Sebelum memulai tulisan ini terlebih dahulu saya akan menjawab pertanyaan dari banyak pembaca blog ini, kemanakah saya selama ini? Apa yang saya lakukan hingga tidak menulis dalam waktu yang cukup lama?

Beberapa pertanyaan tersebut saya dapatkan di email, Facebook, dan twitter saya. Memang tidak banyak, mengingat pengunjung blog ini paling sedikit hanya 1000 orang/hari. Namun hal itu cukup mengusik pikiran saya untuk segera menulis lagi untuk blog ini. Blog ini sudah menjadi bagian dari hidup saya, dan sungguh sulit untuk meninggalkannya.

Berpikir untuk meninggalkan dunia blog internet?

Awal mula pemikiran ini adalah karena terlalu banyak sesuatu dari dunia nyata dan internet yang membuat saya seolah tidak bisa membedakannya. Kalau dibilang kecanduan, ya nggak juga, wong saya pakai internet ini juga jarang-jarang. Dulu waktu jamannya saya kecanduan internet bahkan sempat online selama 36 jam tanpa tidur.

Apa yang tidak bisa dibedakan dari dunia nyata dan dunia maya adalah lingkungannya. Saat ini semuanya seperti terbalik. Mayoritas kawan saya lebih banyak terhubung di Internet. Baik itu kawan lama maupun kawan baru, semuanya terhubung dalam sebuah bentuk yang saat ini banyak disebut Sosial Media. Lantas kemana pertemanan dunia nyata saya??

Silaturahim memang tidak hanya bisa dilakukan di dunia nyata, tapi di dunia maya juga. Tapi perlu kita ingat juga kalau manusia adalah makhluk super sosial yang tidak akan bisa rasa sosialnya dipenuhi 100% hanya dengan social media. Perlu adanya ketemu dan ngobrol langsung entah itu sambil ngemil, ngopi, atau makan-makan. Pokoknya makhluk super sosial nggak akan pernah bisa dipisahkan dari pertemuan sosial.

Dan itulah pentingnya dunia nyata, saudara-saudara!🙂

Perjalanan Spiritual di Ciater

Istilahnya keren banget ya, ‘Perjalanan Spiritual’.😆 Tapi itulah yang kami rasakan saat iktikaf 10 hari terakhir Ramadhan. Ee… sebetulnya sih 8 hari terakhir, soalnya yang 2 hari masih di Jakarta.😛

Iktikafnya sendiri dilakukan di Masjid As Sa’adah, Ciater, Subang, Jawa Barat. Masjid Jami berkubah Biru yang didisain sesuai dengan perhitungan matematis Qur’an. Pemilik dan pengelolanya sendiri bernama Bapak Haji Monty yang juga memiliki penginapan Lembah Sarimas seluas 7 Hektar.

Masjid Kubah Biru, Ciater

Iktikaf itu artinya berdiam diri di Masjid. Iktikaf dilakukan nggak mesti bulan Ramadhan saja lho, bulan lain juga bisa, walaupun 10 hari terakhir Ramadhan adalah waktu-waktu terbaik melakukan iktikaf. Sebetulnya kalau di negara ini ada libur sebulan penuh selama Ramadhan, betapa nikmatnya bisa iktikaf selama sebulan penuh di masjid. Eh, kalau nggak salah waktu jaman orde baru kayanya liburannya sebulan penuh deh? Liburan sebulan penuh selama Ramadhan dihapus saat orde Gus Dur (JIL). Aneh ya, reformasi kok bukan membuat makin baik malah makin bobrok?

Sebetulnya iktikaf kemarin memang bukan iktikaf saya yang pertama kalinya, tapi itu adalah iktikaf pertama yang paling berkesan bagi hidup saya. Kok bisa?

Pertanyaan sebelum memulai Iktikaf

Sebelum kami memulai iktikaf, seperti biasa Pak Nurdin selaku guru ngaji kami di kampus akan memberikan pengarahan-pengarahan tentang tata cara iktikaf yang benar. Mulai dari niat, larangan keluar lingkungan masjid, dan apa saja yang harus dilakukan selama iktikaf. Tapi yang beda dari iktikaf Ramadhan kemarin adalah Pak Nurdin memberikan sesuatu yang membuat kami super bingung. Beliau berkata bahwa sepanjang kami meluruskan niat kami untuk menuju perubahan hidup kami dan melakukan iktikaf ini dengan baik, maka Allah akan membimbing kami untuk menemukan jawaban-jawaban dari semua pertanyaan hidup yang selama ini belum terjawab.

