You are currently browsing the tag archive for the ‘Hedonisme’ tag.

Beberapa jam ini HIV/AIDS banyak dibicarakan orang. Terlebih setelah adanya berita bahwa maho-maho (kaum homoseksual) internasional akan datang ke Indonesia untuk membuat festival filmnya. Salah seorang kawan saya, Sarah, meminta saya untuk menuliskan pandangan saya tentang HIV/AIDS tersebut. Apakah HIV/AIDS bisa disembuhkan atau tidak? Berikut pandangan saya tentang HIV/AIDS.

Baca entri selengkapnya »

Iklan

Gara-gara Duta Besar Indonesia Djafar Husein menyampaikan pesan khusus HUT Kemerdekaan RI ke 65 di stasiun televisi Srilanka, Rupavahini, Kedutaan Besar Kanada dan Amerika Serikat mengeluhkan perlakuan serupa tak mereka peroleh dari Rupavahini.

Baca entri selengkapnya »

Semalam pada saat saya mau tidur dan hendak menuliskan status penurup malam di Twitter, saya dikejutkan dengan beberapa tweet dari kawan-kawan saya yang memberitakan adanya kericuhan di Blowfish Club. Blowfish sendiri adalah salah satu tempat hiduran malam *ajep-ajep* yang cukup terkenal di kalangan dugemers.

Saat membaca tweet-tweet itu, saya pikir hal yang wajar di sebuah tempat kerlap-kerlip dunia hedonisme terdapat kericuhan. Paling-paling mereka mabuk, berebut perempuan, lalu bertengkar. Begitu yang saya lihat di film-film.

Tiba-tiba huruf-huruf di status tweet mereka menjadi memanas. Ada tembakan! Ada yang tertembak! Ada yang kejepit! Dan beberapa tweet kemudian muncullah tulisan yang kira-kira isinya adalah, “Sekelompok orang menyerang, kemudian mengepung mereka, cek-cok mulut, dan adu tembakan pun terjadi.” Seperti film-film gangster luar negeri ya? Tapi itu benar-benar terjadi! Dan akhirnya seseorang menuliskan sesuatu bahwa ia melihat 2 orang tergeletak di lobi Blowfish, salah seorang diantaranya berlumuran darah. Saat itu saya hanya bisa membayangkan keadaan yang terjadi di sana melalui tulisan-tulisan dari tweet beberapa pengunjung yang online melalui ponsel mereka. Herannya masih sempat-sempatnya mereka menulis status di saat keadaan genting seperti itu.

Oke, mungkin semua penasaran dengan keadaan di sana. Saya tak mungkin menampilkan printscreen status kawan-kawan saya yang hobi dugem itu di sini, tapi saya berhasil mendapatkan foto-fotonya dari seorang pengunjung yang menyebarkannya melalui twitter.

Sebelumnya saya berterima kasih sekali kepada pemilik foto ini karena telah mau membagi beritanya sebelum para petugas mengamankan tempat tersebut. Tentunya inilah foto-foto eksklusif TKP saat itu.

Sungguh mengerikan melihat sesosok mayat berlumuran darah.

Sebelum tulisan ini saya publish di blog ini, sebelumnya saya sudah mencoba membuat threadnya di kaskus guna mengumpulkan informasi. Dan dari beberapa informasi yang saya dapat, sepertinya penyerangan Blowfish terkait kejadian di malam sebelumnya (Jum’at), dimana ada seorang pemuda di bawah 17 tahun mencoba menerobos paksa Blowfish yang memang diperuntukkan untuk orang dewasa yang sudah memiliki KTP. Karena pemuda itu memaksa masuk, para bodyguard atau security Blowfish kemudian memukulinya hingga babak belur. Sang pemuda yang naas itu kemudian berkata bahwa ia adalah “anak orang penting” (mungkin semacam anak pejabat atau sejenisnya) dan berjanji akan menuntut balas. Kemudian terjadilah kejadian rusuh yang terjadi pada malam (04/04/2010) pukul satu dini hari tadi. Disinyalir pelaku penyerangan adalah orang bayaran, dan kini polisi masih mengejar mereka. Dari berita terbaru yang dirilis polisi, kedua korban kini sudah berada di RS Polri Kramat jati (deket rumah saya tuh), dan diberitakan seorang tewas dan seorangnya lagi dalam kondisi kritis.

