Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Hari ini adalah hari sabtu. Mumpung hari ini nggak ada kerjaan kuliah dan belum ada orderan, mendingan jalan-jalan ke Perpustakaan Nasional di Salemba, Jakarta Pusat. Sebetulnya hari ini saya nggak ada rencana mau pergi ke Perpustakaan Nasional, tapi berhubung harus bantu-bantu Oya mempersiapkan skripsinya, ya mau nggak mau harus ke sana juga.

Mulanya saya malas ke Perpusnas (kependekannya Perpustakaan Nasional) karena cerita-cerita dari kawan-kawan saya yang bilang kalau di tempat itu nggak boleh minjam buku, dan mereka juga bilang kalau mau masuk sana aja ribetnya minta ampun. Saya pun percaya aja sama kata-kata mereka, walaupun sebetulnya saya juga nggak yakin apa mereka pernah ke sana apa nggak.😆

Saya itu manusia yang rada risih sama yang namanya birokrasi yang berbelit-belit, apalagi jika urusannya dengan kantor pemerintahan. Bahkan sudah beberapa kali saya kesal dan melaporkan kelurahan di tempat tinggal saya ke KPK soal korupsi KTP, nggak tau deh kasus korupsinya diusut atau nggak. Ya mudah-mudahan saja diusut, agar nggak ada lagi orang miskin (apalagi orang miskin yang kebetulan matanya sipit) dipersulit dengan biaya administrasi tetek mbengek.

Oh iya, balik lagi ke Perpusnas. Sampai di sana saya kira-kira pukul setengah duabelas siang, dan saya nggak tau kalau ternyata tutupnya jam setengah satu siang. Langsung saja kami nyelonong masuk ke dalam dan ke meja tamu untuk mengisi buku kunjungan. Eh kami malah ditegur oleh salah satu pegawai Perpusnas.

“Mas, Mbak, sudah punya nomor keanggotaannya belum?”

“Belum mbak, memang kalau mau baca-baca di sini harus anggota ya?”

“Iya mas. Silahkan mengisi formulir permohonan keanggotaannya di sebelah sana.” Ujar pegawai berkerudung itu sambil menunjuk ke sebuah ruangan.

Kemudian kami langsung ke tempat yang diarahkan oleh pegawai tadi. Awalnya saya pikir pembuatan kartu keanggotaan akan lama, mengingat sebentar lagi Perpusnas akan segera tutup. Bukan itu saja yang saya bingungkan, tapi uang yang saya bawa hanya sepuluh ribu rupiah. Mana bensin di motor sudah mau habis pula.😆

Sampai di tempat pendaftaran saya lihat antrian panjang, tapi untungnya itu hanya antrian orang yang mengambil formulir. Saya pikir jika saya langsung menyelesaikan pengisian formulir dengan cepat, maka proses pendaftaran akan cepat selesai. Setelah memberikan formulir yang sudah terisi semua, kemudian saya berikan kepada pegawai yang membuatkan kartu anggota.

Jujur saja saya agak kurang suka dengan pelayanan pegawai yang membuatkan kartu tersebut. Selain agak judes, pegawai itu juga mendebat saya ketika saya memasukkan nama GICI Business School sebagai korespondensi kantor. Dia pikir saya hendak mendaftar sebagai mahasiswa, padahal jelas-jelas saya tulis pekerjaan saya wiraswasta. Belakangan saya diceritakan oleh Oya kalau sang pegawai tersebut ternyata bekerja sambil Facebook-an… padahal antriannya kan panjang. -_-!

Setelah itu kami foto, dan dicetaklah kartu Perpusnas kami. Hore… akhirnya selesai juga!😀 Nggak terlalu ribet sih. Berbeda sekali dengan apa yang kawan-kawan saya bilang. Dan biayanya…??

Ternyata GRATIS lho!!😀

Dan ke-ndeso-an kami pun berlanjut…

Setelah kami memiliki kartu anggota, sekarang saatnya membaca buku.

Saat saya tanya, “Mbak, kalau mau mencari buku berbahasa inggris di lantai berapa ya?”

Kemudian pegawai yang tadi menyuruh kami mendaftar itu menjawab, “Ke lantai dua aja dulu, Mas. Di sana nanti bisa lihat-lihat katalognya dulu.”