Kesannya kok berat banget ya iktikaf itu?

Ya nggak segitunya kok.😆 Yang jelas kami sempat bingung aja dengan pernyataan dari beliau tersebut.

Kebingungan melanda saya…😆

Awalnya kebingungan melanda saya. Sebetulnya apa sih pertanyaan-pertanyaan hidup saya?? Saya itu orangnya mudah stress dengan masalah yang datang, tapi juga mudah lupa dengan masalah tersebut. Jadinya kalau dipikirkan pertanyaan hidup saya apa, ya kalau ingat saja. Hahaha…😆

Karena bingung akhirnya saya putuskan untuk mengikuti iktikaf dengan sebaik-baiknya. Mengikuti semua kajian Islam, mulai dari kajian akhlak yang sederhana hingga kajian sains Qur’an yang cukup menguras pikiran. Sebelumnya saya sempat telpon keluarga saya dan pacar saya untuk tidak menghubungi saya selama iktikaf dan SMS kalau benar-benar penting saja, dan alhamdulillah mereka mengerti.

Dan satu persatu pertanyaan pun terjawab…

Setiap akan berlangsung kajian, saja selalu teringat kata-kata Pak Nurdin : “Nanti selama iktikaf berlangsung kalian akan menemukan berbagai jawaban dari semua pertanyaan yang kalian bingungkan selama ini.”

Saya pun berpegang pada kata-kata beliau tersebut. Karena saya pun percaya bahwa Allah Maha Pemberi Petunjuk. Nggak ada yang nggak mungkin bagi Allah. Allah pasti akan memberikan jawaban-Nya, meskipun saya melupakan pertanyaannya.

Dan benar saja, baru kajian pertama (kalau nggak salah tentang akhlak) Allah sudah menunjukkan Kebesarannya. Allahu Akbar! Salah satu pertanyaan dalam hidup saya pun terjawab. Saat itu rasanya Allah menyindir saya dengan keras pada kajian yang Pak Nurdin berikan. Namun nggak berhenti sampai di situ saja, Allah juga memberikan kunci bagaimana perubahan diri itu bisa terbentuk bagi saya. Seolah Allah memberikan jawaban-Nya secara spesifik dan detail beserta jawaban dan pemecahan masalahnya dari penjelasan yang Pak Nurdin terangkan. Istilah game-nya, Allah memberikan ‘walkthrough’ kepada kita supaya berjalan sesuai petunjuk dalam ‘walkthrough’ tersebut.

Jawaban-jawaban selanjutnya pun saya dapatkan dari berbagai kajian lainnya. Selain melalui Pak Nurdin, berbagai jawaban tersebut pun Allah berikan kepada saya melalui pengkaji Islam lainnya dan sesama peserta iktikaf.

Oh iya, saya nggak akan memberi tau pertanyaan dan jawaban apa yang saya dapatkan. Biarkan saya dan Allah yang tau. Lha wong itu masalah pribadi saya.😆

Testimoni tentang Allah

Ada satu hal yang menarik dalam iktikaf kali ini, yaitu tentang banyaknya orang yang bertestimoni tentang bagaimana Allah mengangkat kehidupan mereka, membebaskan mereka dari masalah yang sangat berat, dan menjadikan mereka manusia-manusia yang selalu mengingat dan memohon pertolongan hanya kepada Allah.

Dalam bagian ini akan saya ceritakan nasihat salah seorang dari mereka, beliau bernama Pak Adrian. Pengusaha muda ini adalah orang yang kerap kali menjadikan Allah sebagai tempat mengadu dan tempat memohon pertolongan. Sudah berkali-kali beliau dan keluarganya tertimpa masalah dan cobaan yang tidak mudah, namun dengan mudahnya Allah menyelesaikan masalahnya. Beliau berkata, “Allah itu lebih dekat daripada urat nadi leher kita, karena itu Allah pasti akan selalu ada dalam setiap apapun yang kita perbuat.”

