ada yang melakukan kritik ke dalam maka akan dicurigai sebagai pengkhianatan.

“Jika ada yang salah pada kebiasaan-kebiasaan tertentu di kalangan Muslim, kita seharusnya mendiskusikan masalahnya dengan terbuka. Misalnya soal pemisahan laki-laki dan perempuan di masjid yang masih menjadi kontroversi di kalangan Muslim. Kaum Muslimin seharusnya bisa mengambil sikap tegas atas isu-isu seperti ini,” ujar Mol.

Situs Nieuwemoskee milik pemuda Muslim di Belanda

Mol berharap kehadiran situs “masjid baru” bisa mendorong munculnya ruang diskusi yang sehat dan positif di kalangan komunitas Muslim di Belanda terkait berbagi isu yang menyangkut kehidupan mereka sebagai muslim dan sebagai warga negara Belanda. “Itulah sebabnya saya menamakan situs ini ‘masjid baru’. Pada awal kemunculan Islam, masjid merupakan tempat untuk bermusyawarah, berdiskusi bukan hanya untuk kalangan muslim sendiri tapi juga penganut agama lain,” papar Mol.

Ia mengatakan, situs “masjid baru” memberi tempat bagi semua elemen masyarakat Muslim untuk menyuarakan pandangan kritisnya, baik dari kalangan reformis, konservatif, bahkan fundamentalis. Ia juga menyatakan bahwa situs baru ini akan memenuhi apa yang dibutuhkan kalangan anak muda Muslim di Belanda.

“Anak-anak muda Muslim itu, di rumah, mereka mendapatkan pendidikan tradisional dan di sekolah mereka harus menyesuaikan diri dengan pendekatan cara Belanda pada dunia yang luas. Mereka berusaha untuk menggabungkan dua dunia ini. Secara otomatis, mereka akan berpikir kritis dan apa yang kami lakukan adalah memberi ruang bagi mereka untuk mengungkapkan pemikiran-pemikiran kritis itu,” papar Mol.

Mol menjamin independensi situs yang dikelolanya. Ia menegaskan, “masjid baru” tidak menerima pendanaan dari pemerintah Belanda. “Ini seluruhnya adalah inisiatif kami. Kami tentu memahami apa yang dilakukan pemerintah Belanda, tapi kami ingin tetap independen sepenuhnya,” tukas Mol.

Sumber : Eramuslim