Oke, ada update terbaru. (VERSI POLISI) Ternyata Polisi merilis berita bahwa kasus penyerangan semalam adalah perebutan lahan antar geng :

Ternyata Dua Geng Itu Rebutan ‘Lahan’

Ternyata penyerangan yang dilakukan belasan orang terhadap satpam Blowfish Kitchen and Bar, City Plaza, Wisma Mulia, Jakarta Selatan, Minggu dini hari karena rebutan ‘lahan’ menjadi security.

“Ternyata masalahnya hanya rebutan lahan,” ujar salah seorang polisi di lokasi, Minggu (4/4/2010).

Menurut informasi di lapangan, posisi keamanan saat ini dipegang oleh sebuah geng suku A (yang diserang), sedangkan geng suku F yang melakukan penyerangan.

Menurut saksi mata, segerombolan orang berpakaian safari dan casual memasuki restauran yang menyajikan makanan khas jepang itu dengan menumpang beberapa taksi. Mereka yang jumlahnya belasan langsung memasuki restauran dan menyerang satpam dengan brutal.

“Kejadiannya sekira pukul 00.00 WIB, begitu segerombolan penyerang turun dari taksi, meraka masuk per dua orang. Lampu mendadak mati 

dan langsung terjadi penyerangan itu,” ujar salah seorang saksi mata di lokasi kepada wartawan.

Lokasi kejadian sudah diberi garis polisi, sejumlah saksi saat ini sedang diperiksa di Mapolres Jakarta Selatan. Pantauan di lapangan, beberapa kaca terlihat pecah dan kondisi ruangan yang sangat berantakan.

Dikutip dari Okezone.com

Update terbaru versi Anton Medan (mantan preman yang kini menjadi ustadz) :

Perang Antargeng Dipicu Soal Perebutan Lahan

Anton Medan, mantan preman yang kini telah menjadi seorang kiai, menyatakan bahwa konflik atau pertikaian yang melibatkan dua geng di Klub Blowfish, Minggu (4/4/2010) sekitar pukul 01.45 WIB dilatarbelakangi soal perebutan lahan.

Namun lahan yang diperebutkan itu, ungkap Anton, bukanlah lahan yang Blowfish melainkan lahan yang berada di lokasi lain.

“Keributan ini adalah yang kedua kalinya. Pertemuan mereka yang pertama tidak menemukan kata sepakat. Lalu, keributan yang terjadi tadi malam adalah pertemuan yang kedua,” ungkap Anton setelah mendapat penjelasan dari kedua belah pihak, termasuk dari Hercules.

Saat pertemuan yang kedua malam tadi, lanjut Anton, salah satu kelompok mengikut sertakan orang atau kelompok lain, di antaranya dari NTT.

“Karena tak ada kata sepakat, akhirnya bentrok pecah,” kata dia. Dalam aksi itu, terdapat kelompok atau geng yang membawa serta senjata tajam, di antaranya parang, pisau, termasuk senjata api.

Namun ketika Anton menanyakan penggunaan senjata api tersebut ke Hercules?Hercules membantah kalo senjata api itu didatangkan pihaknya. “Hercules tak tahu menahu soal senjata api itu. Dia katakan, Pak Kiai bisa tahu kalau yang gunakan senjata tajam siapa saja,” tandas Anton menirukan ucapan Hercules.

Dikutip dari TribunNews.com

Sekian Tio Alexander melaporkan dari pengamatan dan hasil wawancara beberapa orang yang mengklaim dirinya terlibat langsung di TKP. Nanti kalau ada berita terbaru tentang masalah ini lagi, insya Allah akan saya update.

Yah, saya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala kepada mereka yang memiliki kehidupan hedonisme. Alhamdulillah seumur-umur saya belum pernah menginjakkan kaki di tempat-tempat yang dilaknat para malaikat tersebut, dan tidak akan pernah sekalipun!

Buat apa mencintai dunia kalau sebenarnya mencintai dunia malah menjerumuskan kita?

Banyak diantara kita yang kurang menyadari akan keamanan pergaulan anak di masa kini. Pergaulan tidak hanya antar personal, tetapi juga pergaulan anak dengan apa yang dia hadapi sepanjang dia beraktivitas sehari-harinya. Misalnya pergaulan anak dengan televisi. Dan inilah yang akan menjadi bahasan kita kali ini.