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya”
Qur’an surah Qaaf (50) : 16

Pak Adrian juga mengajarkan kepada kami bagaimana seharusnya kami berdoa kepada Allah dengan benar. Selain adab berdoa yang sudah kita tau, yaitu dengan melembutkan suara dan tidak berputus asa. Berdoa kepada Allah juga harus secara spesifik. Contohnya begini, kalau kita berdoa kepada Allah : “Ya Allah berikanlah saya rezeki.” Pastinya Allah akan bertanya kepada kita untuk apa rezeki tersebut digunakan? Jadi berdoa yang baik adalah meminta kepada Allah dengan visi dan misi yang jelas. Allah nggak akan semudah itu mengabulkan doa kalau cara berdoa orang tersebut salah.

Ada orang yang kesal kepada Allah karena doanya tidak pernah dikabulkan, padahal doanya tidak pernah dikabulkan karena kesalahannya sendiri. Karena Allah tidak akan memberikan kepada kita sesuatu yang nggak jelas dan tidak kita butuhkan.

Jadi seperti apa doa yang benar? Yaitu yang sesuai antara visi dan misi doanya.

Misalnya visi doanya adalah : “Ya Allah berikanlah saya rezeki.”

Dan misi doanya adalah : “Jika Engkau mengabulkan, maka akan saya gunakan untuk menjalankan usaha yang halal berupa toko kelontong dan menyantuni anak yatim.”

Nah, dengan begitu insya Allah doa kita akan dikabulkan… dengan catatan kita harus berusaha untuk mendapatkan rezeki yang sudah kita minta tersebut. Allah nggak akan semudah itu memberikan rezeki kepada orang yang nggak mau berusaha, kan Allah Maha Adil.😀

Oh iya, yang unik dari Pak Adrian ini adalah kebiasaan beliau beriktikaf. Beliau selalu menyempatkan diri beriktikaf agar selalu berada di jalan Allah yang lurus. Nggak beda jauh dengan apa yang Pak Nurdin lakukan. Begitulah kebiasaan para pengusaha muslim yang selalu berada dalam naungan Allah. Semoga nantinya saya bisa mengikuti jejak mereka. Amin…🙂

Selalulah berprasangka baik kepada Allah

Ini adalah salah satu pelajaran berharga juga yang saya dapatkan dari iktikaf yang lalu. Yaitu tentang bagaimana kita harus menjaga hubungan baik kita kepada Allah, termasuk yang terpenting adalah berbaik sangka kepada Allah.

Manusia adalah makhluk yang selalu mengeluh. Nyaris nggak pernah luput seharipun manusia tanpa keluhan, bahkan saat tidur pun manusia bisa mengeluh. Sifat seringnya manusia mengeluh itulah yang menjadikan manusia mudah untuk dihasut setan agar selalu berprasangka buruk, dan apa jadinya jika manusia berprasangka buruk kepada Penciptanya? Coba kita perhatikan sama-sama hadits qudsi shahih berikut ini :

“Aku menuruti prasangkaan hamba-Ku kepada-Ku.”

Kalau kita perhatikan firman Allah dalam hadits qudsi tersebut, maka kita akan menemukan bahwa apa yang kita dapatkan itu sesuai dengan prasangkaan kita selama ini kepada Allah.

Sederhananya begini, misalnya si Budi berangkat dari rumah mau pergi ke sekolahnya. Sewaktu dia mau berangkat tiba-tiba motornya sedikit ngadat. Terus dalam hati dia berkata, “Aduh, sial nih gue hari ini.” Karena prasangkanya itu, maka seharian itu dia kena sial terus. Padahal kan cuma motornya aja yang ngadat, eh dia malah mengeneralisir kalau sepanjang hari itu dia akan kena sial. Dan itulah yang dia dapat. Kalau istilah kita disebut sugesti, dan mbah saya pernah berkata bahwa kita harus hati-hati dalam berucap karena ucapan kita bisa jadi doa.

Secara ilmu genetik Islam juga diterangkan bahwa setiap sel-sel tubuh kita ini bisa bekerja sesuai Sunatullah dan juga apa yang kita perintahkan. Kalau kita berpikir bahwa kita adalah orang yang sakit, maka tubuh kita juga akan menjadi sakit. Seperti yang sudah saya terangkan dalam artikel sebelumnya bahwa 90% penyakit berasal dari pikiran kita sendiri.

Karena itu berbaik sangkalah kepada Allah, karena itu jugalah salah satu kunci manusia agar dapat khusnul khatimah (meninggal dalam keadaan baik).

Dari Jabir dikatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Jangan sekali-kali salah seorang diantara kamu meninggal dunia melainkan dalam keadaan dia berbaik sangka kepada Allah Ta’ala.”