Lalu pergilah kami ke lantai dua. Oh iya, liftnya kecil ternyata. Oya agak takut saat berada dalam lift karena terlalu kecil. Mungkin dia agak takut ruang yang sempit. Di lantai lift yang kecil tersebut pun tertulis sebuah kata yaitu “JUMAT”. Maksudnya apa ya? Atau mungkin perusahaan pembuat lift tersebut bernama “JUMAT”?😆

Sampai di lantai dua yang kami lihat hanya komputer-komputer dan lemari-lemari kecil berisi database buku. Katalog online-nya seperti yang ada di toko buku, jadi nggak terlalu sulit bagi kami untuk mencarinya. Tapi yang jadi permasalahan kami nggak tau bagaimana prosedur untuk kami menemukan buku yang kami inginkan. Benar-benar ndeso nih… maklumlah ini pertama kalinya kami ke Perpusnas.😀

Setelah dapat judul buku yang kita inginkan dari katalog online, kemudian kami diharuskan mengisi Bon pengambilan buku. Di Bon itu nantinya akan kita tulis nomor panggilnya, judul buku, dan pengarangnya. Setelah Bon diisi, kemudian serahkan Bon tersebut kepada petugas yang ada di ruang katalog tersebut. Dia akan memberi tahukan kepada kita di mana kita harus mengambil buku tersebut.

Saran dari saya, sebaiknya sebelum ke Perpusnas kita cari dahulu buku yang hendak kita baca melalui katalog online-nya di internet, kemudian catat nomor panggilnya, judul buku, dan pengarangnya. Dengan begitu akan menghemat waktu kita untuk mendapatkan buku tersebut.

Setelah itu, pergilah ke tempat yang sudah dikatakan petugas katalog. Misal, sang petugas tersebut berkata 3-BLOK B. Maka kita harus pergi ke lantai 3 BLOK B. Sampai di sana kita akan bertemu dengan NPC yang akan… lho-lho?? kok jadi game?😆 Maksud saya kita akan bertemu dengan petugas buku di ruangan tersebut. Berikan Bon yang tadi sudah kita dapatkan, kemudian petugas tersebut akan mencarikannya. Setelah buku didapatkan, saatnya membaca!!😀

Oh iya, buku-buku tersebut hanya boleh kita baca di tempat, nggak boleh dibawa pulang. Kalau misalnya kita nggak sempat baca, bisa difotocopy di tempat. Biaya fotocopy perlembar tergantung umur sang buku. Misal buku terbitan dari tahun 1900 hingga 1919 perlembar fotocopynya dihargai seribu rupiah. Semakin muda umur buku, semakin murah biaya fotocopy perlembarnya. Yang paling murah adalah buku-buku terbitan sejak tahun 1980 hingga saat ini, yaitu seharga dua ratus lima puluh rupiah perlembarnya. Karena mahal, sebaiknya kita nggak mesti fotocopy banyak-banyak. Kecuali mungkin buku yang sudah sangat sulit untuk dicari.

Sebetulnya tadi itu saya hanya membantu Oya mencari bahan-bahan untuk skripsinya. Adapun buku-buku yang saya inginkan tidak ada satu pun di Perpusnas tersebut. Sayang sekali, dari satu juta lebih koleksi mereka, kok ya nggak ada satupun buku yang saya cari ada di sana.

Setelah selesai urusan kami di Perpusnas (dan berhubung tempatnya juga mau tutup), kami sholat di Masjid Baitul Ilmi yang terletak di belakang gedung Perpusnas. Jika lapar, di sana juga ada Mie Ayam Jamur seharga tujuh ribu rupiah yang rasanya lumayan enak lho!😀

Sepertinya itu saja cerita saya hari ini tentang Perpustakaan Nasional, mudah-mudahan tips dan cerita saya ini bisa berguna bagi yang mau berkunjung ke sana. Lumayan lho koleksi bukunya… buku kan lautan ilmu.

~Tio Alexander

CATATAN :

Alamat Perpusnas
Jalan Salemba Raya 28A, Jakarta 10430

Jam buka Perpusnas
Senin – Jumat : 8.30 – 15.30
Sabtu : 8.30 – 12.30

Nomor Telepon :
021-3154863
021-3154864
021-3154870

Faksimile : 021-3103554

Website : pnri.go.id

TAMBAHAN (lagi) :

Oh iya, sebelum menutup tulisan ini, ada salah satu kutipan yang hendak saya ambil dari Bapak Jusuf Kalla tentang Perpustakaan di Indonesia.

“Jam buka perpustakaan tidak fleksibel. Saya sudah minta kepada Kepala Perpustakaan Nasional agar bukanya jangan kayak kantor camat. Malah sesudah jam kantor juga.”

Disampaikan oleh JK dalam sambutannya ketika membuka seminar nasional ‘Sosialisasi pengembangan minat baca dan pembinaan perpustakaan nasional’ di Hotel Sahid, Jl Sudirman, Jakarta, tanggal 12 Juli 2007.

Saya baru ingat kalau di negara-negara maju ada banyak Perpustakaan yang buka 24 jam penuh. Mudah-mudahan negara ini bisa menirunya.🙂