Penyiaran televisi pertama kali ada di dunia pada peradaban kita ini sudah semenjak tahun 1920. Sejak itu pula hiburan yang tadinya hanya bisa didapatkan dengan pergi ke tempat yang menawarkan hiburan pertunjukan menjadi berubah drastis. Orang tak perlu repot-repot pergi untuk mencarinya, cukup menyalakan televisi dan duduk tenang menontonnya. Dan mulai saat itulah dunia berubah drastis.

Penyiaran televisi yang mayoritas menawarkan hiburan telah merubah pola pikir banyak masyarakat dunia. Dahulu, orang mencari hiburan dengan banyak cara, mulai dari membaca buku, berkebun, belajar memasak, memancing, atau mempelajari banyak sekali keterampilan lainnya. Namun apa yang orang lakukan saat ini? Hanya menonton televisi? Ya, patut diakui kalau mayoritas warga dunia yang sudah memiliki televisi saat ini lebih banyak menghabiskan waktunya di depan televisi. Seolah-olah hiburan bagi hidupnya hanya ada di televisi semua.

Kemudian apa kontribusi gaya hidup “televisi” bagi anak-anak? Ya, harus diakui televisi juga menambah wawasan, mungkin itu didapat dari acara pengetahuan atau bahkan acara berita lainnya. Tapi tidak untuk masa sekarang ini! Saat ini televisi lebih banyak menjadikan dirinya sebagai agen hiburan, bahkan sebagian besar murni agen hiburan. Dan yang disesalkan adalah banyaknya hiburan yang tidak mendidik, terutama sekali bagi anak-anak.

Televisi Sebagai Agen Hiburan yang Mengikis Aqidah

Bukan rahasia lagi kalau saat ini stasiun televisi hanya mementingkan rating dan keuntungan semata. Kalau kita lihat saat ini, demi mencari keuntungan mereka rela membuat program-program televisi yang rata-rata hanya mengumbar kesenangan semata. Gaya hidup hedonisme, atau yang lebih kita kenal dengan sebutan hura-hura kini malah menjadi trend di kalangan anak muda, dan dampaknya ke anak-anak adalah mereka mengikuti trend yang seharusnya tidak mereka contoh. Kalau sudah begini, stasiun televisi tidak akan mau disalahkan dan malah berdalih kepada hak-hak penyiaran mereka. Lalu adakah hak-hak keamanan untuk penonton yang mereka penuhi?

Jika kita telaah satu persatu acara televisi saat ini, mulai dari acara sandiwara (sinetron, FTV, Film Layar Lebar), acara musik, berita, dan hiburan lainnya, maka dapat dikatakan semuanya serba penuh dengan sisipan-sisipan konten yang tidak mendidik bagi anak-anak. Oke lah kalau mereka bilang ada pesan moralnya, tapi apakah anak-anak dapat menangkap pesan moral tanpa bimbingan? Sedangkan saat ini program televisi lebih mengutamakan hiburan daripada pesan moralnya.

Pengaruh Sinetron Bagi Penontonnya

Kita ambil salah satu program televisi yang sedang marak digemari di indonesia, yaitu Sinetron. Program televisi yang satu ini telah menyedot perhatian puluhan juta pemirsa televisi di seluruh Indonesia, mulai dari balita hingga lansia. Acaranya sendiri banyak yang mengisahkan kehidupan sehari-hari sebuah keluarga ataupun beberapa keluarga yang saling berhubungan, entah itu berhubungan dengan baik, atau malah penuh konflik. Mungkin kita menganggap sinetron adalah program biasa yang tidak berbahaya, tapi justru di situlah letak bahayanya. banyak orang yang tidak menyadarinya.

Lalu apa sajakah pengaruh sinetron bagi kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya anak-anak? Yang jelas banyak sekali. Kita tau bahwa sebagian besar rakyat Indonesia masih hidup dalam keadaan yang serba sulit. Kebutuhan pokok mahal, inflasi tinggi, dan hidup pun semakin sulit. Tapi sinetron malah memberikan angan-angan seperti gaya kehidupan yang serba mewah dan mudah, padahal kalau saja para penontonnya tau kalau kehidupan artinya juga masih banyak yang susah. Sehingga banyak penontonnya yang terpengaruh untuk mencontoh gaya hidup mewah seperti itu, dan untuk mendapatkannya mereka bahkan rela untuk melakukan apa saja demi merealisasikan gaya hidup yang sama dengan yang mereka tonton di sinetron.