Kajian Sains Qur’an dari Kang Lesie

Selain kajian akhlaq yang menyentuh bathin, ada juga lho kajian sains Qur’an yang semakin menambah keyakinan kita bahwa Allah itu Maha Besar dan Penguasa Semesta Alam. Pembicaranya sendiri bernama… ee.. saya lupa nama aslinya, tapi biasa dipanggil Kang Lesie. Beliau adalah seorang ilmuwan dan pecinta alam yang berasal dari ITB Bandung. Pokoknya keren dan berat deh bahasannya.😀

Nah, itulah kisah saya tentang beberapa hikmah yang bisa saya dapatkan dalam iktikaf Ramadhan kemarin. Selain santapan bathin yang saya dan kawan-kawan dapatkan di sana, ada juga santapan iktikaf gratis 2 kali sehari dari Pak Monty. Yang pasti dijamin nyaman deh di sana. Udah tempatnya tenang, sepi dan jauh dari hiruk pikuk ibukota, nggak ada media dan hiburan yang bikin kita jauh dari Allah, udara malamnya yang sejuk juga bikin kami laper terus bawaannya. Jadi sepanjang kajian berlangsung kami biasanya sambil ngemil. Pulang iktikaf berat badan saya naik lho!!😆

Sebetulnya banyak banget yang saya dapatkan di iktikaf kemarin, namun sepertinya nggak mungkin saya ceritakan semuanya secara satu artikel. Insya Allah secara bertahap akan saya jelaskan dalam artikel-artikel selanjutnya. Itu juga saya sempat-sempatkan disaat banyaknya tugas kuliah yang menumpuk beberapa bulan belakangan ini.

Pak Nurdin (yang bersorban merah) dan Pak Monty (yang duduk di kursi roda) berfoto bersama dengan para peserta Iktikaf Ramadhan 1431 Hijriah dari GICI Business School

Kini saatnya merubah cara berpikir

Ada salah satu poin yang paling penting yang saya dapatkan saat iktikaf Ramadhan lalu, yaitu tentang pentingnya kita berpikir secara sederhana.

Mungkin berpikir secara sederhana adalah hal yang sangat sepele, namun kita harus tau bahwa terkadang sulit bagi manusia untuk berpikir secara sederhana. Kok bisa begitu? Karena setan selalu membuat manusia berpikir secara sebaliknya.

Setan itu selalu membuat manusia berpikir kalau hal-hal yang kita anggap kecil/sepele adalah besar/rumit, dan  begitupula sebaliknya. Karena itu nggak usah heran kalau kita sering menyepelekan masalah yang besar dan malah membesar-besarkan masalah yang seharusnya mudah untuk diselesaikan.

Saya jadi teringat dengan seorang kawan saya bernama Siti. Dia adalah manusia dewasa paling polos yang pernah saya temui di dunia ini. Namun itulah uniknya, kepolosan dan pemikirannya yang amat sederhana membuatnya selalu beruntung dan selalu berprasangka baik kepada Allah. Malahan beberapa kali kepolosannya telah menyelamatkan saya dan kawan-kawan saya dari ancaman bahaya.

Keuntungan lainnya dari berpikir secara sederhana adalah kita dapat langsung menemukan apa yang kita bingungkan. Maksudnya adalah jika kebanyakan orang selalu berpikir bertele-tele untuk dapat menemukan akar permasalahan, maka dengan berpikir secara sederhana maka otak kita akan bekerja lebih santai dalam menemukan akar permasalahan tersebut. Jadi kita nggak akan mudah terserang stres.

Hehehe… penjelasan saya bertele-tele ya? Ya maklumnya saya hanyalah orang biasa yang sedang berusaha belajar berpikir secara sederhana. Karena itu mari kita semua bersama-sama belajar untuk berpikir secara sederhana.

Pak Nurdin dan Pak Monty

Setiap ada kucing saya pasti langsung menggendongnya, maklum saya suka banget sama kucing. Dari kecil saya memelihara beberapa kucing. Kebetulan Pak Monty memiliki salah satu jenis “kucing mahal” peranakan Neko Jepang. Berikut fotonya waktu saya gendong.😀

Saya dan Kucing Neko milik Pak Monty

Oh iya, lain kali kita sambung lagi. Wassalam…😀

~Tio Alexander