Terlepas dari pengaruh gaya hidup tadi, sinetron juga telah membuat watak para penontonnya menjadi keras dengan mencontoh para pemain yang akting terlalu berlebihan. Sebut saja akting marah yang terlalu, penyiksaan, dendam tak berkesudahan, dan masih banyak lagi. Melihat pemeran protagonis teraniaya pun sang penonton ikut berempati, sehingga terbawa kepada kehidupan nyata mereka. Mereka menjadi sulit mengendalikan emosi, mudah marah, dan arogan, bahkan arogan terhadap diri mereka sendiri.

Pengikisan aqidah yang terlihat sudah sangat besar, dan pengaruhnya yang paling terlihat kepada anak-anak adalah dewasa terlalu dini, kerasnya watak, sulit berkonsentrasi, tumbuhnya jiwa pemberontak, berkhayal untuk hidup serba mewah, dan masih banyak lagi. Yang jelas anak-anak terpengaruh menjadi anak yang hanya memikirkan diri sendiri dan tidak lagi peka terhadap lingkungannya.

Membaca buku lebih menyenangkan dibanding menonton televisi

Hasil survey di beberapa negara maju sudah membuktikannya. Ternyata anak-anak yang menghabiskan waktu di depan televisi lebih rendah tingkat kecerdasannya (IQ) dibandingkan dengan tingkat kecerdasan anak-anak yang mengabiskan waktunya dengan membaca dan melakukan kegiatan yang mengasah keterampilan. Tidak hanya kecerdasan, kestabilan emosi (EQ)  mereka juga berbeda, anak yang tidak pernah menonton televisi menjadi anak yang lebih bijaksana dalam menghadapi banyak masalah hidupnya daripada anak-anak yang menonton televisi. Dan yang terpenting adalah Aqidah (SQ) mereka, anak yang menonton televisi cenderung lupa beribadah dan mengingat Allah daripada anak-anak yang membaca buku. Dan inilah yang sudah seharusnya menjadi perhatian kita semua, karena hal ini telah mengancam kelangsungan masa depan generasi kita semua. Bayangkan apabila di masa depan nanti negeri ini dipimpin oleh generasi yang hanya memikirkan diri sendiri dan tidak lagi peka terhadap orang lain, mau jadi apa masa depan negeri ini?

Penulis : Tio Alexander™

Ulil Abshar DholalahUlil Abshar Abdalah Dholalah, syaitan nirrajim dedengkot Jaringan Iblis Laknatullah

JILForum Tabayyun dan Debat Forum Kiai Muda (FKM) NU dengan Ulil berlangsung seru. Tak kurang dari 500 orang hadir dalam kesempatan itu. Mereka datang dari Jember, Banyuwangi, Situbondo, Pasuruan dan Probolinggo. Seolah-olah forum itu menjadi tempat penumpahan uneg-uneg warga NU terhadap gagasan dan pemikiran Ulil mengenai Islam liberal yang diusungnya selama ini.

Debat yang dimoderatori Kiai Abdurrahman Navis itu mengangkat dua pemikirian Ulil yang sangat kontroversial, yaitu soal pluralisme agama dan kesakralan Al-Qur’an. FKM diberi kesempatan pertama untuk menyampaikan “uneg-uneg” terkait dengan pemikiran Ulil.

Peserta menanyakan hal urgen terkait masalah prinsip beragama. Diantaranya Masalah pluralisme agama, semua agama sama benar.

Dalam acara ini, nampak peserta sangat rapi menyiapkan berbagai bahan baik ucapan, tulisan dan pernyataan Ulil menyangkut paham liberal selama ini.

Ketika terpojok, Ulil malah berlindung kepada Gus Dur. Ia mengaku pemikirannya sudah dikembangkan oleh Gus Dur. “Sebenarnya pemikiran soal pluralisme sudah diungkap oleh Gus Dur, kenapa baru sekarang ramai,” ungkap Ulil dikutip situs http://www.nu.or.id.

Gus A’ab, menyayangkan tulisan-tulisan Ulil soal pluralisme agama selama ini. Pasalnya, Ulil telah menyamaratakan semua agama. Menurut Gus A’ab, pemikirian Ulil yang menyatakan bahwa semua agama itu benar adalah salah besar. Yang betul, katanya, orang Islam wajib meyakini bahwa agama Islamlah yang benar, walaupun keyakinan itu tidak boleh sampai menghilangkan toleransi terhadap kebenaran agama lain sesuai keyakinan penganutnya.

“Jadi jangan pernah mengagggap semua agama benar. Kita harus tetap meyakini Islam itu yang benar tanpa harus menafikan kebenaran agama lain sesuai yang diyakini pemeluknya,” tukasnya Gus A’ab.

Mendapat serangan itu, Ulil menghindar. “Tidak benar saya mengatakan semua agama itu benar. Yang sama itu hanya agama Yahudi, Nasrani dan Islam. Karena, tiga agama itu minimal mempunyai landasan teoleogi yang sama,” jelas Ulil.

Debat semakin seru, karena pengunjung banyak yang berteriak ketika Ulil lagi-lagi menghidari pernyataannya sendiri di berbagai tulisannya. Padahal, FKM membawa segepok foto copy tulisan Ulil yang berisi pemikiran kontroversial itu.

Forum Kiai Muda (FKM) NU menilai paham JIL cenderung membatalkan otoritas para ulama salaf. Namun mengajak menghadapi JIL dengan dialog

Menurut Gus A’ab, pemikiran-pemikiran yang dikembangkan oleh Jaringan Islam Liberal (JIL) tidak bisa dikaitkan dengan NU, meskipun beberapa orang dari kelompok ini adalah anak NU, bahkan menantu salah seorang tokoh NU.

Ia menyatakan, keberadaan JIL sangat merisaukan warga NU, karena salah seorang pentolannya, Ulil Abshar-Abdalla adalah warga NU.

Di bawah ini pernyataan lengkap Forum Kiai Muda NU. Kesimpulan Forum Tabayyun dan Dialog Terbuka Antara Jaringan Islam Liberal dan Forum Kiai Muda (FKM) NU Jawa Timur di PP Bumi Sholawat, Tulangan, Sidoarjo, Jawa Timur. Ahad, 11 Oktober 2009 :

Dewasa ini sedang berlangsung perang terbuka dalam pemikiran (ghazwul fikri) pada tataran global. Melalui sejumlah kampanye dan agitasi pemikiran, seperti perang melawan terorisme dan promosi ide-ide liberalisme politik dan ekonomi neo-liberal, Amerika Serikat sebagai kekuatan dunia berupaya menjinakkan ancaman kelompok-kelompok radikal, memanas-manasi pertikaian di antara kelompok radikal dan moderat dalam tubuh umat Islam, serta menyeret umat Islam dan bangsa ini ikut menjadi proyek liberal mereka.

Dengan memperhatikan perkembangan global tersebut, dan terdorong oleh kepentingan membela tradisi Ahlussunnah Waljamaah yang dianut oleh warga NU sebagai bagian dari identitas dan jati diri bangsa ini, Forum Kiai Muda Jawa Timur memberikan kesimpulan tentang hasil-hasil dialog dengan Jaringan Islam Liberal (JIL) sebagai berikut:

  1. Sdr. Ulil Abshar Abdalla dengan JIL-nya tidak memiliki landasan teori yang sistematis dan argumentasi yang kuat. Pemikiran mereka lebih banyak berupa kutipan-kutipan ide-ide yang dicomot dari sana-sini, dan terkesan hanya sebagai pemikiran asal-asalan belaka (plagiator), yang tergantung musim dan waktu (zhuruf), dan pesan sponsor yang tidak berakar dalam tradisi berpikir masyarakat bangsa ini.
  2. Pada dasarnya pemikiran-pemikiran JIL bertujuan untuk membongkar kemapanan beragama dan bertradisi kaum Nahdliyin. Cara-cara membongkar kemapanan itu dilakukan dengan tiga cara: (1) Liberalisasi dalam bidang akidah; (2) Liberalisasi dalam bidang pemahaman al-Quran; dan, (3) Liberalisasi dalam bidang syariat dan akhlak.
  3. Liberalisasi dalam bidang akidah yang diajarkan JIL, misalnya bahwa semua agama sama, dan tentang pluralisme, bertentangan dengan akidah Islam Ahlussunnah Waljamaah. Warga NU meyakini agama Islam sebagai agama yang paling benar, dengan tidak menafikan hubungan yang baik dengan penganut agama lainnya yang memandang agama mereka juga benar menurut mereka. Sementara ajaran pluralisme yang dimaksud JIL berlainan dengan pandangan ukhuwah wathaniyah yang dipegang NU yang mengokohkan solidaritas dengan saudara-saudara sebangsa. NU juga tidak menaruh toleransi terhadap pandangan-pandangan imperialis neo-liberalisme Amerika yang berkedok “pluralisme dan toleransi agama”.
  4. Liberalisasi dalam bidang pemahaman al-Quran yang diajarkan JIL, misalnya al-Quran adalah produk budaya dan keotentikannya diragukan, tentu berseberangan dengan pandangan mayoritas umat Islam yang meyakini al-Quran itu firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad dan terjaga keasliannya.
  5. Liberalisasi dalam bidang syari’ah dan akhlak di mana JIL mengatakan bahwa hukum Tuhan itu tidak ada, jelas bertolak belakang dengan ajaran Al Quran dan Sunnah yang mengandung ketentuan hukum bagi umat Islam. JIL juga mengabaikan sikap-sikap tawadhu’ dan akhlaqul karimah kepada para ulama dan kiai. JIL juga tidak menghargai tradisi pesantren sebagai modal sosial bangsa ini dalam mensejahterakan bangsa dan memperkuat Pancasila dan NKRI.
  6. Ide-ide liberalisasi, kebebasan dan hak asasi manusia (HAM) yang diangkat oleh kelompok JIL dalam konteks NU dan pesantren tidak bisa dilepaskan dari Neo-Liberalisme yang berasal dari dunia kapitalisme, yang menghendaki agar para kiai dan komunitas pesantren tidak ikut campur dalam menggerakkan tradisinya sebagai kritik dan pembebasan dari penjajahan dan kerakusan kaum kapitalis yang menjarah sumber-sumber daya alam bangsa kita.
  7. JIL cenderung membatalkan otoritas para ulama salaf dan menanamkan ketidakpercayaan kepada mereka, sementara di sisi lain mereka mengagumi pemikiran orientalis Barat dan murid-muridnya, seperti Huston Smith, John Shelby Spong, Nasr Hamid Abu Zaid, dan sebagainya.

Menghadapi pemikiran-pemikiran JIL tidak dilawan dengan amuk-amuk dan cara-cara kekerasan, tapi harus melalui pendekatan yang strategis dan taktis, dengan dialog-dialog dan pencerahan.

Forum Kiai Muda Jawa Timur,
Tulangan, Sidoarjo, 11 Oktober 2009

Sumber : VOA-Islam

jil-frontLihat juga : DAFTAR NAMA TOKOH-TOKOH JIL

JIL

Tokoh-tokoh JIL

Kepala Badan Litbang Depag, Prof. Dr. Atho Mudzhar, menegaskan bahwa liberalisasi pemikiran Islam berbeda dengan pembaharuan pemikiran Islam.

”Dalam pembaharuan, yang ada adalah reformulasi pemikiran Islam terhadap teks-teks suci (nash) yang ada. Sedangkan dalam liberalisasi terkandung makna keberanjakan atau departure dari teks suci (nash). Dengan kata lain, dalam liberalisme ada unsur meninggalkan nash, dan inilah yang ditentang Majelis Ulama Indonesia,” tegas Atho dalam makalahnya pada seminar internasional Tajdid Pemikiran Islam bertajuk ‘Ahlus sunnah wal jamaah di era liberalisasi pemikiran Islam’ di Jakarta, Kamis (10/9)

Dijelaskan Atho, menurut Hartono Ahmad Jaiz, di antara pendapat-pendapat kaum pendukung Islam liberal adalah bahwa Alquran adalah teks dan harus dikaji dengan hermeneutika.

”Menurut mereka, kitab-kitab tafsir klasik itu tidak diperlukan lagi. Juga seperti mahar dalam perkawinan boleh dibayar oleh suami atau istri serta mereka berpendapat bahwa pernikahan untuk jangka waktu tertentu boleh hukumnya,” tegas Atho.

”Jika pendapat-pendapat tersebut dicermati, maka akan nampak sejumlah kesimpangsiuran cara berpikir JIL dan kecenderungan melonggar-longgarkan aturan agama. Seperti hendak melihatnya seperti aturan buatan manusia,” tambah dia.

Diakui Atho bahwa sebagian kelompok masyarakat Islam menganggap bahwa pemikiran JIL dianggap dapat merusak akidah umat Islam. Karenanya, menurut Atho, mereka menentang keberadaan JIL.

Atho juga menilai bahwa Islam Liberal ini berkembang melalui media massa. ”Surat kabar utama yang menjadi corong pemikiran Islam Liberal adalah Jawa Pos yang terbit di Surabaya, Tempo di Jakarta dan Radio Kantor Berita 68 H, Utan Kayu Jakarta. Melalui media tersebut disebarkan gagasan-gagasan dan penafsiran liberal,” tandas Atho.

Lebih lanjut Atho berharap bahwa agar perdebatan pemikiran lebih sehat, sebaiknya JIL merumuskan kerangka berpikirnya secara metodologis.

”Sebaiknya mereka yang mengumandangkan pembaharuan atau liberalisasi atau apapun namanya, merumuskan secara cermat dan menyeluruh kerangka berpikir metodologis mereka. Sehingga tidak sekadar menimbulkan kontroversi yang sesungguhnhya sia-sia dan tidak berujung,” kata Atho.

Sumber : Republika

jil-front

Inilah Daftar 50 TOKOH JIL INDONESIA

Judul Buku : 50 Tokoh Islam Liberal Indonesia : Pengusung Ide Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme
Penulis :
Budi Handrianto
Halaman : 295 + xxvi paperback (softcover)
Cetakan 1 : Juni 2007
Penerbit : Hujjah Press (kelompok Penerbit Al Kaut

A. Para Pelopor
1. Abdul Mukti Ali
2. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
3. Ahmad Wahib
4. Djohan Effendi
5. Harun Nasution
6. M. Dawam Raharjo
7. Munawir Sjadzali
8. Nurcholish Madjid

B. Para Senior
9. Abdul Munir Mulkhan
10.  Ahmad Syafi’i Ma’arif
11. Alwi Abdurrahman Shihab
12. Azyumardi Azra
13. Goenawan Mohammad
14. Jalaluddin Rahmat
15. Kautsar Azhari Noer
16. Komaruddin Hidayat
17. M. Amin Abdullah
18. M. Syafi’i Anwar
19. Masdar F. Mas’udi
20. Moeslim Abdurrahman
21. Nasaruddin Umar
22. Said Aqiel Siradj
23. Zainun Kamal

C. Para Penerus “Perjuangan”
24. Abd A’la
25. Abdul Moqsith Ghazali
26. Ahmad Fuad Fanani
27. Ahmad Gaus AF
28. Ahmad Sahal
29. Bahtiar Effendy
30. Budhy Munawar-Rahman
31. Denny JA
32. Fathimah Usman
33. Hamid Basyaib
34. Husein Muhammad
35. Ihsan Ali Fauzi
36. M. Jadul Maula
37. M. Luthfie Assyaukanie
38. Muhammad Ali
39. Mun’im A. Sirry
40. Nong Darol Mahmada
41. Rizal Malarangeng
42. Saiful Mujani
43. Siti Musdah Mulia
44. Sukidi
45. Sumanto al-Qurthuby
46. Syamsu Rizal Panggabean
47. Taufik Adnan Amal
48. Ulil Abshar-Abdalla
49. Zuhairi Misrawi
50. Zuly Qodir

JIL NERAKAHati-Hati JIL membuat anda sesat!

Kamus :

Hedonisme : pandangan yg menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sbg tujuan utama dl hidup
Sekularisme :
paham atau pandangan yg berpendirian bahwa moralitas tidak perlu didasarkan pd ajaran agama
Liberalisme :
usaha perjuangan menuju kebebasan yang sebebas-bebasnya

Menu

Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email. GRATIS!

Bergabunglah dengan 610 pengikut lainnya

Rating teratas

RIWAYAT BLOG

dilarang keras copy paste kecuali menyertakan sumbernya!

Download Qur’an Digital

free counters